Dugaan Pungli Berkedok Sumbangan di SDN 4 Perwira Bekasi Utara Dikecam

- Jurnalis

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tangkapan layar lembar

Tangkapan layar lembar "Angket Sumbangan Infaq Ekstrakurikuler" yang dibagikan kepada wali murid yang disoroti memuat pilihan patokan nominal rupiah per bulan beserta tenggat waktu pembayaran maksimal setiap tanggal 10. Dokumen ini menjadi pemicu kecaman aktivis terkait dugaan pungutan liar berkedok sumbangan di SDN 4 Perwira, Bekasi Utara. (Foto: Dok. RakyatBekasi.Com)

  • ​Beredar kuesioner komite sekolah di SDN 4 Perwira Bekasi Utara yang mematok nominal uang dan tenggat waktu pembayaran rutin bulanan.
  • ​Aktivis Frits Saikat mengecam keras tindakan tersebut karena dinilai sebagai bentuk dugaan pungli berkedok sumbangan sukarela.
  • ​Pematokan nominal di sekolah negeri dinilai melanggar Permendikbud No. 75 Tahun 2016 serta berpotensi masuk ranah pidana korupsi.
  • ​Dinas Pendidikan dan Inspektorat Kota Bekasi didesak untuk segera melakukan investigasi terbuka.

​Aktivis sosial dan tokoh muda Kota Bekasi, Frits Saikat, mengecam keras dugaan praktik Pungutan Liar (Pungli) berkedok sumbangan sukarela yang terjadi di SDN 4 Perwira, Bekasi Utara.

Penolakan ini dipicu oleh beredarnya lembar kuesioner dari komite sekolah yang secara sepihak mematok nominal uang iuran beserta batas tanggal penyetoran rutin.

Praktik tersebut dinilai sangat mencederai dunia pendidikan dan memberatkan finansial para orang tua murid di tengah komitmen pemerintah untuk menggratiskan pendidikan dasar.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Dugaan Pungli SDN 4 Perwira: Modus Berkedok Sumbangan Komite

​Praktik penggalangan dana yang dilakukan komite sekolah di lingkungan institusi pendidikan pelat merah kembali menuai sorotan tajam.

Pasalnya, kuesioner yang disebar kepada wali murid SDN 4 Perwira justru menampilkan kolom pilihan nominal sumbangan wajib setiap bulan, yang bertentangan dengan esensi partisipasi sukarela.

​”Kami sangat menyayangkan dan mengecam keras langkah yang diambil oleh pihak komite sekolah di SDN 4 Perwira Bekasi Utara,” kata Frits Saikat kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Rabu (29/07/2026).

​Mengapa Kuesioner Komite Sekolah Dinilai Sebagai Pungli?

​Kuesioner tersebut dinilai beralih fungsi menjadi alat pungli karena secara eksplisit mencantumkan nominal uang (seperti Rp30.000 hingga Rp60.000 per bulan) dan tenggat waktu pembayaran maksimal setiap tanggal 10.

Indikator pemaksaan waktu dan besaran angka inilah yang mengubah sifat dasar “sumbangan” yang fleksibel dan sukarela menjadi “pungutan” yang sifatnya mengikat dan memaksa.

“Pencantuman nominal uang tertentu beserta tanggal rutin penyerahan pada lembar kuesioner bukanlah bentuk partisipasi sukarela, melainkan upaya sistematis untuk melegitimasi Pungutan Liar (Pungli) dengan berlindung di balik kedok ‘sumbangan sukarela’ komite,” tuturnya.

​Apa Saja Aturan Hukum yang Dilanggar Terkait Pungutan Sekolah?

​Tindakan pematokan nominal uang oleh komite sekolah di lembaga pendidikan negeri secara nyata menabrak berbagai produk regulasi pemerintah pusat.

“Tindakan ini jelas mencederai dunia pendidikan dan memberatkan para orang tua murid. Sekolah dasar negeri adalah ruang publik yang harusnya bebas dari beban finansial yang dipatok-patok nominalnya,” tegasnya.

