- BPBD Kota Bekasi memastikan wilayahnya belum terdampak kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino hingga akhir Juli 2026.
- Bantuan pasokan air bersih telah difokuskan ke Kelurahan Bekasi Jaya dan Margahayu di Kecamatan Bekasi Timur akibat gangguan distribusi PDAM Tirta Bhagasasi.
- Pemkot Bekasi bersama seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mulai memetakan wilayah titik rawan bencana kemarau.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi memastikan bahwa wilayah Kota Bekasi belum mengalami krisis kekeringan secara signifikan akibat fenomena cuaca panas El Nino.
Meski demikian, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi terus menggencarkan langkah mitigasi sejak dini guna mengantisipasi ancaman musim kemarau panjang.
Pemetaan wilayah rawan bencana dan koordinasi lintas sektor kini menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah Strategis Pemkot Bekasi Hadapi Kekeringan El Nino
Mengapa BPBD Mendistribusikan Air Bersih ke Bekasi Timur?
Penyaluran pasokan air bersih ke Kecamatan Bekasi Timur ternyata bukan diakibatkan oleh kekeringan alamiah, melainkan adanya masalah teknis dari perusahaan penyedia air minum setempat.
”Akan tetapi kami sudah bantu melakukan distribusi air ke wilayah Bekasi Timur. Karena, lokasi tersebut terjadi gangguan distribusi air, dari PDAM Tirta Bhagasasi,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPDB Kota Bekasi, Wiratma Puspita kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com melalui keterangannya, Senin (20/07/2026).
Bantuan strategis ini didistribusikan ke sejumlah titik permukiman warga, meliputi:
- Perumahan BJI DANITA RT 16 RW 013, Kelurahan Bekasi Jaya, Kecamatan Bekasi Timur pada tanggal 28 dan 29 Juni 2026.
- Gang Mawar, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur pada tanggal 14 Juli 2026.
”Beberapa wilayah itu yang meminta bantuan kepada kami, agar melakukan proses distribusi air. Karena kebutuhan air yang sedang mati dari PDAM Tirta Bhagasasi,” ucap Wiratma.
Apa Dampak Prediksi BMKG Terkait Musim Kemarau di Kota Bekasi?
Proyeksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprakirakan durasi kemarau tahun ini bisa berlangsung antara tiga hingga tujuh bulan memaksa Pemkot Bekasi untuk bersiaga.
Kondisi kemarau yang lebih kering dari biasanya berpotensi memicu krisis air tanah dan meningkatnya risiko kebakaran.
Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, menegaskan bahwa seluruh elemen Pemerintah Daerah wajib merapatkan barisan dalam menghadapi potensi bencana ini.
”Saya sudah bicara dengan BPBD dan juga seluruh OPD yang terlibat harus bersiap-siap, terutama pemadam kebakaran untuk antisipasi kebakaran dan kita antisipasi untuk bersiaga,” ujar Abdul Harris Bobihoe kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com saat ditemui di Gedung Plaza Pemkot Bekasi, Selasa (09/06/2026) lalu.
Bagaimana Upaya Pemkot Bekasi Memetakan Potensi Bencana?
Sebagai bentuk kesiapsiagaan terstruktur, Pemkot Bekasi saat ini tengah menyisir dan memetakan (mapping) secara detail kawasan yang berisiko tinggi terdampak krisis pasokan air.
Langkah ini diambil untuk memastikan intervensi dan distribusi bantuan dapat berjalan efisien ketika situasi memburuk.
”Insyaallah kalau itu memang agak lama secara potensi kekeringan. Makanya kita mulai dari sekarang membuat mapping-mapping, kemudian di mana saja sih (wilayah berpotensi kekeringan). Tapi sedianya Pemkot sudah siap untuk menghadapi itu,” jelas Bang Harris sapaan akrabnya.
Kesigapan aparatur daerah dan BPBD diharapkan mampu menekan risiko terburuk dari ancaman kemarau di wilayah patriot.
Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam memanfaatkan sumber air dan segera melapor jika permukiman mulai kekurangan air.
Bagaimana kondisi pasokan air bersih di lingkungan RT/RW Anda hari ini? Bagikan informasi Anda di kolom komentar, dan ikuti terus perkembangan berita serta kebijakan terbaru Pemkot Bekasi selengkapnya hanya di RakyatBekasi.Com.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







