Poin Utama:
- TPST Bantargebang di Bekasi menempati peringkat kedua dunia sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar dari limbah.
- Emisi metana massal ini memicu kebakaran di TPA dan mempercepat krisis perubahan iklim global.
- Forum Koalisi Aktivis untuk Darurat Sampah (Forkads) mengkritik respon Pemkot Bekasi dan DPRD DKI hanya sebatas ‘drama’ di depan kamera.
- Forkads mengendus adanya kepentingan ekonomi dan perebutan proyek (seperti PLTSa) di balik kelambatan penanganan sampah.
Darurat Sampah Bantargebang dan Ancaman Global
Kondisi TPST Bantargebang di Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, kini berada dalam titik paling krusial.
Forum Koalisi Aktivis untuk Darurat Sampah (Forkads), mengungkap fakta mengejutkan bahwa tumpukan limbah di lokasi tersebut kini menjadi penyumbang emisi gas metana terbesar nomor dua di dunia.
Alih-alih penyelesaian nyata, respon Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi dan Pemprov DKI Jakarta dinilai hanya sebatas retorika dan ‘drama’ di tengah keriuhan isu saat ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengapa emisi gas metana TPST Bantar Gebang Bekasi dianggap sangat berbahaya?
Gas metana yang dihasilkan dari pembusukan sampah organik di Bantargebang memiliki potensi pemanasan global yang jauh lebih kuat daripada karbon dioksida dalam jangka pendek.
Penumpukan metana dalam skala masif seperti di Bantargebang tidak hanya merusak iklim global, tetapi juga sangat rentan memicu kebakaran besar di area TPA, yang mengancam keselamatan warga sekitar dan memperburuk kualitas udara di Bekasi.
Bagaimana fakta lapangan kondisi sampah di Bantargebang saat ini?
Terlepas dari kepanikan pemerintah di panggung internasional maupun nasional, gunungan sampah di Bantargebang, Bekasi, tetap menjulang tinggi seperti sediakala.
Tidak ada pengurangan signifikan yang terlihat di lapangan. Meskipun terdapat keriuhan aktivitas alat berat seperti eskavator dan buldozer yang terekam, kondisi ini mencerminkan masih masifnya tumpukan sampah yang belum terkelola dengan metode hilirisasi yang tuntas.
Pemulung dan pengepul masih bekerja mengais limbah berharga seperti biasa di tengah isu krisis metana yang mendunia.
Apa tanggapan aktivis mengenai keriuhan Pansus Sampah dan respon Pemkot Bekasi?
Aktivis Forkads menyoroti bahwa keriuhan yang terjadi saat ini, baik pembentukan Pansus Sampah oleh DPRD DKI maupun kesibukan Pemkot Bekasi, seringkali hanya bersifat temporer.
Koordinator Forkads, Syahrul E Dasopang, menegaskan bahwa kesibukan tersebut hanya terjadi di depan kamera saat isu sedang hangat.
”Demikianlah selalu dalam setiap masalah, tidak benar-benar diniatkan untuk mengakhiri masalah, tapi berkelok-kelok menjadi pertaruhan kepentingan ekonomi dan bisnis,” tegas Syahrul E Dasopang kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Senin (25/05/2026).
Ia menambahkan, keterlambatan penanganan darurat sampah di Bantargebang, termasuk tarik ulur proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), didorong oleh kepentingan pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan situasi menjadi gunungan proyek ketimbang fokus pada solusi lingkungan.
Darurat sampah Bantargebang terus berlanjut. Forkads mengkhawatirkan setelah isu ini redup, perhatian pemerintah akan kembali hening, meninggalkan masyarakat Bekasi dengan ancaman lingkungan yang semakin parah.
Bagaimana pendapat Anda mengenai penanganan sampah di Bantargebang yang dituding cuma ‘drama’ proyek? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah ini dan bagikan artikel ini.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.













