- Pelajaran filsafat dinilai mendesak untuk dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan tingkat Sekolah Dasar (SD) guna mencegah dangkalnya nalar analitis anak.
- Pendidikan dasar saat ini terlalu berfokus pada ilmu turunan teknis, sehingga mengabaikan filsafat yang bertindak sebagai induk segala keilmuan.
- Pengenalan filsafat melatih generasi muda sejak dini untuk berpikir kritis, radikal, dan selalu memulai identifikasi masalah dari pertanyaan fundamental (“kenapa”).
- Wali Kota Bekasi beserta Dinas Pendidikan didorong segera merumuskan kurikulum filsafat elementer agar pelajar di wilayah aglomerasi tidak mudah termanipulasi informasi.
Kurikulum pendidikan dasar di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi dinilai perlu segera mengadopsi pelajaran filsafat sebagai mata pelajaran wajib.
Langkah revolusioner ini diusulkan untuk mengatasi fenomena rendahnya daya nalar, sikap analitis, dan pemikiran kritis generasi muda di tengah era banjir informasi.
Pemkot Bekasi melalui Dinas Pendidikan didesak untuk merumuskan kurikulum filsafat elementer agar para pelajar tidak terbiasa hanya membebek pada narasi permukaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Urgensi Pemkot Bekasi Merombak Pendidikan SD di Bekasi Berbasis Filsafat
Mengapa Anak SD Perlu Mempelajari Filsafat Sejak Dini?
Anak usia Sekolah Dasar perlu dikenalkan pada filsafat karena disiplin ini merupakan induk dari segala keilmuan seperti Matematika, Fisika, hingga Ekonomi.
Sangat disayangkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia justru mengajarkan ilmu turunan tersebut terlebih dahulu tanpa membangun fondasi logika berpikirnya.
”Maka sudah waktunya diajarkan filsafat, atau ilmu cara bernalar logis, analitis, radikal dan kritis sejak SD. Anak SD sudah sepantasnya tahu apa itu filsafat, sejarahnya, tokoh-tokohnya, hingga mazhab-mazhabnya,” kata Penulis Buku Ilmu Berpikir, Syahrul E Dasopang kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Minggu (02/08/2026).
Pemaparan filsafat tingkat elementer di lingkungan sekolah akan melatih nalar siswa agar tidak terjebak pada pemahaman teknis semata.
Proses ini dinilai sama sekali tidak ganjil, dan justru berbobot setara dengan pentingnya mengajarkan pelajaran sejarah nasional kepada anak-anak.
Apa Dampak Buruk Jika Siswa Terlambat Diajarkan Cara Berpikir Kritis?
Ketiadaan kurikulum yang merangsang daya kritis sejak dini menyebabkan masyarakat tumbuh dengan kecenderungan ikut-ikutan tanpa memahami esensi sebuah tindakan.
Orang yang tidak terbiasa berpikir mendalam sejak bangku SD akan jauh lebih mudah dimanipulasi dan didefinisikan secara sepihak oleh otoritas.

Menurut Syahrul, filsafat merangsang dorongan keingintahuan (curiosity) yang kuat dengan membiasakan siswa bertanya “kenapa” ketimbang sekadar “apa”.
Logika awal seperti pertanyaan “kenapa manusia ada?” akan menumbuhkan kedewasaan berpikir yang perlahan berkembang untuk menjawab pertanyaan teknis lanjutan seperti “bagaimana”, “kapan”, dan “di mana”.
Menunda pelajaran fundamental ini hingga siswa dewasa dinilai sangat terlambat dan tidak efektif dalam membentuk karakter pemikir.
Bagaimana Negara Lain Sukses Mengembangkan Nalar Masyarakatnya?
Sebagai perbandingan nyata, lanjut dia, kemajuan intelektual dan mental masyarakat di beberapa negara sangat dipengaruhi oleh keakraban institusi pendidikannya terhadap filsafat.
Negara seperti Iran, contohnya, mampu mencetak masyarakat berdaya saing global karena mereka lazim bersinggungan dengan ilmu logika secara komprehensif.
Praktik baik semacam ini menuntut penyelenggara pendidikan di wilayah padat penduduk seperti Kelurahan Aren Jaya hingga Kecamatan Bantargebang untuk mulai berbenah.
Jika ruang kelas hanya mencetak robot-robot penghafal teks, ketahanan intelektual generasi penerus di Bekasi akan terus tergilas oleh arus zaman.
Memasukkan ilmu filsafat ke dalam bangku Sekolah Dasar bukanlah hal yang mustahil jika Wali Kota Bekasi dan jajaran Pemkot Bekasi memiliki komitmen kuat untuk mencerdaskan warganya secara fundamental.
Menunggu siswa beranjak dewasa untuk membedah pertanyaan-pertanyaan radikal dan esensial hanya akan melanggengkan budaya berpikir dangkal di tengah masyarakat urban.
Silakan sampaikan opini Anda mengenai wacana kurikulum filsafat SD ini di kolom komentar, bagikan tautan berita ini ke grup wali murid, dan pantau terus ulasan pendidikan terkini hanya di RakyatBekasi.Com.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
Penulis : Syahrul E Dasopang
Editor : Bung Ewox







