Remaja dan Krisis Identitas: Mengapa Kehadiran Emosional Orang Tua Masih Sangat Penting

- Jurnalis

Senin, 16 Juni 2025 - 22:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi gambar: https://www.freepik.com

Ilustrasi gambar: https://www.freepik.com

Masa Remaja: Periode Pencarian Jati Diri yang Tak Selalu Mudah

Masa remaja merupakan salah satu fase paling kompleks dalam perjalanan kehidupan manusia. Di usia ini, berbagai pertanyaan eksistensial mulai muncul: Siapa saya? Apa yang ingin saya capai? Mengapa saya berbeda dari orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak datang dengan jawaban instan, dan perjalanan menemukannya bisa menjadi membingungkan jika dijalani tanpa pendampingan.

Di tengah dinamika perkembangan teknologi dan tekanan hidup, banyak remaja kini menavigasi masa krusial ini tanpa bimbingan emosional yang memadai dari keluarga.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan karena orang tua abai, melainkan karena realitas kehidupan modern yang serba cepat kerap menyita waktu dan energi.

Orang tua bekerja dari pagi hingga malam, pulang dalam keadaan lelah, dan interaksi berkualitas dalam keluarga pun semakin langka.

Rumah: Bukan Sekadar Tempat Tinggal, Tapi Tempat Bertanya dan Diterima

Secara ideal, rumah seharusnya menjadi ruang aman bagi remaja — tempat mereka bisa bertanya, bercerita, merasa diterima, dan mendapat arahan.

Namun pada kenyataannya, banyak rumah berubah menjadi tempat sunyi, meski dipenuhi anggota keluarga.

Komunikasi yang terbangun bersifat formalitas, perhatian tersita oleh layar gawai, dan koneksi emosional menjadi renggang.

Dalam kondisi seperti ini, remaja cenderung mencari validasi dan arahan dari luar: media sosial, teman sebaya, atau figur publik di dunia maya.

Sayangnya, tidak semua sumber tersebut menawarkan pengaruh yang positif. Mereka rentan terpapar informasi yang tidak tepat, tekanan sosial, hingga konten yang dapat menyesatkan arah hidup mereka.

Minimnya Kehadiran Emosional Dapat Menimbulkan Dampak Serius

Ketiadaan kehadiran emosional dari orang tua dapat menyebabkan remaja merasa kesepian, kehilangan arah, atau bahkan meragukan keberhargaan diri mereka.

Mereka mungkin terlihat kuat secara fisik, tetapi di dalamnya bertanya-tanya: “Apakah ada yang benar-benar peduli padaku?”

Dampaknya bisa bervariasi, mulai dari penurunan kepercayaan diri, terlibat dalam pergaulan negatif, hingga mengambil keputusan besar tanpa pertimbangan matang.

Mereka berjuang menemukan jati diri, tetapi sering kali berisiko tersesat di tengah jalan.

Solusi: Membangun Hubungan yang Berkualitas Tanpa Harus Sempurna

Di tengah padatnya aktivitas, orang tua masih bisa membangun kedekatan dengan anak tanpa harus meluangkan waktu berjam-jam. Hubungan yang sehat terbangun bukan dari kuantitas, melainkan dari kualitas interaksi.

Cukup dengan pertanyaan ringan seperti “Gimana harimu?” yang disampaikan dengan perhatian penuh, atau duduk bersama tanpa gadget sambil berbagi cerita.

Remaja tak butuh orang tua yang sempurna—mereka hanya butuh orang tua yang hadir, yang mendengarkan, dan yang terbuka untuk belajar bersama mereka.

“Kehadiran emosional bukan tentang seberapa sering kita ada di rumah, tapi seberapa sering kita benar-benar hadir dalam hidup anak,” tulis psikolog keluarga dalam jurnal Parenting Today.

Keluarga Tetap Jadi Kompas Saat Remaja Menentukan Arah

Remaja memang harus belajar mandiri dan menghadapi tantangan hidup. Namun, kehadiran keluarga—terutama secara emosional—tetap menjadi penunjuk jalan utama.

Di masa-masa rawan saat mereka mencari jati diri, dukungan keluarga memberi rasa aman dan tempat untuk kembali.

Keluarga bukan harus selalu hadir secara fisik, tapi konsistensi dalam memberi kasih sayang, perhatian, dan pengertianlah yang menjadikan rumah sebagai tempat pulang yang sesungguhnya.

Karena sekuat-kuatnya remaja hari ini, mereka tetap membutuhkan rumah — tempat di mana mereka merasa cukup, diterima, dan dicintai apa adanya.


Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Penulis : Resta Zafriya Kartika [Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Akuntansi S1]

Editor : Bung Ewox

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bakal Jadi Nama Kapal Induk TNI AL, Inilah Sejarah Kerajaan Sriwijaya Penguasa Tol Laut Kuno Nusantara
Puluhan Ribu Anak Jadi Korban, LBH Fraksi ’98 Soroti Kasus Keracunan MBG Sebagai Kejahatan Negara
Aniesfobia Jelang Pilpres 2029: Mengapa Rezim Takut pada Anies?
Buku ‘Islam Ala Prabowo’ Disebut Sekadar Kosmetik Politik dan Cuci Tangan Sejarah
Pesan Abu Vulkanik Krakatau: Alarm Keras Alam untuk Kaum Politisi yang Gila Kuasa
Menguak Sejarah Intelijen Indonesia: Kisah Jenderal Soemitro Tegur Keras Ali Moertopo karena Isu Cawe-Cawe Kekuasaan
Panas! Musda Golkar Kota Bekasi Jadi Bola Liar, Pertarungan Dua Srikandi Bikin Penguasa Ketar-ketir
Mengupas Tuntas Politik Gerakan Islam: Dari Target Intelijen Orde Baru Hingga Terjebak Jadi Proksi Kekuasaan
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 05:36 WIB

Bakal Jadi Nama Kapal Induk TNI AL, Inilah Sejarah Kerajaan Sriwijaya Penguasa Tol Laut Kuno Nusantara

Selasa, 15 September 2026 - 05:18 WIB

Puluhan Ribu Anak Jadi Korban, LBH Fraksi ’98 Soroti Kasus Keracunan MBG Sebagai Kejahatan Negara

Kamis, 10 September 2026 - 05:42 WIB

Aniesfobia Jelang Pilpres 2029: Mengapa Rezim Takut pada Anies?

Selasa, 8 September 2026 - 13:02 WIB

Buku ‘Islam Ala Prabowo’ Disebut Sekadar Kosmetik Politik dan Cuci Tangan Sejarah

Selasa, 8 September 2026 - 10:27 WIB

Pesan Abu Vulkanik Krakatau: Alarm Keras Alam untuk Kaum Politisi yang Gila Kuasa

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x