Bayangkan suatu pagi di Raja Ampat, di mana angin lembut menyibak daun-daun tropis dan kicauan burung cenderawasih menari bebas, menebar warna-warni seperti mimpi.
Di perairan jernihnya, hiu karpet menggeliat perlahan, karang-karang menyala merah muda, dan ikan-ikan kecil menari di antara anemon.
Namun, hari-hari ini, Raja Ampat menghadapi luka yang disiapkan oleh tangan-tangan manusia yang mengaku “membangun” melalui pertambangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kerusakan Ekosistem
Kami, yang setiap hari bergerak dalam kerja konservasi, tahu apa akibatnya ketika habitat satwa dihancurkan.
Kami tahu bagaimana musang menjadi gelisah, turun ke pemukiman, dan diburu karena dianggap hama, padahal mereka hanya kehilangan hutan.
Kami tahu bagaimana satu kerusakan ekosistem akan menjalar ke sistem yang lebih besar: merusak rantai makanan, merusak kualitas hidup masyarakat adat, bahkan merusak ketahanan ekologis bangsa.
Raja Ampat Bukan Tempat untuk Menambang
Raja Ampat bukan tempat untuk eksplorasi kerak bumi. Ia adalah surga yang harus dijaga. Sebab sekali rusak, surga tak bisa dicetak ulang.
Bukan soal alam saja, ini soal martabat bangsa. Ketika sebuah negara mulai memilih logam di atas kelangsungan hidup spesies; ketika keuntungan korporasi ditaruh di atas hak hidup masyarakat adat, di situlah bangsa sedang menuju kemunduran.
Membangun Masa Depan dengan Konservasi
Kami percaya bahwa masa depan bisa dibangun lewat pendidikan ekologis, konservasi, pariwisata komunitas, dan perikanan berkelanjutan.
Kami percaya bahwa masyarakat adat Papua Barat lebih tahu bagaimana menjaga tanahnya, ketimbang para pejabat yang hanya tahu hitungan investasi.
Mari Bersuara dan Menolak
Kami mengajak kalian, tanpa syarat, untuk bersama menolak. Tidak perlu menjadi aktivis, pecinta satwa, atau akademisi. Cukup menjadi manusia yang masih punya hati dan akal.
Mari bersuara, mari jaga, mari lawan. Raja Ampat bukan milik investor, ia milik semesta. Dan semesta sedang memanggil kita.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
Penulis : Pengurus Pusat Perkumpulan Pecinta Pelestari Musang Indonesia – Musang Lovers Indonesia (PP P3MI–MLI)
Editor : Bung Ewox







