OTT KPK: Menelisik Jejak Jaringan Pejabat ATR/BPN, Fahd Arafiq dan Neksus Nusron Wahid

- Jurnalis

Selasa, 15 September 2026 - 09:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo saat memberikan keterangan pers kepada awak media terkait operasi tangkap tangan (OTT) terhadap 17 orang dalam dugaan kasus korupsi pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB), di Kantor KPK, Jakarta, Senin (14/09/2026).

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo saat memberikan keterangan pers kepada awak media terkait operasi tangkap tangan (OTT) terhadap 17 orang dalam dugaan kasus korupsi pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB), di Kantor KPK, Jakarta, Senin (14/09/2026).

  • ​Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan 17 orang dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) terkait dugaan korupsi pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
  • ​Tiga figur sentral yang ditangkap adalah Lampri (Dirjen PPTR Kementerian ATR/BPN), Fahd Arafiq (Politisi Golkar), dan Arif Sugiyanto (Mantan Bupati Kebumen).
  • ​Ketiga tokoh tersebut teridentifikasi memiliki rekam jejak birokrasi dan kedekatan politik dengan Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid.
  • ​KPK saat ini masih berfokus mendalami peran individual masing-masing pihak dan belum menarik kesimpulan terkait keterlibatan institusi, kelompok, atau partai politik tertentu.

KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK) kembali melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terkait dugaan mega korupsi pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) di beberapa wilayah, salah satunya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Total 17 orang dari berbagai latar belakang diamankan, mulai dari pejabat eselon Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), politisi, hingga mantan bupati.

Menariknya, penangkapan ini menyeret nama-nama elite yang memiliki persinggungan kuat secara birokrasi dan politik dengan Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Fakta Mengejutkan OTT KPK Korupsi HGB ATR/BPN dan Pusaran Nama Elite Politik

​”Tentunya kami melihat pada tahap awal ini, di tahap penyelidikan ini, ini adalah dugaan perbuatan oknum personal,” kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (14/09/2026).

​Pernyataan awal KPK ini menegaskan bahwa proses hukum masih menyasar individu, meski latar belakang pihak-pihak yang ditangkap memunculkan tanda tanya besar di tengah publik.

​Mengapa Nama Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Ikut Terseret dalam Sorotan Kasus Ini?

​Nama Menteri ATR/BPN Nusron Wahid ikut menjadi sorotan karena setidaknya tiga dari 17 orang yang terjaring OTT memiliki neksus atau keterikatan langsung dengannya, baik secara birokrasi maupun politik.

Salah satu nama paling mencolok adalah Lampri, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Jenderal Penataan Agraria dan Tata Ruang (PPTR) Kementerian ATR/BPN.

​Jejak Lampri dan Nusron terjalin erat di struktur pemerintahan. Sebelum menjadi Dirjen, Lampri adalah Kepala Kantor Wilayah BPN Jawa Tengah—provinsi yang juga menjadi daerah pemilihan (dapil) Nusron saat melenggang ke DPR RI periode 2024-2029.

Puncaknya, pada Februari 2026, Nusron mengangkat langsung Lampri untuk menduduki posisi strategis sebagai Dirjen PPTR.

Kendati berada dalam satu komando institusi, hubungan struktural ini belum bisa dijadikan alat bukti keterlibatan menteri terkait perkara yang ditangani.

​Apa Peran Fahd Arafiq dan Jejak Politik Golkar di Wilayah Bekasi Raya?

​Fahd El Fouz Arafiq alias Fahd Arafiq yang turut diamankan dalam OTT KPK memiliki kedekatan politik yang kental dengan Nusron Wahid di bawah beringin Partai Golkar.

Keduanya berada di lanskap pemenangan yang sama saat menyongsong Pemilu 2024, di mana Nusron memegang kendali sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP Golkar.

​Fakta ini sangat dekat dengan perpolitikan lokal, mengingat Ranny Fahd Arafiq—istri dari Fahd—diberi mandat sebagai Calon Anggota Legislatif nomor urut satu dari Partai Golkar untuk Dapil Jawa Barat VI yang meliputi wilayah Kota Bekasi dan Kota Depok.

Strategi penempatan nomor urut ini tidak lepas dari dapur pemenangan partai yang digawangi oleh Nusron.

Namun, relasi politik ini merupakan fakta tersendiri yang belum dikonfirmasi KPK sebagai celah masuk perkara korupsi HGB.

​Bagaimana Status Mantan Bupati Kebumen Arif Sugiyanto dalam Lingkaran Ini?

