Sejarah Jalan MH Thamrin: Singa Parlemen Pembela Pribumi

- Jurnalis

Selasa, 7 Juli 2026 - 06:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. (Nano Banana Pro2)

Ilustrasi. (Nano Banana Pro2)

Poin Utama:

  • Jalur Urat Nadi: Membentang strategis di antara Monas dan Bundaran HI, Jalan M.H. Thamrin merupakan pusat denyut peradaban Ibu Kota.
  • Karier Moncer: Merangkak dari dewan kota hingga menjabat sebagai Wakil Wali Kota Batavia di era kolonial Belanda.
  • Singa Parlemen: Dikenal sangat vokal membela nasib pribumi dan rela menyumbangkan gaji pribadinya untuk infrastruktur kampung kumuh.
  • Intaian Intelijen: Wafat dalam status tahanan rumah pada 11 Januari 1941 akibat tuduhan sepihak intelijen kolonial Belanda.

​Melanjutkan misi literasi sejarah menuju HUT RI, Seniman Kemerdekaan asal Kota Bekasi, Zenza TekSas, merilis naskah kelimanya pada Selasa (07/07/2026).

Tulisan ini membedah sejarah di balik gemerlap Jalan M.H. Thamrin, jalan protokol yang menjadi urat nadi peradaban modern Ibu Kota.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di balik rimbunnya gedung pencakar langit tersebut, tersimpan jejak abadi sang Singa Parlemen yang hidupnya dihabiskan untuk membela kaum pribumi.

​Siapa Sebenarnya Sosok M.H. Thamrin di Era Kolonial?

​Dilahirkan di Sawah Besar, Jakarta, pada 16 Februari 1894, Mohammad Hoesni Thamrin tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mapan.

Ia adalah putra dari Noerhamah dan Thamrin Mohammad Thabrie, seorang wedana Batavia yang sangat dihormati.

Menariknya, dalam tubuh Thamrin juga mengalir darah Eropa dari sang kakek yang merupakan pengusaha Inggris.

​Latar belakang keluarga terpandang ini memberinya hak istimewa untuk mengakses pendidikan tinggi. Ia memulai kariernya di lingkaran pemerintahan Hindia Belanda dari pegawai dewan kota hingga sukses mencapai posisi strategis sebagai Wakil Wali Kota Batavia (wethouder).

​”Bagi orang lain, posisi nyaman di bawah ketiak kolonial mungkin sudah lebih dari cukup untuk hidup tenang. Namun bagi Thamrin, jabatan dan setumpuk fasilitas itu justru menjadi senjata strategis,” kata Zenza TekSas kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Selasa (07/07/2026).

​Mengapa M.H. Thamrin Dijuluki Sebagai Singa Parlemen?

​Jiwa Betawinya yang lugas membuat Thamrin menolak berjarak dengan rakyat. Ia sadar bahwa perlawanan terhadap kolonial tidak harus menggunakan moncong senjata, melainkan lewat adu argumen yang tajam dan diplomasi elegan di parlemen (Volksraad).

​Pada tahun 1923, ia mendirikan organisasi Kaoem Betawi untuk menyatukan suara masyarakat asli Jakarta yang kerap tersisih.

Di ruang sidang dewan, ia menjelma menjadi “Singa Parlemen” yang menggugat pemerintah kolonial karena hanya sibuk membangun kawasan elite Eropa dan membiarkan kampung pribumi kumuh tanpa sanitasi.

​Keberpihakan Thamrin dibuktikan melalui aksi nyata, di antaranya:

  • Gaji untuk Rakyat: Menyumbangkan kantong pribadinya untuk membangun saluran air dan fasilitas kesehatan di kawasan kumuh Batavia.
  • Fraksi Nasional (1930): Memprakarsai kekuatan wakil bangsa Indonesia di parlemen kolonial untuk menuntut kemandirian bangsa dalam satu komando.

