LBH Fraksi ’98: Filsafat Hukum Pancasila Harus Responsif Era AI!

- Jurnalis

Senin, 1 Juni 2026 - 12:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur LBH FRAKSI ’98 Naupal Al Rasyid, SH., MH (istimewa)

Direktur LBH FRAKSI ’98 Naupal Al Rasyid, SH., MH (istimewa)

Poin Utama:

  • Narasumber: Direktur LBH Fraksi ’98, Naupal Al Rasyid, SH., MH mendesak pembaruan hukum berbasis Pancasila di Kota Bekasi, Senin (01/06/2026).
  • Landasan Hukum: Pancasila sebagai staatsfundamentalnorm (Pasal 2 UU Nomor 12 Tahun 2011) wajib menjadi muara hukum yang fleksibel.
  • Tantangan Modern: Sistem hukum sosiologis Indonesia dituntut mampu mengadopsi perkembangan teknologi Kecerdasan Buatan (AI).

​LBH Fraksi ’98 mendesak para akademisi dan praktisi hukum untuk mengembangkan penalaran hukum berbasis Pancasila yang lebih progresif.

Langkah kritis ini diperlukan agar sistem hukum nasional tidak gagap dalam menghadapi disrupsi teknologi modern.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fleksibilitas Pancasila sebagai ideologi terbuka dinilai menjadi kunci utama dalam merespons dinamika sosiologi hukum kontemporer.

​Apa fungsi Pancasila sebagai filsafat hukum terbuka?

​Pancasila berfungsi sebagai staatsfundamentalnorm atau norma dasar negara yang menjadi sumber tertinggi dari segala sumber hukum yang berlaku di Indonesia.

Sifat keterbukaan filsafat ini membuat hukum nasional mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan jati diri bangsa.

​”Filsafat hukum Pancasila bersifat terbuka terhadap hal-hal baru dan ketika diletakkan sebagai fondasi ideologi ia tak berubah,” kata Direktur LBH Fraksi ’98, Naupal Al Rasyid, SH., MH kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Senin (01/06/2026).

​Naupal menambahkan bahwa nilai kegotongroyongan merupakan akar budaya ideal yang melandasi logika penerimaan Pancasila secara filosofis.

Oleh karena itu, segenap produk hukum positif yang dilahirkan di Indonesia wajib mengacu pada semangat kebersamaan tersebut.

​Mengapa sistem hukum Indonesia masih dipengaruhi hukum Eropa?

​Sistem tata hukum di Indonesia saat ini diakui masih sangat dipengaruhi oleh berbagai aliran pemikiran dan teori hukum kolonial warisan Belanda serta negara Eropa lainnya.

Ketergantungan teoretis ini sering kali dijadikan acuan utama dalam merumuskan regulasi dan kebijakan publik nasional.

​Namun, eksistensi Pancasila secara formal telah mempertegas karakter otentik masyarakat yang membedakan Indonesia dengan negara lain di dunia.

Ketentuan ini tertuang jelas di dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.

​Melalui legalitas tersebut, para ahli hukum didorong mengimplementasikan teori dari Hans Kelsen dan Hans Nawiasky mengenai struktur norma dasar.

Langkah teoretis ini harus diadopsi oleh jajaran pemerintahan, termasuk Pemkot Bekasi, dalam menyusun Peraturan Daerah (Perda) yang bernilai sosiologis.

​Bagaimana Pancasila merespons perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI)?

​Pancasila merespons tantangan era kecerdasan buatan (AI) melalui karakteristik nilainya yang abstrak sehingga mampu mengakomodasi kepentingan dan aktivitas baru manusia.

Hukum yang ideal tidak boleh kaku, melainkan harus dinamis mengikuti hukum yang hidup dan tumbuh berkembang di tengah masyarakat (living law).

​Sesuai dengan mazhab sosiologi hukum, aturan yang baik adalah regulasi yang responsive terhadap kebutuhan zaman digital.

Fleksibilitas ruang relatif dalam filsafat Pancasila memastikan bahwa pemanfaatan AI tetap berada di bawah koridor moral dan keadilan sosial.

​Melalui penalaran hukum Pancasila yang kritis, regulasi di tingkat pusat maupun daerah diharapkan dapat melindungi hak sosiologis masyarakat dari dampak negatif otomatisasi global.

​Bagaimana pandangan Anda mengenai kesiapan instrumen hukum Indonesia dalam mengawal perkembangan teknologi AI saat ini? Tulis pendapat Anda di kolom komentar dan bagikan artikel ini ke media sosial Anda!


Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aniesfobia Jelang Pilpres 2029: Mengapa Rezim Takut pada Anies?
Buku ‘Islam Ala Prabowo’ Disebut Sekadar Kosmetik Politik dan Cuci Tangan Sejarah
Pesan Abu Vulkanik Krakatau: Alarm Keras Alam untuk Kaum Politisi yang Gila Kuasa
Menguak Sejarah Intelijen Indonesia: Kisah Jenderal Soemitro Tegur Keras Ali Moertopo karena Isu Cawe-Cawe Kekuasaan
Panas! Musda Golkar Kota Bekasi Jadi Bola Liar, Pertarungan Dua Srikandi Bikin Penguasa Ketar-ketir
Mengupas Tuntas Politik Gerakan Islam: Dari Target Intelijen Orde Baru Hingga Terjebak Jadi Proksi Kekuasaan
Tragedi Aksi 27 Agustus 2026: Yusuf Blegur Sebut Ada Pengalihan Isu dan Politik Adu Domba Rezim
Ironi Defisit APBD Kota Bekasi: Pesta Besar PNBK Jilid 3 Digelar, Nasib Gaji PPPK Dipertanyakan
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 05:42 WIB

Aniesfobia Jelang Pilpres 2029: Mengapa Rezim Takut pada Anies?

Selasa, 8 September 2026 - 13:02 WIB

Buku ‘Islam Ala Prabowo’ Disebut Sekadar Kosmetik Politik dan Cuci Tangan Sejarah

Selasa, 8 September 2026 - 10:27 WIB

Pesan Abu Vulkanik Krakatau: Alarm Keras Alam untuk Kaum Politisi yang Gila Kuasa

Minggu, 6 September 2026 - 16:55 WIB

Menguak Sejarah Intelijen Indonesia: Kisah Jenderal Soemitro Tegur Keras Ali Moertopo karena Isu Cawe-Cawe Kekuasaan

Jumat, 4 September 2026 - 11:35 WIB

Panas! Musda Golkar Kota Bekasi Jadi Bola Liar, Pertarungan Dua Srikandi Bikin Penguasa Ketar-ketir

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x