Poin Utama:
- Ketegasan taktis Iran di Selat Hormuz (lebar 33 km) berbanding terbalik dengan lemahnya dominasi maritim teritorial Indonesia di kawasan Selat Malaka.
- Jarak daratan perbatasan Kota Batam (Indonesia) dan Singapura yang hanya berkisar 20 km memicu potensi ancaman perbatasan akibat masifnya reklamasi pesisir Singapura.
- Konsolidasi politik di Tanah Air masih didominasi polarisasi faksi dan golongan menjelang akhir paruh pertama 2026, melemahkan fokus pada ketahanan nasional RI.
Perbedaan mencolok terlihat antara ketegasan tata kelola geopolitik Iran di kawasan Timur Tengah dan rapuhnya kebijakan maritim Indonesia di Selat Malaka.
Saat otoritas Iran sukses memanfaatkan momentum domestik demi memperkuat kendali mutlak atas Selat Hormuz, elite politik Indonesia dinilai masih berkutat pada bagi-bagi kekuasaan semata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi timpang ini memicu kekhawatiran serius terkait potensi tergerusnya kedaulatan teritorial RI, khususnya di wilayah perbatasan strategis perairan Batam dan Singapura.
Bagaimana Strategi Konsolidasi Geopolitik Iran di Selat Hormuz?
Iran berhasil menjadikan momentum domestiknya sebagai instrumen kekuatan untuk menggalang dukungan internasional sekaligus memperkuat garis pertahanan laut mereka.
Langkah taktis yang terstruktur ini secara langsung meroketkan reputasi serta bobot geopolitik Iran di hadapan komunitas global.
”Rupanya jenazah Imam Khamenei bukan tanpa maksud ditunda pemakamannya. Rupanya ada tujuan yang jauh lebih besar,” kata Syahrul E Dasopang kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Minggu (05/07/2026).
Ketahanan negara tersebut semakin menanjak usai mereka sukses mengeksploitasi keterpojokan akibat tekanan AS dan Israel menjadi sebuah manuver ofensif.
Hasilnya, perairan Selat Hormuz yang memiliki lebar titik sempit sekitar 33 kilometer kini berada dalam kendali historis penuh militer Iran.
Mengapa Dominasi Maritim Indonesia di Selat Malaka Dinilai Lemah?
Dominasi maritim Indonesia di perairan Selat Malaka dinilai teramat lemah karena pemerintah cenderung berfokus pada konsolidasi faksi politik domestik dibandingkan merawat kedaulatan wilayah.
Program-program populer yang digulirkan acapkali hanya berfungsi untuk menguntungkan golongan organik pendukung kekuasaan politik semata.
Kelemahan tata kelola kedaulatan ini membuat perairan strategis tersebut justru lebih banyak memberi keuntungan ekonomi bagi negara tetangga seperti Singapura.
Padahal, sesuai regulasi batas wilayah laut, kedaulatan suatu negara berada 22 kilometer dari garis pantainya.
Fakta kerawanan di perbatasan laut Indonesia dan Singapura:
- Jarak garis pantai Kota Batam dengan daratan Singapura hanya berkisar 20 kilometer, jauh lebih sempit dari Selat Hormuz.
- Pemerintah Singapura terus melakukan reklamasi yang mengarah ke lautan lepas, secara otomatis mengancam batas daratan milik Indonesia.
- Penentuan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) sejauh 370 kilometer dari garis pantai menjadi tidak relevan dan sulit diimplementasikan di area sesempit itu.
Apa Dampak Buruk Politik Arisan Kuasa bagi Kedaulatan RI?
Budaya politik “arisan kuasa” atau rotasi kekuasaan antar koalisi partai menciptakan kerentanan yang berpotensi memicu keruntuhan sistem politik dan ekonomi secara sistemik.
Keretakan pada koalisi domestik yang berorientasi jangka pendek ini sangat mudah dieksploitasi oleh kekuatan maupun intervensi asing.
Kondisi tersebut diperparah dengan fakta bahwa sebagian besar elit ekonomi dan aktor politik di Tanah Air menjadikan Singapura sebagai basis atau ‘markas bayangan’ penempatan aset mereka.
Selama mentalitas kepemimpinan belum berfokus pada ketahanan nasional, upaya Indonesia untuk menggeser hegemoni Singapura dari lalu lintas maritim Selat Malaka akan tetap menjadi hal yang mustahil untuk diwujudkan.
Ketimpangan visi geopolitik ini harus menjadi teguran keras bagi pemerintah pusat agar segera membenahi postur ketahanan nasional secara fundamental.
Kedaulatan teritorial di batas-batas perbatasan bukanlah komoditas yang bisa dikesampingkan demi melayani kepentingan elite politik sesaat.
Bagaimana pandangan Anda mengenai perbedaan kualitas tata kelola geopolitik antara Iran dan Indonesia saat ini?
Sampaikan opini kritis Anda di kolom komentar di bawah, dan pastikan Anda membagikan artikel ini ke media sosial untuk memantik ruang diskusi publik yang lebih luas di portal kesayangan Anda, RakyatBekasi.Com!
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