​Bagaimana Akhir Hayat Sang Pahlawan di Bawah Intaian Belanda?

​Vokal, cerdas, dan dicintai rakyat membuat pemerintah Hindia Belanda gerah dan ketakutan. Menjelang akhir 1930-an, ruang gerak Thamrin mulai dipersempit dan terus dimata-matai oleh politieke inlichtingen dienst (dinas intelijen kolonial).

​Puncaknya, ia dituduh secara sepihak telah bekerja sama dan bersimpati kepada pergerakan Jepang. Dalam kondisi kesehatan yang terus menurun, Thamrin dijatuhi hukuman tahanan rumah, diisolasi dari dunia luar, hingga akhirnya wafat pada 11 Januari 1941. Ratusan ribu rakyat berduka dan mengantarkan sang pembela ke TPU Karet Bivak.

​Kini, selain diabadikan menjadi nama jalan protokol terpenting di Indonesia, warisannya juga dirawat melalui sebuah museum di Jakarta Pusat.

​M.H. Thamrin bukan sekadar plang nama jalan berwarna hijau-putih. Ia adalah pengingat elegan bagi para pemimpin daerah bahwa kemajuan tata kota tidak diukur dari megahnya gedung pencakar langit, melainkan dari seberapa sejahtera dan bermartabat rakyat kecil yang hidup di bawahnya.

​Bagaimana sosok “Singa Parlemen” ini menginspirasi Anda? Bagikan opini kritis Anda di kolom komentar dan terus pantau serial eksklusif 45 Tokoh Bangsa di Balik Nama Jalan Protokol hanya di RakyatBekasi.com. Jangan lupa bagikan artikel sejarah ini ke grup perpesanan Anda!


Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pelatihan Satpam Gratis SPD Group: Solusi Cerdas Pencari Kerja
Drone Syahid Ubah Tatanan Perang, Negara Adidaya Ketar-ketir
Sejarah Jalan Prof M Yamin: Sang Arsitek Sumpah Pemuda
PM Anwar Ungkap Dana Pensiun Malaysia Bobol Rp880 Miliar Akibat Ulah Gibran
Sejarah Jalan KH Wahid Hasyim: Menteri Agama Pertama RI
Sejarah Jalan H Agus Salim: Diplomat Melarat Perintis Negara Kesatuan Republik Indonesia
Sejarah Jalan Cut Meutia: Srikandi Aceh Penantang Penjajah
Suhu Ekstrem Eropa Renggut 14.000 Nyawa, Jerman Terparah
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 17:23 WIB

Pelatihan Satpam Gratis SPD Group: Solusi Cerdas Pencari Kerja

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:47 WIB

Drone Syahid Ubah Tatanan Perang, Negara Adidaya Ketar-ketir

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:24 WIB

Sejarah Jalan Prof M Yamin: Sang Arsitek Sumpah Pemuda

Jumat, 17 Juli 2026 - 03:47 WIB

Sejarah Jalan KH Wahid Hasyim: Menteri Agama Pertama RI

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:19 WIB

Sejarah Jalan H Agus Salim: Diplomat Melarat Perintis Negara Kesatuan Republik Indonesia

Berita Terbaru

ARSITEK BANGSA: Suasana lalu lintas dan pepohonan rindang di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat, yang mengelilingi Jalan Prof. M. Yamin. Nama jalan bergengsi ini diabadikan untuk menghormati Pahlawan Nasional Prof. Mr. Mohammad Yamin, tokoh intelektual serbabisa yang merumuskan ikrar Sumpah Pemuda 1928, pencetus dasar awal Pancasila, sekaligus pelopor sistem hukum uji materi di Indonesia. (Foto: Ilustrasi/RakyatBekasi.com)

Ekstra

Sejarah Jalan Prof M Yamin: Sang Arsitek Sumpah Pemuda

Sabtu, 18 Jul 2026 - 13:24 WIB

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x