- Adik kandung Wali Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti Anggraini, resmi dimutasi dari jabatan Kepala Dinkes ke DKPPP Kota Bekasi.
- YAMSI menepis keras isu nepotisme terkait rotasi pejabat eselon II tersebut, menilai langkah ini murni penyegaran birokrasi Pemkot Bekasi.
- Jabatan Eselon II dinilai sah karena rekam jejak panjang Satia yang telah mengabdi sebagai ASN selama 25–30 tahun.
- Kepindahan Kadinkes memicu kehebohan emosional, diwarnai isak tangis para staf dan Kepala Puskesmas tanpa rekayasa.
Keputusan Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono, merotasi adik kandungnya dari kursi Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) ke Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) memicu sorotan tajam publik.
Menanggapi dinamika politik birokrasi tersebut, Yayasan Marhaen Sejahtera Indonesia (YAMSI) pasang badan menepis keras isu nepotisme di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi.
Pemindahan pejabat Eselon II ini justru dinilai sebagai langkah objektif yang diwarnai momen haru perpisahan jajaran pegawai kesehatan daerah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rotasi Adik Wali Kota Bekasi: Bukti Integritas Bukan Nepotisme
Mengapa YAMSI Menepis Isu Nepotisme di Pemkot Bekasi?
YAMSI menepis tegas isu nepotisme karena Wali Kota Bekasi terbukti berani memindahkan adiknya yang dinilai cakap dari instansi krusial ke dinas lain demi penyegaran organisasi.
Langkah rotasi mutasi ini dipandang membantah tudingan politik kekerabatan yang selama ini diembuskan pihak luar.
”Coba bayangkan kadis yang sudah bagus di kesehatan dipindahkan ke dinas lainnya. Luar biasa, berarti Wali Kota bukan nepotisme seperti yang dituduhkan orang,” kata Ketua Dewan Pembina YAMSI, Ricky Tambunan, kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com melalui keterangannya, Kamis (30/07/2026).
Apakah Jabatan Eselon II Adik Wali Kota Sesuai Aturan ASN?
Pangkat Eselon II yang diemban oleh Satia dinilai sudah sangat sesuai dengan aturan, dedikasi, serta rekam jejak panjangnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).
Pangkat tersebut dinilai proporsional dan murni karena durasi pengabdiannya, bukan karena status hubungan darah semata.
”Karena apa? Karena mereka ASN. ASN tentunya dengan ukuran yang sudah 25-30 tahun bekerja tentu harus Eselon 2. Dan itu terjadi di adik Wali Kota. Tapi dengan pindahan, kepindahan mutasi ini, ini membuktikan bahwa Wali Kota bukan nepotisme. Melainkan penyegaran organisasi ditubuh Pemerintah Daerah,” paparnya.
Bagaimana Respons Pegawai Dinkes Saat Adik Wali Kota Dimutasi?
Para pegawai Dinkes hingga sejumlah Kepala Puskesmas menunjukkan respons yang sangat emosional dan menangis haru saat pimpinan mereka resmi dipindahtugaskan.
Fenomena ini diklaim sebagai bukti otentik keberhasilan pendekatan kerja kepemimpinan yang humanis di instansi kesehatan.
”Kadinkes disayangi stafnya, Tanpa rekayasa. Kadis harus kerja pake hati, itu buktinya beliau kerja dengan hati sehingga disayangi seluruh staf dan pegawainya. Ini belum pernah terjadi di Kota Bekasi, Natural tanpa rekayasa,” tegas Ricky.

Respons haru ini menunjukkan tingginya tingkat kecintaan bawahan terhadap kinerja pimpinannya.
”Haru biru, bahkan ada kepala puskesmas nangis-nangis begitu tahu Bu Kadinkes dimutasi ke DKPPP,” bebernya.
Perombakan kabinet eselon II ini diharapkan meredam spekulasi politis dan justru memacu para ASN untuk bekerja dengan hati melayani masyarakat.
Bagaimana pandangan Anda tentang momen haru tangisan pegawai saat mutasi birokrasi ini? Berikan komentar Anda dan bagikan artikel ini. Simak terus informasi tajam, kritis, dan berimbang seputar pemerintahan daerah hanya di RakyatBekasi.Com.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







