- Lokasi Jalan: Jalan Sunan Bonang terletak di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, tepat di sebelah barat Jalan Balai Pustaka.
- Profil Ulama: Mengabadikan Raden Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), putra Sunan Ampel yang lahir tahun 1465 M di Rembang.
- Strategi Dakwah Kultural: Memanfaatkan instrumen musik gamelan, cerita pewayangan, hingga pencipta tembang legendaris “Tombo Ati”.
- Warisan Seni Nusantara: Meninggalkan warisan alat musik bonang, tembang suluk (Suluk Wijil), dan Gending Durma yang diakui hingga kini.
Rangkaian ulasan sejarah jalan protokol edisi ke-40 (Selasa, 11/08/2026) kembali dihadirkan. Menjelang perayaan HUT RI ke-81, Zenza TekSas, Seniman Kemerdekaan sekaligus Peraih Rekor MURI, mengupas Sejarah Jalan Sunan Bonang di Jakarta Timur.
Ruas jalan ini adalah monumen penghormatan bagi Wali Songo yang sukses merajut dakwah kultural Islam melalui akulturasi pewayangan, gamelan, hingga penciptaan tembang legendaris “Tombo Ati”.
Menelusuri Sejarah Jalan Sunan Bonang di Kawasan Rawamangun
Di Mana Lokasi Pasti Jalan Sunan Bonang dan Siapa Sosok di Baliknya?
Di sudut timur ibu kota, nama tokoh Wali Songo ini diabadikan bukan sekadar label geografis, melainkan sebagai penanda peradaban.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
”Berjalan-jalan di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, kita akan menemukan sebuah jalur yang dinamai Jalan Sunan Bonang, yang letaknya berada tepat di sebelah barat Jalan Balai Pustaka,” kata Zenza TekSas kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Selasa (11/08/2026).
Jalan ini merekam jejak Sunan Bonang, tokoh kelahiran Lasem, Rembang (1465 M) dengan nama asli Raden Maulana Makhdum Ibrahim.
Beliau adalah putra dari pasangan terkemuka Sunan Ampel dan Dewi Candrawati (Nyai Ageng Manila). Setelah menimba ilmu agama di pesantren Ampeldenta (Surabaya) dan memperdalam keilmuan hingga ke Pasai (Aceh), sang ulama memusatkan dakwahnya di Tuban, Jawa Timur, tempat di mana beliau dimakamkan.
Apa Saja Strategi Dakwah Sunan Bonang di Tanah Jawa?
Keberhasilan Sunan Bonang dalam menyebarkan ajaran tauhid di tanah Jawa bertumpu pada metode dakwah kultural yang sangat damai, kreatif, dan menghargai budaya lokal.
Alih-alih merusak tradisi, beliau justru memanfaatkannya sebagai medium dakwah:
- Seni Musik Gamelan: Memanfaatkan gamelan untuk mengumpulkan warga, sekaligus menginisiasi terciptanya instrumen musik baru yang disebut “bonang”.
- Sastra dan Tembang: Menggubah syair dan tembang bernafas Islam yang sarat makna spiritual. Karya monumentalnya yang paling dikenal hingga hari ini adalah tembang Tombo Ati.
- Adaptasi Pewayangan: Tidak membuang cerita pewayangan yang telah lekat dengan masyarakat Hindu-Buddha, melainkan menyisipkan lakon-lakon tersebut dengan nilai luhur tauhid dan akhlak Islam.
Apa Warisan Karya Abadi Sunan Bonang untuk Kebudayaan Nusantara?
Seluruh proses dakwah kultural ini dilakukan secara halus tanpa memicu konflik frontal. Kontribusi Sunan Bonang terbukti melampaui masanya karena karya-karyanya resmi menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Nusantara.
Di antara warisan karya terbesarnya meliputi:
- Alat Musik Bonang: Instrumen musik pukul tradisional yang kini menjadi komponen vital dalam instrumen seperangkat gamelan Jawa.
- Tembang Suluk: Karya sastra berbentuk puisi atau tembang bernuansa tasawuf mendalam, seperti Suluk Wijil dan Suluk Lontar.
- Gending Durma: Komposisi irama khas pada musik gamelan hasil gubahan ciptaannya.
Melalui deru langkah di sepanjang Jalan Sunan Bonang, Rawamangun, masyarakat metropolitan masa kini diingatkan tentang pentingnya merajut nilai-nilai luhur dan kedamaian melalui seni budaya.
Apakah tembang Tombo Ati masih menjadi lantunan favorit Anda saat butuh ketenangan jiwa? Sampaikan opini Anda di kolom komentar! Ikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi [di sini] agar selalu update berita politik, ekonomi, layanan publik, dan ulasan sejarah nusantara.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







