Darurat TPST Bantargebang: Juara 2 Dunia Metana, Pemkot Bekasi & DKI Disebut Cuma ‘Drama’ Proyek?

- Jurnalis

Senin, 25 Mei 2026 - 11:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GUNUNGAN SAMPAH: Sebuah alat berat jenis eskavator tengah beroperasi di kaki gunung sampah yang menjulang tinggi di TPST Bantar Gebang, Kota Bekasi, Mei 2024. Bantar Gebang kini menempati urutan ke-2 dunia penyumbang emisi metana dari limbah, yang dikritik aktivis Forkads penanganannya hanya sebatas drama proyek. (Foto: Dok. Istimewa/Forkads)

GUNUNGAN SAMPAH: Sebuah alat berat jenis eskavator tengah beroperasi di kaki gunung sampah yang menjulang tinggi di TPST Bantar Gebang, Kota Bekasi, Mei 2024. Bantar Gebang kini menempati urutan ke-2 dunia penyumbang emisi metana dari limbah, yang dikritik aktivis Forkads penanganannya hanya sebatas drama proyek. (Foto: Dok. Istimewa/Forkads)

​Poin Utama:

  • ​TPST Bantargebang di Bekasi menempati peringkat kedua dunia sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar dari limbah.
  • ​Emisi metana massal ini memicu kebakaran di TPA dan mempercepat krisis perubahan iklim global.
  • ​Forum Koalisi Aktivis untuk Darurat Sampah (Forkads) mengkritik respon Pemkot Bekasi dan DPRD DKI hanya sebatas ‘drama’ di depan kamera.
  • ​Forkads mengendus adanya kepentingan ekonomi dan perebutan proyek (seperti PLTSa) di balik kelambatan penanganan sampah.

​Darurat Sampah Bantargebang dan Ancaman Global

Kondisi TPST Bantargebang di Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, kini berada dalam titik paling krusial.

Forum Koalisi Aktivis untuk Darurat Sampah (Forkads), mengungkap fakta mengejutkan bahwa tumpukan limbah di lokasi tersebut kini menjadi penyumbang emisi gas metana terbesar nomor dua di dunia.

Alih-alih penyelesaian nyata, respon Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi dan Pemprov DKI Jakarta dinilai hanya sebatas retorika dan ‘drama’ di tengah keriuhan isu saat ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Mengapa emisi gas metana TPST Bantar Gebang Bekasi dianggap sangat berbahaya?

​Gas metana yang dihasilkan dari pembusukan sampah organik di Bantargebang memiliki potensi pemanasan global yang jauh lebih kuat daripada karbon dioksida dalam jangka pendek.

Penumpukan metana dalam skala masif seperti di Bantargebang tidak hanya merusak iklim global, tetapi juga sangat rentan memicu kebakaran besar di area TPA, yang mengancam keselamatan warga sekitar dan memperburuk kualitas udara di Bekasi.

​Bagaimana fakta lapangan kondisi sampah di Bantargebang saat ini?

​Terlepas dari kepanikan pemerintah di panggung internasional maupun nasional, gunungan sampah di Bantargebang, Bekasi, tetap menjulang tinggi seperti sediakala.

Tidak ada pengurangan signifikan yang terlihat di lapangan. Meskipun terdapat keriuhan aktivitas alat berat seperti eskavator dan buldozer yang terekam, kondisi ini mencerminkan masih masifnya tumpukan sampah yang belum terkelola dengan metode hilirisasi yang tuntas.

Pemulung dan pengepul masih bekerja mengais limbah berharga seperti biasa di tengah isu krisis metana yang mendunia.

​Apa tanggapan aktivis mengenai keriuhan Pansus Sampah dan respon Pemkot Bekasi?

​Aktivis Forkads menyoroti bahwa keriuhan yang terjadi saat ini, baik pembentukan Pansus Sampah oleh DPRD DKI maupun kesibukan Pemkot Bekasi, seringkali hanya bersifat temporer.

Koordinator Forkads, Syahrul E Dasopang, menegaskan bahwa kesibukan tersebut hanya terjadi di depan kamera saat isu sedang hangat.

​”Demikianlah selalu dalam setiap masalah, tidak benar-benar diniatkan untuk mengakhiri masalah, tapi berkelok-kelok menjadi pertaruhan kepentingan ekonomi dan bisnis,” tegas Syahrul E Dasopang kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Senin (25/05/2026).

​Ia menambahkan, keterlambatan penanganan darurat sampah di Bantargebang, termasuk tarik ulur proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), didorong oleh kepentingan pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan situasi menjadi gunungan proyek ketimbang fokus pada solusi lingkungan.

​Darurat sampah Bantargebang terus berlanjut. Forkads mengkhawatirkan setelah isu ini redup, perhatian pemerintah akan kembali hening, meninggalkan masyarakat Bekasi dengan ancaman lingkungan yang semakin parah.

Bagaimana pendapat Anda mengenai penanganan sampah di Bantargebang yang dituding cuma ‘drama’ proyek? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah ini dan bagikan artikel ini.


Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Parah! Lemah Pengawasan, Mobil Leluasa Masuk jogging track Alun-alun Bekasi
Bahaya! Berstatus Liar, Pemkot Bekasi Tutup Akses Perlintasan Kereta Grand Mall
Imbas Geliat Ekonomi, 29 Titik Kemacetan Baru Kepung Kota Bekasi
Wamenhaj Sidak Tenda Jemaah Haji, Spanduk Wali Kota Bekasi Dicopot Paksa!
Bikin Kumuh! Satpol PP Bekasi Tertibkan Lapak Hewan Kurban Liar
4.382 Jemaah Haji Kota Bekasi Tiba di Mekkah, Kemenhaj Ingatkan Cuaca Ekstrem
Jadi Syarat Wajib SPMB 2026, 59 Ribu Warga Serbu Layanan KIA Pemkot Bekasi
GMNI Geruduk BGN Desak Evaluasi Program MBG Kota Bekasi
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 11:27 WIB

Parah! Lemah Pengawasan, Mobil Leluasa Masuk jogging track Alun-alun Bekasi

Senin, 25 Mei 2026 - 11:10 WIB

Darurat TPST Bantargebang: Juara 2 Dunia Metana, Pemkot Bekasi & DKI Disebut Cuma ‘Drama’ Proyek?

Senin, 25 Mei 2026 - 10:00 WIB

Bahaya! Berstatus Liar, Pemkot Bekasi Tutup Akses Perlintasan Kereta Grand Mall

Senin, 25 Mei 2026 - 09:40 WIB

Imbas Geliat Ekonomi, 29 Titik Kemacetan Baru Kepung Kota Bekasi

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:51 WIB

Wamenhaj Sidak Tenda Jemaah Haji, Spanduk Wali Kota Bekasi Dicopot Paksa!

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x