- Lokasi Strategis: Jalan protokol penting yang membentang dari kawasan Harmoni menuju arah Tomang, di jantung ibu kota Jakarta.
- Bangsawan Anti-Feodal: Cucu dari penguasa Paku Alam III yang secara berani menggergaji dan membuang gelar kebangsawanan “Raden Mas” demi kesetaraan kelas.
- Sang Raja Mogok: Dijuluki De Stakingskoning oleh pers Belanda karena sukses memimpin pemogokan massal buruh pabrik gula pada 1920 yang menaikkan upah hingga 50 persen.
- Bapak Advokasi Buruh: Merupakan kakak kandung Ki Hadjar Dewantara yang mendirikan Arbeidsleger (Tentara Buruh) Adhi Dharma untuk jaminan sosial pekerja.
Melanjutkan seri tulisan kesejarahan ke-27 dari 45 pada Rabu (29/07/2026), Seniman Kemerdekaan sekaligus peraih rekor MURI, Zenza TekSas, membedah ketokohan di balik sejarah Jalan Suryo Pranoto.
Nama jalan protokol yang membentang di Jakarta ini didedikasikan untuk Raden Mas Suryopranoto. Ia adalah bangsawan pembenci feodalisme, tokoh sentral pergerakan buruh nasional, sekaligus Pahlawan Nasional yang sukses membuat kapitalis kolonial bertekuk lutut.
Menelusuri Sejarah Jalan Suryo Pranoto dan Sang Raja Mogok
Di Mana Letak Jalan Suryo Pranoto di Ibu Kota?
Di tengah hiruk-pikuk pusat ibu kota, terdapat sebuah rute strategis yang merekam memori abadi tentang seorang tokoh pergerakan radikal pembela rakyat kecil.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
”Di hiruk-pikuk Kota Jakarta, tepatnya melintasi kawasan Harmoni menuju arah Tomang, terbentang sebuah jalan protokol yang dinamai Jalan Suryo Pranoto,” kata Zenza TekSas kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Rabu (29/07/2026).
Nama jalan ini diambil dari seorang tokoh besar yang jejak langkahnya telah menorehkan sejarah penting bagi kaum pekerja di Indonesia, yakni Raden Mas Suryopranoto.
Mengapa Suryopranoto Membuang Gelar Bangsawannya?
Lahir di Yogyakarta pada 11 Januari 1871, beliau bukanlah sosok keturunan ningrat yang mau duduk manis menikmati kemewahan.
Sebagai putra sulung KPH Suryaningrat sekaligus cucu dari Paku Alam III, darah bangsawan memang mengalir deras di tubuhnya, tetapi kemewahan feodal justru ditentangnya habis-habisan.
Ia dikenal sangat membenci budaya gila hormat kaum ningrat kolonial. Puncak penolakannya terhadap feodalisme terekam dalam aksi simbolis; di tengah rapat umum buruh, ia dengan sengaja menggergaji gelar “Raden Mas” pada papan namanya lalu membuangnya ke tempat sampah sebagai deklarasi bahwa dirinya setara dengan rakyat jelata.
Bagaimana Kiprah Si Raja Mogok Membela Kaum Buruh?
Keberanian dan keberpihakannya pada kaum tertindas membuat namanya diabadikan oleh pers Hindia Belanda dengan julukan penuh gentar, yakni De Stakingskoning atau “Si Raja Mogok”.
Pada 20 Agustus 1920, beliau memimpin aksi pemogokan buruh massal yang dimulai dari pabrik-pabrik gula di Yogyakarta hingga meluas ke seluruh Jawa.
Berkat kepemimpinannya yang matang, terorganisir, dan berani pasang badan di garis depan, aksi tersebut sukses besar.
Pemogokan monumental itu berhasil melumpuhkan tekanan kapitalis kolonial dan memaksa para pemilik modal menaikkan upah buruh hingga 50 persen.
Apa Warisan Perjuangan Suryopranoto di Luar Aksi Jalanan?
Tidak hanya piawai mengorganisir aksi turun ke jalan, kakak kandung Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara ini juga memperjuangkan nasib kaum pekerja melalui jalur institusi.
Ia bergabung ke dalam Sarekat Islam (SI) dan mendirikan Arbeidsleger (Tentara Buruh) Adhi Dharma.
Wadah pergerakan ini secara nyata memberikan jaminan sosial, bantuan hukum, dan advokasi bagi pekerja.
Tak berhenti di situ, tokoh radikal ini juga berkontribusi besar membesarkan Taman Siswa. Ia juga terus melontarkan tulisan-tulisan berisi kritik tajam untuk melawan tirani pemerintah Hindia Belanda hingga akhir hayatnya.
Raden Mas Suryopranoto tutup usia pada 15 Oktober 1959 di Cimahi, Jawa Barat, dalam usia 88 tahun. Atas pengorbanan tanpa pamrihnya, pemerintah mengukuhkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 30 November 1959 dan jasadnya dikebumikan secara militer di kompleks pemakaman keluarga Rahmat Jati, Kotagede.
Kini, setiap kali Anda melintasi Jalan Suryo Pranoto, kenanglah pengorbanan sang bangsawan yang menanggalkan gelarnya demi keadilan kaum buruh.
Bagaimana keteladanan “Si Raja Mogok” menginspirasi karier Anda hari ini? Sampaikan pandangan Anda di kolom komentar! Bagikan ulasan sejarah ini dan ikuti terus seri pahlawan dari Zenza TekSas eksklusif hanya di RakyatBekasi.com.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







