- Eks Kapal Induk Italia, Garibaldi, yang disiapkan untuk militer Indonesia rencananya akan berganti nama menjadi KRI Sriwijaya.
- Berdasarkan manuskrip pejabat Tiongkok kuno Chau Ju-Kua (1225 M), Sriwijaya mengontrol ketat jalur perdagangan Selat Malaka dengan sistem rantai besi pelintang laut.
- Hegemoni Sriwijaya membentang melintasi 15 negara bawahan, mencakup Semenanjung Malaya, Thailand, Nusantara, hingga Sri Lanka.
- Berbekal sistem militer mandiri dan melimpahnya sumber daya alam, Sriwijaya sukses menjadi pusat monopoli perniagaan maritim global pada masanya.
RENCANA PENAMAAN EKS KAPAL INDUK ITALIA, Garibaldi, menjadi KRI Sriwijaya setibanya di Indonesia memantik kembali ingatan publik terhadap supremasi maritim Nusantara di masa lampau.
Melalui telaah catatan Chau Ju-Kua pada 1225 Masehi, terungkap fakta bahwa bangsa Sriwijaya bukanlah sekadar dongeng, melainkan kemaharajaan raksasa yang mendikte urat nadi ekonomi Asia.
Dengan armada tempurnya yang ditakuti dan “tol laut” berantai besi miliknya, mereka sukses mengontrol ketat pergerakan kapal dagang global dari Tiongkok, India, hingga Persia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menguak Sejarah Kerajaan Sriwijaya Melalui Catatan Tiongkok Kuno
Mengapa Militer dan Ekonomi Sriwijaya Sangat Ditakuti Bangsa Asing?
Kekuatan tempur menjadi pondasi utama Sejarah Kerajaan Sriwijaya dalam mempertahankan hegemoninya di perairan Nusantara.
Penulis sekaligus penggemar sejarah geopolitik, Syahrul E Dasopang, merangkum bahwa bangsa ini dikenal sangat tangguh dalam peperangan baik darat maupun perairan.
Saat berhadapan dengan musuh, pasukan Sriwijaya bertempur mati-matian tanpa rasa takut dengan formasi militer mandiri, di mana setiap individu menyokong senjata dan logistiknya sendiri.
Secara ekonomi, transaksi internal mereka bahkan tidak menggunakan koin tembaga, melainkan bertransaksi menggunakan potongan-potongan perak murni.
Bagaimana Cara Sriwijaya Memonopoli Tol Laut Selat Malaka?
Strategi penguasaan jalur laut yang diterapkan kerajaan ini terbukti jauh melampaui peradaban zamannya.
Demi mengendalikan tata niaga Selat Malaka, mereka merintangi laju kapal asing dengan menggunakan sistem rantai besi raksasa yang dapat dinaik-turunkan secara mekanis dari darat.
- Kapal dagang diwajibkan singgah di pos pabean Ling-ya-mon (kini Kepulauan Lingga, Provinsi Kepulauan Riau) untuk menyetor sepertiga muatannya sebagai pajak tol laut.
- Sistem rantai besi ini juga berfungsi ganda sebagai proteksi yang memaksa armada asing masuk ke wilayah aman dari ancaman bajak laut.
- Bagi kapal dagang yang bersikeras menerobos masuk tanpa membayar pajak, armada tempur Sriwijaya akan langsung melakukan pengejaran dan penghancuran armada.
Apa Dampak Geopolitik Sriwijaya Terhadap Kawasan Asia?
Ekspansi teritorial dan monopoli maritim membuat Sriwijaya mendominasi kawasan sebagai titik lebur perdagangan rempah dunia.
Kemaharajaan ini tercatat memiliki sedikitnya 15 negeri bawahan yang tunduk kepada mereka, membentang luas mulai dari Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, Sunda, hingga Ceylon di Sri Lanka.
Tingginya permintaan akan komoditas unggulan seperti kapur barus, cengkih, lada, dan gaharu terus mengalir deras untuk ditukar dengan emas, perak, serta porselen dari saudagar Tiongkok dan Arab, menjadikan mereka sebagai kekuatan ekonomi maritim terbesar yang mendikte jalur perniagaan sutra laut berabad-abad lamanya.
Catatan bersejarah ini seakan mengonfirmasi bahwa penyematan nama KRI Sriwijaya bukanlah sebatas romantisasi masa lalu, melainkan refleksi konkret dari DNA kekuatan maritim Nusantara yang pernah memimpin dunia.
Jangan lewatkan analisis tajam dan perkembangan informasi terkini lainnya. Mari berdiskusi, bagikan artikel ini, dan ikuti langsung Saluran WhatsApp RakyatBekasi di [Follow WhatsApp Channel RakyatBekasi di sini] agar Anda senantiasa update setiap saat.
Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
Penulis : Syahrul E Dasopang
Editor : Bung Ewox

