​Mantan Bupati Kebumen, Arif Sugiyanto, juga menjadi salah satu figur kepala daerah yang diamankan dengan latar belakang persinggungan politik yang kuat bersama Golkar.

Pada Pilkada Kebumen 2024, DPP Golkar merekomendasikan pasangan Arif Sugiyanto-Ristawati Purwaningsih untuk maju bertarung.

​Keputusan strategis tersebut memperlihatkan lobi politik yang terhubung langsung dengan pusat, di mana Nusron merupakan figur penting yang mengatur konsolidasi pemilu di Pulau Jawa. Sama halnya dengan posisi Fahd, relasi ini masih dianggap berdiri sendiri di luar substansi materi korupsi.

​Sejauh Mana KPK Mengusut Tuntas Jaringan Korupsi Pengurusan HGB?

​KPK saat ini masih sangat berhati-hati dalam merangkai konstruksi perkara dan membedah motif sesungguhnya di balik mega korupsi HGB tersebut.

Lembaga antirasuah itu sedang mendalami peran spesifik dari 17 orang yang ditangkap guna menemukan ke mana saja aliran uang bermuara.

​”Tentunya nanti kami akan sampaikan secara lengkap bagaimana peran masing-masing pihak, apa saja keterangan dan penjelasan yang disampaikan oleh para pihak yang diamankan, yang kemudian tentunya untuk membantu KPK dalam mengkonstruksikan, dalam menyusun bagaimana kronologi peristiwanya,” tegas Budi.

​Penyidik KPK harus melakukan gelar perkara secara komprehensif sebelum menetapkan siapa saja yang memikul pertanggungjawaban hukum secara mutlak.

​”Nanti kita akan lihat tentunya keterkaitannya, neksusnya seperti apa, nanti kita akan update terus perkembangan dari penanganan perkaranya,” terang Budi menutup penjelasannya terkait potensi dugaan keterlibatan partai politik.

​Publik kini menanti ketajaman dan keberanian KPK dalam mengusut tuntas benang merah dugaan korupsi pengurusan HGB ini, tanpa pandang bulu apalagi tebang pilih.

Pendalaman terhadap peran tiap tersangka akan menjadi kunci pembuka tabir apakah kasus ini murni kejahatan individu atau melibatkan jaringan birokrasi yang lebih sistematis.

​Jangan lewatkan kabar terpanas seputar penegakan hukum, dinamika politik, dan layanan publik di wilayah Bekasi dan sekitarnya. Bagikan artikel ini untuk mengedukasi sesama, dan pastikan Anda bergabung sekarang juga di Saluran WhatsApp RakyatBekasi agar selalu update setiap saat!


Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Skandal Suap HGB di BPN Kabupaten Bogor: KPK OTT Fahd A Rafiq
Viral Modus Pemerasan Koruptor, Dugaan Korupsi Febrie Ardiansyah dan Yusuf Ateh Wajib Diusut Tuntas
Resmi Naik! Pertamina Kerek Harga BBM Non Subsidi per 1 September 2026
Jangan Asal Packing! Aturan Bagasi Garuda Indonesia Dirombak Mulai 1 September 2026, Ini Rinciannya
Ujian Berat Transisi Energi, Mampukah PLTS 100 GWp Beri Efisiensi Subsidi Rp73,9 Triliun?
Kritik Keras PA GMNI: Jabatan Publik Bukan Hadiah Politik!
Visualisasi Ngeri Utang Indonesia Rp10.000 Triliun: Butuh 5.000 Truk Sepanjang 60 Km!
Pemerintah Resmi Larang Orang Kaya Beli BBM Subsidi Pertalite
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 09:26 WIB

OTT KPK: Menelisik Jejak Jaringan Pejabat ATR/BPN, Fahd Arafiq dan Neksus Nusron Wahid

Rabu, 9 September 2026 - 18:05 WIB

Viral Modus Pemerasan Koruptor, Dugaan Korupsi Febrie Ardiansyah dan Yusuf Ateh Wajib Diusut Tuntas

Selasa, 1 September 2026 - 02:15 WIB

Resmi Naik! Pertamina Kerek Harga BBM Non Subsidi per 1 September 2026

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 05:09 WIB

Jangan Asal Packing! Aturan Bagasi Garuda Indonesia Dirombak Mulai 1 September 2026, Ini Rinciannya

Kamis, 27 Agustus 2026 - 18:37 WIB

Ujian Berat Transisi Energi, Mampukah PLTS 100 GWp Beri Efisiensi Subsidi Rp73,9 Triliun?

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x