Raja Ampat dalam Cengkeraman Tambang: Seruan dari Suara yang Tak Pernah Dilirik

- Jurnalis

Minggu, 8 Juni 2025 - 06:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bayangkan suatu pagi di Raja Ampat, di mana angin lembut menyibak daun-daun tropis dan kicauan burung cenderawasih menari bebas, menebar warna-warni seperti mimpi.

Di perairan jernihnya, hiu karpet menggeliat perlahan, karang-karang menyala merah muda, dan ikan-ikan kecil menari di antara anemon.

Namun, hari-hari ini, Raja Ampat menghadapi luka yang disiapkan oleh tangan-tangan manusia yang mengaku “membangun” melalui pertambangan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kerusakan Ekosistem

Kami, yang setiap hari bergerak dalam kerja konservasi, tahu apa akibatnya ketika habitat satwa dihancurkan.

Kami tahu bagaimana musang menjadi gelisah, turun ke pemukiman, dan diburu karena dianggap hama, padahal mereka hanya kehilangan hutan.

Kami tahu bagaimana satu kerusakan ekosistem akan menjalar ke sistem yang lebih besar: merusak rantai makanan, merusak kualitas hidup masyarakat adat, bahkan merusak ketahanan ekologis bangsa.

Raja Ampat Bukan Tempat untuk Menambang

Raja Ampat bukan tempat untuk eksplorasi kerak bumi. Ia adalah surga yang harus dijaga. Sebab sekali rusak, surga tak bisa dicetak ulang.

Bukan soal alam saja, ini soal martabat bangsa. Ketika sebuah negara mulai memilih logam di atas kelangsungan hidup spesies; ketika keuntungan korporasi ditaruh di atas hak hidup masyarakat adat, di situlah bangsa sedang menuju kemunduran.

Membangun Masa Depan dengan Konservasi

Kami percaya bahwa masa depan bisa dibangun lewat pendidikan ekologis, konservasi, pariwisata komunitas, dan perikanan berkelanjutan.

Kami percaya bahwa masyarakat adat Papua Barat lebih tahu bagaimana menjaga tanahnya, ketimbang para pejabat yang hanya tahu hitungan investasi.

Mari Bersuara dan Menolak

Kami mengajak kalian, tanpa syarat, untuk bersama menolak. Tidak perlu menjadi aktivis, pecinta satwa, atau akademisi. Cukup menjadi manusia yang masih punya hati dan akal.

Mari bersuara, mari jaga, mari lawan. Raja Ampat bukan milik investor, ia milik semesta. Dan semesta sedang memanggil kita.


Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Penulis : Pengurus Pusat Perkumpulan Pecinta Pelestari Musang Indonesia – Musang Lovers Indonesia (PP P3MI–MLI)

Editor : Bung Ewox

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Libur Sekolah, Program Makan Bergizi Disetop: Hemat Rp3 Triliun!
Makan Bergizi Gratis Disetop Selama Libur Sekolah 2026, Ini Alasannya!
Pertamina Jaring 101 Pelaut Muda, Amankan Distribusi Energi
Struk Pertalite Rp18.040 Viral, Pertamina Ungkap Faktanya
Cegah Bansos Salah Sasaran, Kemensos Gunakan Teknologi GoTo
Stok Pertalite Pertamina Aman, Warga Bekasi Jangan Panik!
Siapa Berani Bantah “Nyanyian MBG” Sony Sanjaya?
Solusi Krisis Sampah, PSEL Kota Bekasi Resmi Jadi Proyek Strategis Nasional
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 20:13 WIB

Libur Sekolah, Program Makan Bergizi Disetop: Hemat Rp3 Triliun!

Kamis, 18 Juni 2026 - 19:41 WIB

Makan Bergizi Gratis Disetop Selama Libur Sekolah 2026, Ini Alasannya!

Rabu, 17 Juni 2026 - 01:00 WIB

Pertamina Jaring 101 Pelaut Muda, Amankan Distribusi Energi

Rabu, 17 Juni 2026 - 00:11 WIB

Struk Pertalite Rp18.040 Viral, Pertamina Ungkap Faktanya

Sabtu, 13 Juni 2026 - 13:50 WIB

Cegah Bansos Salah Sasaran, Kemensos Gunakan Teknologi GoTo

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x