Poin Utama:
- Wali Kota Bekasi Tri Adhianto bersepeda dari kediamannya di Kemang Pratama, Rawalumbu, menuju Plaza Pemkot Bekasi pada Jumat (10/04/2026).
- Aksi gowes tanpa iring-iringan mobil patwal ini menjadi bentuk keteladanan nyata efisiensi operasional berbahan bakar fosil.
- Pemkot Bekasi mulai memadukan kebijakan ini dengan sistem Work From Home (WFH) setiap Jumat guna menekan konsumsi energi listrik dan emisi gas buang.
- Tri Adhianto merencanakan kepulangan dari kantor menggunakan transportasi publik bus Trans Batik (Trans Bekasi Keren).
Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi tampaknya mulai serius merespons krisis polusi udara dan isu pemborosan energi.
Menampik anggapan pejabat hanya pandai membuat aturan tanpa pelaksanaan, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto membuktikan komitmennya dengan bersepeda dari kediamannya di kawasan Kemang Pratama, Rawalumbu, menuju Kantor Pemkot Bekasi di Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, Jumat (10/04/2026) pagi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aksi ini sekaligus menjadi tamparan halus bagi aparatur daerah agar tidak lagi bergantung pada kendaraan bermotor pribadi untuk mobilitas kerja harian.
Mengapa Wali Kota Bekasi Pilih Naik Sepeda ke Kantor Pemkot?
Langkah nekat membelah kemacetan Bekasi dengan sepeda ini merupakan bentuk keteladanan langsung dari Kepala Daerah untuk menekan penggunaan kendaraan operasional yang menguras Bahan Bakar Minyak (BBM).
Keputusan ini sekaligus memangkas keistimewaan protokoler pejabat yang biasanya identik dengan iring-iringan mewah.
”Mudah-mudahan menjadi lebih efisien lah menggunakan bahan bakar. Karena kalau Pak Wali yang jalan kan, satu ada patwal, dua ada mobil pendamping. Karena hari ini kan semua lepas, jadi ajudan pun naik sepeda, fotografer naik sepeda,” kata Tri Adhianto kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com di pelataran Kantor Pemkot Bekasi, Jalan Ahmad Yani, Jumat (10/04/2026).
Bagaimana Kebijakan WFH dan Transportasi Non-BBM Diterapkan?
Setiap hari Jumat, Pemkot Bekasi kini menginstruksikan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk menerapkan skema Work From Home (WFH) guna menghemat energi listrik di perkantoran.
Bagi yang harus berdinas secara luring, mereka diwajibkan beralih menggunakan transportasi umum atau kendaraan bebas emisi.
”Jadi dimulai dari keteladanan, insyaallah tentu niatan baik kita, bahwa memang bukan karena kita tidak mampu membayar, tetapi bagaimana agar cadangan bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih efektif lagi,” tegas Tri Adhianto.
Apa Alternatif Transportasi Umum Bagi Pejabat Pemkot Bekasi?
Selain bersepeda, integrasi transportasi publik lokal juga menjadi andalan utama. Hal ini didukung oleh ketersediaan rute angkutan massal yang diklaim sudah mampu mengakomodasi mobilitas dari kawasan perumahan padat penduduk menuju pusat pemerintahan.
”Memang kebetulan saya tempat tinggalnya dilalui oleh angkutan umum. Jadi kalau mungkin nanti pulang kita naik Trans Batik (Trans Bekasi Keren),” ucap Tri Adhianto.
Kebijakan revolusioner ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai rutinitas seremonial hari Jumat semata, melainkan mampu menggeser gaya hidup pragmatis para pejabat dan masyarakat luas di wilayah aglomerasi.
Bagaimana pendapat Anda tentang aksi gowes Wali Kota Bekasi ini? Apakah kebijakan ini bakal efektif urai macet di sepanjang Jalan Ahmad Yani? Sampaikan opini kritis Anda di kolom komentar dan bagikan berita ini ke grup warga Anda!







