Poin Utama:
- Pencarian Tanpa Henti: Manusia selalu mencari kebahagiaan hakiki di bumi, namun rasa tak pernah puas membuatnya terus merasa ‘kehilangan surga’ yang sesungguhnya.
- Relativitas Kebahagiaan: Definisi “surga” bersifat relatif, di mana si miskin mengejar uang untuk kenikmatan, sementara si kaya terjebak pusaran hasrat material yang tak pernah kenyang.
- Kenikmatan Setipis Lidah: Syahrul menegaskan hakikat kenikmatan ragawi hanya setipis syaraf-syaraf pencecap di lidah, tidak abadi dan rapuh.
- Tujuan Utama Adalah Keselamatan: Manusia seharusnya fokus pada keselamatan hidup dunia dan akhirat dengan tunduk pada prinsip ilahi, bukan melayani nafsu syahwat yang tak pernah puas.
Penulis buku ternama, Syahrul E Dasopang, menyampaikan pesan mendalam mengenai pencarian kebahagiaan sejati manusia saat berbincang dengan awak media di Bekasi.
Ia menegaskan, hasrat manusia yang tak pernah puas membuat mereka ‘kehilangan surga’ yang sesungguhnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam konteks kehidupan di Bekasi yang dinamis, ia menyoroti rapuhnya kepuasan material dan pentingnya fokus pada keselamatan hidup dunia-akhirat.
Mengapa Manusia Selalu Merasa Kehilangan Surga?
“Manusia itu makhluk yang selalu dan tak pernah berhenti mencari sumber kebahagiaan hakiki, karena jiwanya terus-menerus merasa kehilangan surga tersebut,” kata Syahrul E Dasopang, penulis buku “Manusia: Makhluk yang Kehilangan Surga,” kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Selasa (14/05/2024).
Ia menuturkan, setiap insan memiliki takaran surganya sendiri-sendiri, yang sangat dipengaruhi oleh keadaan hidup dan jiwanya.
Contoh konkretnya, si miskin yang kekurangan uang akan menakar surganya jika memiliki uang melimpah.
“Sebab dipikirnya, dengan uang yang dimilikinya, dia dapat membeli setiap sumber kebahagian dan kenikmatan yang terhalang dijangkaunya oleh karena sebab tiada uang padanya,” paparnya.
Sedangkan bagi si kaya, meskipun materi melimpah untuk membeli segalanya, tidak semua dapat ditebusnya dengan uang.
Ia menjelaskan, si kaya seringkali mendapati jiwanya tak pernah kenyang dan selalu lapar akan kenikmatan demi kenikmatan baru, tanpa pernah mencapai final pencarian.
Di Mana Letak Kenikmatan Sejati yang Sesungguhnya?
Syahrul menjelaskan, esensi kenikmatan ragawi tidak bersembunyi pada bumbu atau bahan baku, melainkan terselip di ujung lidah dan sistem tubuh yang mereaksi. Ia menekankan rapuhnya kepuasan indrawi ini melalui analogi yang kuat.
“Kenikmatan ragawi itu terselip di ujung lidahnya, pada syaraf-syaraf pencecap yang merasai makanan yang beraneka jenis, tekstur, aroma, rasa, warna, dan segalanya itu. Syaraf dan hormon itu sendiri tidak berdiri sendiri, keduanya ada karena keseluruhan organ dan sistem tubuhnya berfungsi baik dan sehat.”
- Syahrul E Dasopang, Penulis Buku
Ia menambahkan fakta kuat: sajian lezat tak berarti bagi orang dengan diabetes. “Betapapun lezatnya nasi panas dengan rendang padang dan kepiting yang digulai bersama udang, kalau diberikan pada orang dalam keadaan sakit diabetes, kelezatan itu hilang padanya,” jelasnya.
“Dia tak akan menyentuh hidangan semacam itu demi menghindari unsur gula pada nasi yang mengebul. Baginya lebih baik diberikan padanya seonggok rebusan kentang dan ubi.”
Bagaimana Mencapai Keselamatan Dunia dan Akhirat?
Mencapai keselamatan dunia dan akhirat hanya bisa dilakukan dengan tunduk dan ridla pada setiap suruhan dan larangan Allah.
Syahrul menegaskan, fokus manusia semestinya bukan memuaskan hawa nafsu atau mengejar kenikmatan semu, melainkan memastikan keselamatan hidup yang menyeluruh.
”Ternyata hakikatnya setipis dan seringkih itu,” ujar mantan Ketum PB HMI ini.
Ia mengingatkan bahwa yang disuruh bukanlah memuaskan hawa nafsu dan mengejar kenikmatan, melainkan keselamatan hidup, lengkap keselamatan di dunia dan akhirat.
Syahrul menyimpulkan bahwa keselamatan diri di dunia dan akhirat adalah tujuan paling esensial. “Sebab syahwat itu merupakan pembakar energi agar kita hidup dengan baik, tapi bukan maksud hidup itu sendiri,” pungkasnya.
Kritik tajam dari Syahrul E Dasopang ini membuka mata kita akan relativitas kebahagiaan duniawi dan pentingnya mengejar keselamatan hidup yang hakiki. Di tengah dinamisasi Kota Bekasi, mari kita merenungkan kembali tujuan hidup kita yang sesungguhnya.
Bagaimana pendapat Anda mengenai pandangan ini? Silakan tinggalkan komentar Anda di bawah ini dan jangan lupa bagikan berita ini kepada orang terkasih.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







