Drone Syahid Ubah Tatanan Perang, Negara Adidaya Ketar-ketir

- Jurnalis

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tiga pemuda penggagas awal purwarupa drone militer Iran beserta para teknisi saat berada di bengkel rahasia Universitas Isfahan pada era 1980-an. Inovasi teknologi yang memanfaatkan material sederhana seperti kantong infus ini kini menjadi Drone Shahed 136 (Geranium 2), senjata taktis berbiaya murah yang sukses mengubah konstelasi kekuatan militer global.

Tiga pemuda penggagas awal purwarupa drone militer Iran beserta para teknisi saat berada di bengkel rahasia Universitas Isfahan pada era 1980-an. Inovasi teknologi yang memanfaatkan material sederhana seperti kantong infus ini kini menjadi Drone Shahed 136 (Geranium 2), senjata taktis berbiaya murah yang sukses mengubah konstelasi kekuatan militer global.

  • Drone Shahed 136 asal Iran berhasil mengubah paradigma peperangan modern dari ketergantungan pesawat mahal ke armada tanpa awak berbiaya murah.
  • ​Inovasi ini bermula dari bengkel kecil di Universitas Isfahan pada era 1980-an oleh tiga pemuda bermodalkan material sederhana seperti kantong infus.
  • ​Kemandirian teknologi Iran di tengah sanksi internasional memberi pelajaran penting bagi kemandirian lokal, sebuah isu yang relevan untuk dikaji oleh Pemkot Bekasi.

Dominasi teknologi militer negara-negara Barat kini mendapat tantangan serius menyusul efektivitas Drone Shahed 136 buatan Iran di berbagai medan konflik global.

Senjata taktis yang kerap dijuluki “drone syahid” ini sukses meruntuhkan hegemoni pesawat tempur berbiaya miliaran dolar melalui strategi serangan swarm (kawanan) berbiaya sangat rendah.

Pergeseran paradigma militer yang drastis ini turut memantik diskusi di kalangan pengamat Kota Bekasi mengenai pentingnya membangun kemandirian inovasi di tengah keterbatasan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Bagaimana Awal Mula Drone Syahid Mengubah Perimbangan Militer?

​Kehadiran armada pesawat tanpa awak berbiaya rendah secara langsung mementahkan logika militer konvensional yang sangat bergantung pada jet tempur berpilot canggih.

Pesawat konvensional tidak hanya memakan biaya operasional dan amunisi yang mahal, tetapi juga mempertaruhkan nyawa pilot yang proses pelatihannya memakan waktu bertahun-tahun.

​”Sejak Iran sukses mengerahkan burung-burung ‘ababil’nya membom markas-markas militer AS dan Israel, dunia terperangah,” kata Penulis Buku, Syahrul E Dasopang kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Sabtu (18/07/2026).

​Operasional Drone Shahed 136 dinilai sangat praktis karena mampu mencari target secara presisi dan otomatis (auto-terbang) tanpa risiko kehilangan personel pengendali.

Kondisi ini membuat keberadaan alat tempur berat nan mahal, seperti pesawat canggih dan kapal induk—termasuk kapal Garibaldi dari Italia yang ditawarkan ke Indonesia—semakin kehilangan relevansinya di era peperangan robotik saat ini.

​Bagaimana Sejarah Penemuan Drone Shahed 136 di Iran?

​Inovasi mematikan ini ternyata lahir dari keputusasaan dan keterbatasan akibat embargo ketat negara Barat pasca-Revolusi Iran.

Saat teknisi Amerika Serikat ditarik mundur dan jet tempur F-14 Tomcat andalan mereka berisiko menjadi besi tua, Iran terpaksa mencari jalan keluar secara mandiri.

​Sejarah mencatat bahwa purwarupa drone ini bermula di sebuah bengkel sederhana. Berikut fakta sejarah kelahiran Drone Shahed:

  • ​Digagas pada tahun 1980-an di Universitas Isfahan oleh tiga pemuda: Farshid (pilot sipil), Saeed (mahasiswa fisika), dan Masoud Zahedi (pengrajin emas).
  • ​Dirakit menggunakan material seadanya seperti potongan plastik, papan, baling-baling manual, hingga kantong infus rumah sakit sebagai tangki bahan bakar.
  • ​Purwarupa awal yang sempat ditertawakan para jenderal ini nyatanya sukses terbang sejauh 40 kilometer menembus wilayah musuh di Irak untuk membawa foto pengintaian yang sangat jernih.

