Sedot 50% APBD 2026, Belanja Pegawai Pemkot Bekasi Terancam ‘Membengkak’

- Jurnalis

Senin, 4 Agustus 2025 - 10:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kantor Wali Kota Bekasi.

Kantor Wali Kota Bekasi.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menyuarakan kekhawatirannya terkait potensi pembengkakan belanja pegawai dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2026.

Menurutnya, alokasi untuk gaji dan tunjangan aparatur sipil negara (ASN) diproyeksikan bisa menyedot hampir 50% dari total anggaran, sebuah angka yang menuntut strategi fiskal yang cermat.

Peningkatan signifikan ini terutama didorong oleh rencana pemerintah untuk mengangkat ribuan tenaga honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Beban Fiskal dari Konversi Honorer ke PPPK

Saat ditemui di Plaza Pemkot Bekasi pada Senin (04/08/2025), Tri Adhianto menjelaskan bahwa saat ini porsi belanja pegawai sudah mendekati angka 45% dari APBD. Angka ini berpotensi melonjak drastis jika lebih dari 3.000 Tenaga Kerja Kontrak (TKK) dan honorer di lingkungan Pemkot Bekasi berhasil diangkat menjadi PPPK.

“Belanja pegawai kita ini memang cukup luar biasa, hari ini sudah mendekati 45%. Angka itu belum termasuk rekan-rekan honorer yang nasibnya tengah kita perjuangkan menjadi PPPK,” ujar Tri.

Jika proses konversi ini terwujud, status pembayaran honor mereka yang semula masuk dalam pos belanja jasa akan beralih ke pos belanja pegawai.

“Kalau ini sudah masuk ke dalam belanja pegawai, tentu nanti hampir 50% APBD kita dipakai untuk pembayaran pegawai,” tambahnya.

Strategi Pemkot: Genjot PAD, Tolak Opsi PHK

Menghadapi tantangan fiskal ini, Tri Adhianto menegaskan bahwa Pemkot Bekasi tidak akan mengambil opsi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bagi para tenaga honorer yang telah berkontribusi.

Strategi utama yang akan ditempuh adalah menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara agresif.

“Strategi yang sudah saya sampaikan adalah kita tidak akan ada yang namanya PHK. Seluruh tenaga yang sudah memberikan kontribusi dalam pelayanan kepada masyarakat akan kita pertahankan,” tegasnya.

Menurutnya, dengan meningkatkan total pendapatan daerah, persentase beban belanja pegawai secara otomatis akan menurun.

“Bagaimana sekarang kita melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan pendapatan kita. Tinggal otomatis pendapatannya naik, tentu persentasenya berkurang,” jelas Tri.

Konteks Anggaran 2026 dan Optimisme Wali Kota

Kekhawatiran ini muncul di tengah pembahasan rancangan KUA-PPAS untuk APBD 2026, di mana total belanja daerah diproyeksikan mencapai Rp 7,85 triliun, sementara target pendapatan berada di angka Rp 6,88 triliun. Dengan porsi belanja pegawai yang besar, ruang fiskal untuk program pembangunan publik menjadi semakin terbatas.

Meski demikian, ketika ditanya mengenai potensi terjadinya turbulensi keuangan atau gagal bayar, Tri Adhianto menyatakan optimismenya. Ia membandingkan strategi Bekasi dengan daerah lain yang memilih untuk memutus kontrak tenaga honorer.

“Ya, kami masih cukup optimis. Karena di beberapa daerah lain, justru yang dilakukan adalah mereka memutuskan kontrak yang ada. Kita memilih untuk mempertahankan dan mencari solusi lewat peningkatan pendapatan,” pungkasnya.

Keseimbangan antara belanja pegawai dan alokasi untuk pembangunan publik adalah kunci kemajuan kota. Mari bersama-sama mengawasi realisasi strategi peningkatan PAD dan proses penyusunan APBD 2026 agar tetap berpihak pada kepentingan masyarakat luas.


Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Banpres Rp200 Miliar Dipastikan Cair, Kontruksi Flyover Bulak Kapal Dimulai September 2026
Kisah Rumah Makan Gratis di Jatiasih Bekasi, Sediakan 100 Porsi Setiap Hari
Pasca Kecelakaan Maut, Palang Otomatis Bulak Kapal Ditargetkan Beroperasi Oktober 2026
Pasca Kecelakaan Maut Bulak Kapal, Dishub Kaji Penjagaan Perlintasan 24 Jam
Ratusan Pegawai Pemkot Bekasi Mangkir Apel, Wali Kota Tri Adhianto Murka
​Dua Ribu Hektar Sawah Kering Total, Ratusan Petani Pebayuran Kepung Pemkab Bekasi
Perumda Tirta Patriot Jamin Pasokan Air Bersih untuk Operasional PSEL Sumurbatu
KAI Respons Kecelakaan Maut Bulak Kapal Bekasi: 4 Perjalanan KA Terlambat 242 Menit
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 18:32 WIB

Banpres Rp200 Miliar Dipastikan Cair, Kontruksi Flyover Bulak Kapal Dimulai September 2026

Selasa, 28 Juli 2026 - 15:27 WIB

Kisah Rumah Makan Gratis di Jatiasih Bekasi, Sediakan 100 Porsi Setiap Hari

Selasa, 28 Juli 2026 - 12:25 WIB

Pasca Kecelakaan Maut, Palang Otomatis Bulak Kapal Ditargetkan Beroperasi Oktober 2026

Selasa, 28 Juli 2026 - 10:25 WIB

Ratusan Pegawai Pemkot Bekasi Mangkir Apel, Wali Kota Tri Adhianto Murka

Selasa, 28 Juli 2026 - 01:03 WIB

​Dua Ribu Hektar Sawah Kering Total, Ratusan Petani Pebayuran Kepung Pemkab Bekasi

Berita Terbaru

PENA KEMERDEKAAN: Suasana jalan raya dan lalu lintas di sekitar ruas Jalan Abdul Muis, kawasan tersembunyi di balik Jalan Merdeka Barat, dekat Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Selasa (28/07/2026). Penamaan jalan protokol ini didedikasikan secara khusus untuk menghormati Abdoel Moeis, jurnalis kritis pendiri koran Hindia Serikat, pengarang mahakarya novel Salah Asuhan, sekaligus tokoh yang tercatat sebagai orang pertama penerima gelar Pahlawan Nasional di Indonesia. (Foto: Ilustrasi/RakyatBekasi.com)

Ekstra

Sejarah Jalan Abdul Muis: Pahlawan Nasional Pertama RI

Selasa, 28 Jul 2026 - 13:11 WIB

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x