Poin Utama:
- Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menjajaki kerja sama Sister City dengan Izumisano (Jepang) dan Seongnam (Korea Selatan).
- Pemkot Bekasi membidik peluang magang dan ekspor tenaga kerja lokal ke pabrik dan bandara di Jepang dengan syarat wajib sertifikasi bahasa level N4.
- Kursus bahasa asing gratis bagi warga akan segera dibuka pada akhir pekan di Gedung Pemkot Bekasi mulai bulan depan.
- Rencana adopsi sistem Smart City dan digitalisasi layanan publik di sektor kesehatan akan berkiblat pada kemajuan Kota Seongnam.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto akhirnya membeberkan hasil lawatannya ke Korea Selatan dan Jepang terkait program Sister City.
Alih-alih sekadar kunjungan seremonial, orang nomor satu di Pemkot Bekasi ini mengklaim membawa “oleh-oleh” strategis berupa peluang ekspor tenaga kerja lokal dan adopsi teknologi Smart City.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gebrakan ini digadang-gadang mampu mendongkrak kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan merombak sistem birokrasi di Kota Bekasi menjadi lebih modern.
Apa Saja Hasil Kesepakatan Wali Kota Bekasi di Jepang dan Korea?
Kunjungan kerja ke luar negeri tersebut membuahkan kesepakatan bilateral di sektor ketenagakerjaan dan digitalisasi layanan publik.
Pemkot Bekasi secara resmi menjalin kemitraan multilateral yang erat dengan Kota Seongnam di Korea Selatan dan Kota Izumisano di Jepang.
”Oleh-oleh yang saya bawa selama kunjungan ke Luar Negeri adalah pertama tentu kaitan membangun jaringan terkait dengan RPJMD. Kita harus mampu untuk mengirimkan tenaga kerja lokal kita ke luar negeri,” kata Tri Adhianto kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com di Gedung Pemkot Bekasi, Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, Jumat (10/04/2026).
Fokus utama dari kerja sama lintas negara ini adalah membuka keran pengiriman pekerja terampil asal Kota Bekasi menuju perusahaan-perusahaan bonafide di Negeri Sakura guna meningkatkan standar kualitas SDM lokal.
Apa Syarat Warga Kota Bekasi untuk Magang dan Bekerja di Jepang?
Warga Kota Bekasi yang ingin magang atau bekerja di Jepang diwajibkan memiliki kemampuan bahasa yang dibuktikan secara resmi dengan sertifikasi N4.
Selain kemahiran bahasa, penguatan karakter dan pemahaman budaya lokal Jepang menjadi penilaian mutlak bagi calon pekerja.
Berdasarkan data yang diterima Pemkot Bekasi, pekerja asal Indonesia dinilai memiliki reputasi baik, adaptif, dan sangat mudah diterima oleh budaya kerja perusahaan Jepang. Sektor pekerjaan yang saat ini terbuka lebar untuk diisi meliputi:
- Industri dan pabrik manufaktur.
- Sektor kuliner dan rumah makan.
- Jasa dan layanan komersial operasional di bandara.
”Ini semua ternyata mereka betah dan merasa nyaman. Oleh karena itu tentu harus menjadi peluang buat kita,” tegas Tri Adhianto seraya memaparkan tingginya peluang serapan kerja di sektor-sektor tersebut.
Kapan Pemkot Bekasi Membuka Kursus Bahasa Asing Gratis?
Merespons peluang emas tersebut, Pemkot Bekasi menargetkan pembukaan kursus bahasa Inggris dan Jepang secara gratis pada bulan depan.
Program akselerasi ini akan direalisasikan melalui kolaborasi langsung dengan Kantor Cabang Dinas (KCD) Wilayah 3 pada Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat.
Menariknya, pelatihan bahasa ini rencananya akan memanfaatkan fasilitas di kompleks perkantoran Pemkot Bekasi dan dilaksanakan khusus pada hari Sabtu dan Minggu.
Langkah taktis ini bertujuan agar calon pekerja lokal memiliki bekal kompetensi tanpa harus terbebani biaya pendidikan tambahan.
”Nanti kita buat mereka lebih nyaman, agar mereka kalau sudah memiliki bahasa, relatif akan lebih mudah untuk mereka ada bekal mendapatkan peluang pekerjaan di sana secara gratis,” urainya lebih lanjut.
Mampukah Pemkot Bekasi Wujudkan Smart City ala Korea Selatan?
Beralih ke kerja sama dengan Korea Selatan, Pemkot Bekasi membidik transfer ilmu pengetahuan terkait implementasi Smart City dan digitalisasi birokrasi dari Kota Seongnam.
Tri Adhianto mengakui kemajuan teknologi layanan publik di Seongnam sangat luar biasa dan terintegrasi, khususnya di sektor kesehatan masyarakat.
”Kalau kita ingin maju, kita harus memang berteman dengan orang-orang yang maju. Nah, di sana memang kemajuannya sangat luar biasa menyoal digitalisasi,” jelas Tri secara objektif.
Hal paling berharga dari studi tiru ini adalah kesediaan otoritas Seongnam untuk membagikan rekam jejak kegagalan mereka saat awal merintis sistem pintar tersebut.
Evaluasi ini akan dijadikan role model bagi Pemkot Bekasi agar proses adopsi teknologi berlangsung tepat guna, menjawab kebutuhan rill masyarakat, dan tidak sekadar menghamburkan APBD demi jargon kota pintar semata.
Publik kini tentu menanti realisasi konkret dari lawatan luar negeri ini agar tidak menguap begitu saja sebatas wacana di atas kertas.
Memorandum of Understanding (MoU) antarkota ini harus segera diejawantahkan oleh tim teknis agar masyarakat Kota Bekasi benar-benar merasakan manfaatnya secara nyata.
Bagaimana pandangan Anda terkait rencana ekspor tenaga kerja ke Jepang dan penerapan Smart City ala Korea ini? Jangan ragu untuk tinggalkan opini kritis Anda di kolom komentar dan bantu bagikan artikel RakyatBekasi.Com ini ke grup WhatsApp warga Anda!
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.














