Poin Utama:
- Risiko Nasional: Kementerian Kesehatan memprediksi 28 juta penduduk Indonesia berpotensi mengalami gangguan mental.
- Pemicu Lokal: Anak muda di Bekasi mengalami kecemasan (anxiety) akibat tekanan ekonomi, ekspektasi keluarga, dan kekhawatiran masa depan.
- Solusi Gratis: Pemkot Bekasi menyediakan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan konseling jiwa di seluruh Puskesmas melalui program UHC.
- Peringatan AI: Dinkes mengimbau warga tidak mendiagnosis diri sendiri menggunakan AI, melainkan berkonsultasi dengan tenaga medis profesional.
BEKASI TIMUR – Isu kesehatan mental di kalangan anak muda, khususnya Generasi Z (Gen Z) di Kota Bekasi, kian menjadi sorotan. Tekanan hidup, kekhawatiran akan masa depan (future anxiety), hingga ekspektasi lingkungan sosial disinyalir menjadi pemicu utama meningkatnya kasus stres dan gangguan kecemasan (anxiety disorder) di wilayah ini.
Banyak dari mereka merasa terjebak dalam situasi yang sulit, di mana keinginan untuk sukses berbenturan dengan realitas ekonomi dan tekanan keluarga yang berat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kisah Naila: Potret Kecemasan Mahasiswi Bekasi
Salah satu contoh nyata dialami oleh Naila (22), warga Bekasi Selatan. Mahasiswi semester 5 jurusan Public Relations di salah satu kampus swasta di Kota Bekasi ini mengungkapkan betapa berat beban mental yang ia pikul. Ia mengaku kerap mengalami kecemasan berlebihan saat memikirkan masa depan.
”Rasa cemas itu sering muncul, seperti stres ringan atau bahkan burnout. Pemicunya biasanya rasa khawatir akan masa depan, ditambah social pressure saat melihat proses orang-orang lain di media sosial yang terlihat sudah sukses,” ungkap Naila kepada RakyatBekasi.com, Rabu (21/01/2026).
Tidak hanya faktor eksternal, tekanan dari internal keluarga juga turut memperparah kondisi mentalnya. Naila merasa memikul beban ekspektasi tinggi yang disematkan keluarganya.
”Jadi kerap merasa sendirian. Meskipun begitu, saya belum pernah datang atau konsultasi ke psikolog profesional. Alasannya klasik, saya khawatir biaya ke psikolog itu mahal dan engga worth it secara keuangan bagi mahasiswa seperti saya,” tuturnya.
Untuk menyiasati kegelisahannya, Naila memilih melakukan self-healing dengan bercerita kepada rekan sejawat yang dipercayainya.
”Karena saya masih punya teman-teman yang bisa jadi tempat bercerita, itu membantu memvalidasi setiap emosi. Kami saling mencari solusi, bahkan evaluasi diri agar saya bisa berpikir lebih jernih,” sambungnya.
Fenomena Gunung Es: 28 Juta Jiwa Berpotensi Terganggu
Apa yang dirasakan Naila hanyalah puncak dari gunung es. Secara nasional, Kementerian Kesehatan RI mencatat data yang mengkhawatirkan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI pada Senin (19/01/2026), mengungkapkan besarnya potensi masalah ini.
Mengacu pada data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), prevalensi gangguan kesehatan jiwa global berada di angka 1 dari 8 hingga 1 dari 10 orang.
”Jika dikalkulasikan dengan penduduk Indonesia yang totalnya sekitar 280 juta jiwa, maka ada 28 juta orang yang berpotensi mengalami gangguan mental,” ujar Budi.
Ia mengasosiasikan fenomena ini seperti “gunung es”, di mana kasus yang terlihat di permukaan jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah kasus sebenarnya yang belum terdeteksi.
Jenis gangguannya pun beragam, mulai dari depresi, gangguan kecemasan, ADHD, hingga gangguan berat seperti skizofrenia.
Faktor Pemicu: Era Digital dan Ketidakpastian Ekonomi
Menanggapi fenomena ini, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti Anggraini, menilai bahwa gangguan kesehatan mental pada anak muda saat ini sangat dipengaruhi oleh era digitalisasi yang masif dan kondisi ekonomi yang tidak menentu.
”Ketidakpastian itu membuat banyak orang mengalami tekanan hingga gangguan jiwa. Kesehatan itu bukan hanya fisik, tapi juga mental dan sosial. Seseorang baru bisa dikatakan sehat jika sehat secara fisik, jiwa, maupun sosial,” jelas Satia kepada awak media.
Bahaya Tren Diagnosis Menggunakan AI
Di tengah sulitnya akses atau ketakutan akan biaya psikolog, muncul tren baru di mana anak muda menggunakan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk berkonsultasi mengenai kesehatan mental mereka. Menanggapi hal ini, Satia memberikan peringatan keras.
Meskipun teknologi memudahkan, ia menegaskan bahwa AI tidak bisa menggantikan peran tenaga medis profesional.
”AI itu bagus sebagai alat bantu, tapi tidak boleh dipercayai 100 persen. AI bekerja dengan mengumpulkan dan mengolah data (agregasi), sehingga tidak memiliki kemampuan penilaian klinis (clinical judgment) dan empati seperti tenaga kesehatan terlatih,” tegas Satia saat ditemui selepas peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-61 Tingkat Kota Bekasi, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, menjadikan AI sebagai satu-satunya rujukan bisa berbahaya karena berpotensi memicu self-diagnosis yang keliru.
“Keputusan final terkait kondisi kesehatan tetap harus dirujuk kepada tim dokter atau tenaga medis yang memiliki kompetensi,” tambahnya.
Solusi: Manfaatkan Layanan UHC dan Cek Kesehatan Gratis
Dinkes Kota Bekasi memastikan bahwa ketakutan akan biaya mahal seperti yang dialami Naila seharusnya tidak perlu terjadi.
Pemerintah Kota Bekasi telah menjamin akses kesehatan yang mudah dan terjangkau melalui status Universal Health Coverage (UHC).
”Kota Bekasi itu sudah UHC, jadi kita semua bisa gratis memeriksakan kesehatan di Puskesmas, cukup dengan KTP,” tutur Satia.
Selain itu, pemerintah juga menggencarkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang bisa diakses setiap warga negara satu kali dalam setahun, termasuk di dalamnya skrining kesehatan jiwa.
”Pemerintah melakukan upaya skrining. Setiap tahun warga diberikan kesempatan cek kesehatan, termasuk kesehatan jiwa. Proses ini memerlukan kejujuran dari yang bersangkutan saat menjawab pertanyaan skrining agar deteksi dini bisa dilakukan,” ulasnya.
Masyarakat juga didorong untuk memanfaatkan aplikasi Satu Sehat untuk melakukan skrining mandiri sebelum mendatangi fasilitas kesehatan.
”Kami mengajak seluruh warga, khususnya generasi muda, untuk lebih aktif memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Jangan tunggu parah, ayo cek kesehatan mental Anda sekarang, itu lebih bagus dan gratis,” pungkasnya.
Apakah Anda atau kerabat merasakan gejala kecemasan berlebih? Jangan diagnosa sendiri. Manfaatkan layanan konseling gratis di Puskesmas terdekat di Kota Bekasi dengan membawa KTP Anda.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
Penulis : Denny Arya
Editor : Bung Ewox






































