- Musda VI DPD Partai Golkar Kota Bekasi diwarnai persaingan sengit antara dominasi faksi internal dan tiga figur penantang baru.
- Petahana Ade Puspitasari dan Ranny Fahd Arafiq memimpin bursa internal berbekal surat persetujuan DPP tertanggal 9 September 2026.
- Junaedi (Sekda Kota Bekasi) dan Kusnanto Saidi masuk bursa pencalonan berbekal jaringan birokrasi menjelang masa purnatugas.
- H. Sholihin (Gus Shol) tampil sebagai kandidat terkuat dengan rekam jejak meraih 452.351 suara pada Pilkada Kota Bekasi 2024.
DINAMIKA POLITIK menjelang Musyawarah Daerah (Musda) VI DPD Partai Golkar Kota Bekasi semakin memanas. Kontestasi yang awalnya didominasi oleh tokoh internal kini dikejutkan dengan munculnya tiga figur eksternal sebagai alternatif kepemimpinan.
Nama-nama besar seperti Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bekasi Junaedi, mantan anggota legislatif H. Sholihin (Gus Shol), hingga birokrat Kusnanto Saidi santer diperbincangkan publik.
Ketiganya dinilai memiliki modal politik kuat untuk meredam polarisasi faksi di tubuh partai beringin tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Peta Kekuatan Menjelang Musda Golkar Kota Bekasi
Pertarungan internal saat ini masih berpusat pada dua nama besar, yakni petahana Ade Puspitasari dan Ranny Fahd Arafiq.
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar bahkan telah mengeluarkan surat persetujuan resmi bagi keduanya sejak 9 September 2026.
Namun, tingginya tensi persaingan internal ini justru membuka ruang diskursus bagi figur-figur alternatif di luar struktur partai.
Mengapa Tiga Figur Eksternal Muncul dalam Bursa Golkar Kota Bekasi?
Ketiga figur eksternal ini muncul karena partai dinilai membutuhkan sosok pemersatu di tengah kuatnya tarik-menarik kepentingan faksi internal.
Junaedi, Gus Shol, dan Kusnanto Saidi menawarkan latar belakang strategis yang mencakup penguasaan birokrasi, jejaring kesehatan publik, dan kelihaian politik praktis.
Khusus bagi Junaedi dan Kusnanto yang segera memasuki masa pensiun dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, momentum ini memicu spekulasi bahwa keduanya bersiap terjun langsung ke arena perpolitikan daerah.
Apa Saja Modal Politik Junaedi dan Kusnanto Saidi dari Jalur Birokrasi?
Junaedi dan Kusnanto membawa kekuatan manajerial yang matang hasil dari pengalaman panjang mengelola roda pemerintahan di Pemkot Bekasi.
Karier Junaedi memuncak sebagai Sekda Kota Bekasi, memberikan keunggulan dalam merumuskan kebijakan, mengoordinasikan perangkat daerah, serta menjaga harmonisasi eksekutif dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi.
Sementara itu, Kusnanto Saidi memiliki basis massa spesifik berkat perannya dalam memimpin sektor pelayanan dasar.
Berikut adalah peta kekuatan kedua birokrat tersebut:
- Junaedi: Menguasai tata kelola pemerintahan, manajemen birokrasi, dan rekam jejak solid dalam menjembatani komunikasi lintas instansi di lingkungan Pemkot Bekasi.
- Kusnanto Saidi: Berpengalaman luas melayani publik saat menjabat sebagai Kepala RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, serta memiliki relasi kuat dengan organisasi profesi dan akar rumput.
[BACA JUGA: Menakar Peluang Petahana di Tengah Dinamika Politik Kota Patriot]
Seberapa Besar Peluang H. Sholihin (Gus Shol) Pimpin Golkar Kota Bekasi?
Peluang Gus Shol terbilang sangat signifikan karena ia membawa modal elektoral nyata yang tidak dimiliki oleh dua kandidat eksternal lainnya.
Pengalaman politiknya terukir jelas saat menjadi anggota Komisi IV DPRD Kota Bekasi dari Fraksi Golkar Persatuan (periode 2019-2024), serta perannya sebagai Ketua Tim Pemenangan Rahmat Effendi pada Pilkada 2018.
Gus Shol sukses mencatatkan rekam jejak gemilang pada Pilkada Kota Bekasi 2024. Berpasangan dengan Heri Koswara, ia meraup 452.351 suara (46,33 persen), menempel ketat pasangan pemenang Tri Adhianto–Abdul Harris Bobihoe yang meraih 459.430 suara (47,06 persen).
Selisih tipis 7.079 suara membuktikan kemampuannya menggerakkan mesin politik dan relawan secara masif.
Kini, tantangan utamanya hanyalah keputusan pribadi: apakah ia bersedia kembali bertarung di gelanggang politik praktis memimpin partai beringin?
Bagaimana Dampak Kehadiran Figur Alternatif Terhadap Keputusan Partai?
Kehadiran tiga kuda hitam ini memaksa para pemegang hak suara di internal Golkar Kota Bekasi untuk menimbang ulang strategi pemenangan ke depan.
Memimpin partai politik tentu berbeda dengan mengelola instansi pemerintah. Partai menuntut kemahiran dalam negosiasi, konsensus, dan konsolidasi kader di tingkat bawah.
Pemilihan pemimpin dalam Musda VI ini tidak sekadar mencari figur dengan elektabilitas tinggi, tetapi menuntut hadirnya nakhoda yang mampu menyatukan berbagai faksi politik demi agenda nasional mendatang.
Dinamika perpolitikan lokal di Kota Patriot diprediksi akan terus menghangat seiring dekatnya jadwal pelaksanaan Musda VI.
Keputusan akhir partai berlambang pohon beringin ini akan sangat menentukan arah pembangunan daerah ke depan.
Apakah faksi internal sukses mempertahankan dominasinya, atau figur penantang baru yang akan merebut tampuk kepemimpinan?
Jangan lewatkan perkembangan terbaru seputar politik dan pemerintahan di Kota Bekasi. Bagikan artikel ini, tinggalkan komentar Anda, dan pastikan Anda mengikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi di [Follow WhatsApp Channel RakyatBekasi di sini] agar selalu mendapatkan update berita terpercaya!
Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