Berdasarkan telaah aturan perundang-undangan, praktik ini melanggar poin-poin krusial berikut:

  • ​UU No. 20 Tahun 2003 (Sistem Pendidikan Nasional): Pasal 34 ayat (2) dan Pasal 9 ayat (1) menegaskan jaminan pemerintah dan Pemkot Bekasi dalam menyelenggarakan wajib belajar tanpa pungutan paksa, khususnya bagi wali murid yang tidak mampu.
  • ​Permendikbud No. 75 Tahun 2016 (Komite Sekolah): Pasal 10 dan 12 secara gamblang melarang komite sekolah menarik pungutan dengan nominal dan waktu yang ditentukan. Komite hanya diizinkan menggalang dana berbentuk sumbangan murni atau bantuan.
  • ​PP No. 17 Tahun 2010: Pasal 181 dan Pasal 196 melarang keras tenaga kependidikan dan komite memungut biaya menyerupai iuran wajib bulanan layaknya pajak.
  • ​UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi: Pungutan liar di sekolah negeri oleh oknum dengan menyalahgunakan kewenangan berisiko terjerat pidana pemerasan (Pasal 12 e UU Tipikor) atau diusut sebagai gratifikasi ilegal.

“Kami mendesak Dinas Pendidikan Kota Bekasi dan Inspektorat untuk segera turun tangan, melakukan investigasi terbuka, serta menindak tegas pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan komite sekolah untuk meraup pungutan terselubung yang berpotensi melanggar hukum,” pungkasnya.

​Hingga berita ini diturunkan, jajaran Pemkot Bekasi baik dari Dinas Pendidikan maupun pihak pengelola SDN 4 Perwira Bekasi Utara belum memberikan klarifikasi resmi mengenai edaran angket komite tersebut.

Investigasi lebih lanjut dari Inspektorat dinanti publik untuk memastikan institusi sekolah negeri bebas dari komersialisasi.

​Bagaimana tanggapan Anda mengenai dugaan pungli berkedok sumbangan komite di sekolah negeri ini? Sampaikan opini Anda di kolom komentar dan baca terus pembaruan berita pendidikan serta kebijakan publik di Kota Bekasi hanya di RakyatBekasi.Com.


Eksplorasi konten lain dari Beyond Your Local News

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ultimatum Wali Kota Bekasi Jelang Konstruksi Fly Over Bulak Kapal 15 November: Bongkar Mandiri Pekan Depan atau Dieksekusi Pemkot!
Dilirik Wali Kota Mississauga Kanada Berdarah Indonesia, Tri Adhianto Siap Jajaki Sister City Sektor Farmasi hingga Aerospace
Polemik Grand Kamala Lagoon: Evaluasi SE Wali Kota Bekasi, Pembentukan P3SRS, hingga IPL Rp622 Ribu
Pemkot Bekasi Matangkan Rekayasa Lalu Lintas Fly Over Bulak Kapal
Wali Kota Bekasi Pastikan Proyek Fly Over Bulak Kapal Dimulai 15 November 2026
Fly Over Bulak Kapal Bekasi Rp188 Miliar Ditargetkan Rampung Awal 2028
Menko AHY Turun Langsung Tinjau Kesiapan Proyek Fly Over Bulak Kapal
GPB2P Minta Ketua DPRD Kabupaten Bekasi Ade Syukron Kawal Kritis Kebijakan Bupati Asep
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:59 WIB

Ultimatum Wali Kota Bekasi Jelang Konstruksi Fly Over Bulak Kapal 15 November: Bongkar Mandiri Pekan Depan atau Dieksekusi Pemkot!

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:43 WIB

Dilirik Wali Kota Mississauga Kanada Berdarah Indonesia, Tri Adhianto Siap Jajaki Sister City Sektor Farmasi hingga Aerospace

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:06 WIB

Polemik Grand Kamala Lagoon: Evaluasi SE Wali Kota Bekasi, Pembentukan P3SRS, hingga IPL Rp622 Ribu

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:06 WIB

Pemkot Bekasi Matangkan Rekayasa Lalu Lintas Fly Over Bulak Kapal

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:02 WIB

Fly Over Bulak Kapal Bekasi Rp188 Miliar Ditargetkan Rampung Awal 2028

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Beyond Your Local News

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x