Poin Utama:
- Jalur Urat Nadi: Membentang strategis di antara Monas dan Bundaran HI, Jalan M.H. Thamrin merupakan pusat denyut peradaban Ibu Kota.
- Karier Moncer: Merangkak dari dewan kota hingga menjabat sebagai Wakil Wali Kota Batavia di era kolonial Belanda.
- Singa Parlemen: Dikenal sangat vokal membela nasib pribumi dan rela menyumbangkan gaji pribadinya untuk infrastruktur kampung kumuh.
- Intaian Intelijen: Wafat dalam status tahanan rumah pada 11 Januari 1941 akibat tuduhan sepihak intelijen kolonial Belanda.
Melanjutkan misi literasi sejarah menuju HUT RI, Seniman Kemerdekaan asal Kota Bekasi, Zenza TekSas, merilis naskah kelimanya pada Selasa (07/07/2026).
Tulisan ini membedah sejarah di balik gemerlap Jalan M.H. Thamrin, jalan protokol yang menjadi urat nadi peradaban modern Ibu Kota.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di balik rimbunnya gedung pencakar langit tersebut, tersimpan jejak abadi sang Singa Parlemen yang hidupnya dihabiskan untuk membela kaum pribumi.
Siapa Sebenarnya Sosok M.H. Thamrin di Era Kolonial?
Dilahirkan di Sawah Besar, Jakarta, pada 16 Februari 1894, Mohammad Hoesni Thamrin tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mapan.
Ia adalah putra dari Noerhamah dan Thamrin Mohammad Thabrie, seorang wedana Batavia yang sangat dihormati.
Menariknya, dalam tubuh Thamrin juga mengalir darah Eropa dari sang kakek yang merupakan pengusaha Inggris.
Latar belakang keluarga terpandang ini memberinya hak istimewa untuk mengakses pendidikan tinggi. Ia memulai kariernya di lingkaran pemerintahan Hindia Belanda dari pegawai dewan kota hingga sukses mencapai posisi strategis sebagai Wakil Wali Kota Batavia (wethouder).
”Bagi orang lain, posisi nyaman di bawah ketiak kolonial mungkin sudah lebih dari cukup untuk hidup tenang. Namun bagi Thamrin, jabatan dan setumpuk fasilitas itu justru menjadi senjata strategis,” kata Zenza TekSas kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Selasa (07/07/2026).
Mengapa M.H. Thamrin Dijuluki Sebagai Singa Parlemen?
Jiwa Betawinya yang lugas membuat Thamrin menolak berjarak dengan rakyat. Ia sadar bahwa perlawanan terhadap kolonial tidak harus menggunakan moncong senjata, melainkan lewat adu argumen yang tajam dan diplomasi elegan di parlemen (Volksraad).
Pada tahun 1923, ia mendirikan organisasi Kaoem Betawi untuk menyatukan suara masyarakat asli Jakarta yang kerap tersisih.
Di ruang sidang dewan, ia menjelma menjadi “Singa Parlemen” yang menggugat pemerintah kolonial karena hanya sibuk membangun kawasan elite Eropa dan membiarkan kampung pribumi kumuh tanpa sanitasi.
Keberpihakan Thamrin dibuktikan melalui aksi nyata, di antaranya:
- Gaji untuk Rakyat: Menyumbangkan kantong pribadinya untuk membangun saluran air dan fasilitas kesehatan di kawasan kumuh Batavia.
- Fraksi Nasional (1930): Memprakarsai kekuatan wakil bangsa Indonesia di parlemen kolonial untuk menuntut kemandirian bangsa dalam satu komando.
Bagaimana Akhir Hayat Sang Pahlawan di Bawah Intaian Belanda?
Vokal, cerdas, dan dicintai rakyat membuat pemerintah Hindia Belanda gerah dan ketakutan. Menjelang akhir 1930-an, ruang gerak Thamrin mulai dipersempit dan terus dimata-matai oleh politieke inlichtingen dienst (dinas intelijen kolonial).
Puncaknya, ia dituduh secara sepihak telah bekerja sama dan bersimpati kepada pergerakan Jepang. Dalam kondisi kesehatan yang terus menurun, Thamrin dijatuhi hukuman tahanan rumah, diisolasi dari dunia luar, hingga akhirnya wafat pada 11 Januari 1941. Ratusan ribu rakyat berduka dan mengantarkan sang pembela ke TPU Karet Bivak.
Kini, selain diabadikan menjadi nama jalan protokol terpenting di Indonesia, warisannya juga dirawat melalui sebuah museum di Jakarta Pusat.
M.H. Thamrin bukan sekadar plang nama jalan berwarna hijau-putih. Ia adalah pengingat elegan bagi para pemimpin daerah bahwa kemajuan tata kota tidak diukur dari megahnya gedung pencakar langit, melainkan dari seberapa sejahtera dan bermartabat rakyat kecil yang hidup di bawahnya.
Bagaimana sosok “Singa Parlemen” ini menginspirasi Anda? Bagikan opini kritis Anda di kolom komentar dan terus pantau serial eksklusif 45 Tokoh Bangsa di Balik Nama Jalan Protokol hanya di RakyatBekasi.com. Jangan lupa bagikan artikel sejarah ini ke grup perpesanan Anda!
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