​Apa Pelajaran Penting dari Kemandirian Teknologi Ini?

​Logika perang modern kini telah berbalik; bukan lagi tentang satu rudal akurat seharga jutaan dolar, melainkan ratusan drone seharga puluhan ribu dolar yang membanjiri dan merusak radar lawan.

Transformasi dari bengkel mahasiswa ke Batalion Thunder hingga melahirkan Shahed-136 membuktikan bahwa sanksi dan embargo justru bisa menjadi katalisator inovasi.

​Bagi jajaran Pemkot Bekasi maupun Pemkab Bekasi, fenomena global ini memberikan sebuah refleksi strategis mengenai tata kelola sumber daya.

Pembatasan akses dan anggaran seharusnya tidak mematikan kreativitas pelayanan publik maupun pengembangan smart city, melainkan memacu kolaborasi warga lokal untuk menciptakan solusi mandiri yang murah namun berdampak masif.

Sejarah Drone Shahed 136 membuktikan bahwa kemandirian yang lahir dari tekanan mampu mengalahkan ketergantungan pada teknologi mahal.

Ini bukan lagi sekadar perang senjata api, melainkan perang efisiensi ekonomi yang mengubah perhitungan logistik global.

​Bagaimana pendapat Anda tentang perkembangan teknologi militer murah yang mengalahkan mesin perang bernilai fantastis ini?

Sampaikan opini Anda di kolom komentar, bagikan artikel ini ke rekan-rekan Anda, dan ikuti terus analisis tajam seputar isu strategis internasional hingga lokal hanya di RakyatBekasi.Com.


Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sejarah Jalan Prof M Yamin: Sang Arsitek Sumpah Pemuda
PM Anwar Ungkap Dana Pensiun Malaysia Bobol Rp880 Miliar Akibat Ulah Gibran
Sejarah Jalan KH Wahid Hasyim: Menteri Agama Pertama RI
Sejarah Jalan H Agus Salim: Diplomat Melarat Perintis Negara Kesatuan Republik Indonesia
Sejarah Jalan Cut Meutia: Srikandi Aceh Penantang Penjajah
Suhu Ekstrem Eropa Renggut 14.000 Nyawa, Jerman Terparah
Sejarah Jalan Cut Nyak Dhien: Singa Betina Perang Aceh
Sejarah Jalan Teuku Umar: Taktik Kuda Troya di Perang Aceh
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:47 WIB

Drone Syahid Ubah Tatanan Perang, Negara Adidaya Ketar-ketir

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:24 WIB

Sejarah Jalan Prof M Yamin: Sang Arsitek Sumpah Pemuda

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:55 WIB

PM Anwar Ungkap Dana Pensiun Malaysia Bobol Rp880 Miliar Akibat Ulah Gibran

Jumat, 17 Juli 2026 - 03:47 WIB

Sejarah Jalan KH Wahid Hasyim: Menteri Agama Pertama RI

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:19 WIB

Sejarah Jalan H Agus Salim: Diplomat Melarat Perintis Negara Kesatuan Republik Indonesia

Berita Terbaru

ARSITEK BANGSA: Suasana lalu lintas dan pepohonan rindang di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat, yang mengelilingi Jalan Prof. M. Yamin. Nama jalan bergengsi ini diabadikan untuk menghormati Pahlawan Nasional Prof. Mr. Mohammad Yamin, tokoh intelektual serbabisa yang merumuskan ikrar Sumpah Pemuda 1928, pencetus dasar awal Pancasila, sekaligus pelopor sistem hukum uji materi di Indonesia. (Foto: Ilustrasi/RakyatBekasi.com)

Ekstra

Sejarah Jalan Prof M Yamin: Sang Arsitek Sumpah Pemuda

Sabtu, 18 Jul 2026 - 13:24 WIB

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x