- Lokasi Ikonik: Jalan Sunan Drajat berlokasi strategis di kawasan Rawamangun, tepat di antara Kampus UNJ dan Jalan Balai Pustaka.
- Profil Ulama: Didedikasikan untuk Sunan Drajat (Raden Qasim), anggota Wali Songo putra Sunan Ampel.
- Pendekatan Kultural: Berhasil menyiarkan Islam melalui seni tradisional, khususnya menggunakan seperangkat gamelan pusaka bernama Singa Mengkok.
- Ajaran Moral: Mewariskan filosofi hidup Pepali Pitu yang menekankan pentingnya kepedulian pada fakir miskin, etos kerja, dan semangat gotong royong.
Menjelang perayaan HUT RI ke-81, seri ulasan sejarah jalan protokol edisi ke-41 dari 45 (Rabu, 12/08/2026) kembali hadir menyoroti denyut nadi ibu kota.
Seniman Kemerdekaan Peraih Rekor MURI, Zenza TekSas, membedah Sejarah Jalan Sunan Drajat di Jakarta Timur.
Ruas jalan ini mengabadikan nama Raden Qasim, ulama Wali Songo yang mengajarkan nilai-nilai inklusivitas sosial melalui medium seni gamelan Singa Mengkok.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menelusuri Sejarah Jalan Sunan Drajat di Kawasan Rawamangun
Di Mana Tepatnya Lokasi Jalan Sunan Drajat dan Siapa Sosok di Baliknya?
Di sudut timur ibu kota, nama tokoh Wali Songo ini terukir sebagai pengingat peradaban, bersanding dengan pusat-pusat pendidikan modern.
”Di antara denyut nadi kawasan Rawamangun, tepatnya di ruang lapang yang membentang di antara Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Jalan Balai Pustaka, terselip sebuah kompleks perumahan yang menyimpan memori kultural yang kuat. Uniknya, hampir seluruh jalan di perumahan ini dinamai dengan merujuk pada para tokoh Wali Songo,” ujar Zenza TekSas kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Rabu (12/08/2026).
Jalan Sunan Drajat diambil dari sosok Raden Qasim (Raden Hasyim), yang memegang peranan krusial menyiarkan agama Islam di wilayah pesisir utara Lamongan, Jawa Timur.
Beliau merupakan putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Keberhasilannya berdakwah di Desa Drajat, Paciran, membuat Raja Demak (Raden Fatah) memberinya gelar kehormatan Sunan Mayang Madu.
Bagaimana Pendekatan Dakwah Sunan Drajat Mampu Merangkul Masyarakat Kecil?
Keberhasilan Sunan Drajat dalam menarik simpati masyarakat tidak lepas dari pendekatan dakwahnya yang humanis, inklusif, dan turun tangan langsung membantu rakyat miskin.
Beliau tidak hanya mengajarkan tata cara beribadah secara teoretis, melainkan mewujudkannya dalam aksi sosial nyata.
Sunan Drajat memprioritaskan pertolongan kepada fakir miskin, menyantuni anak yatim, serta merangkul orang-orang terlantar. Agar ajarannya mudah diterima tanpa ada paksaan, beliau memadukan ajaran tauhid dengan kesenian.
Sang ulama menggunakan tembang-tembang Jawa sarat makna dan melantunkannya diiringi seperangkat gamelan pusaka bernama Singa Mengkok sebagai sarana dakwah massa.
Apa Itu Ajaran Pepali Pitu dalam Sejarah Jalan Sunan Drajat?
Bukti nyata dedikasi sosialnya tertuang secara abadi dalam warisan filosofi hidup bernama Pepali Pitu (Tujuh Larangan/Pantangan).
Ajaran ini merumuskan tujuh prinsip utama yang sangat relevan untuk diteladani di era modern. Pepali Pitu berinti pada pesan moral tentang pentingnya kepedulian pada kaum papa, etos kerja keras, kesetiakawanan, serta gotong royong sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat yang harmonis.
Keberadaan Jalan Sunan Drajat di tengah hiruk-pikuk kawasan edukasi dan komersial Rawamangun seolah menjadi pengingat sunyi bagi warga metropolitan.
Bahwa sejarah mencatat, agama yang paling luhur disebarkan melalui cinta kasih, kepedulian sosial, dan akulturasi budaya.
Bagaimana menurut Anda, mungkinkah metode dakwah kultural ini diterapkan kembali di masa kini? Tinggalkan opini Anda di kolom komentar! Ikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi [di sini] agar selalu update berita politik, ekonomi, dan ulasan sejarah nusantara terbaru.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















