- Lokasi: Pusat Kuliner RW 33, Kelurahan Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara.
- Waktu Peninjauan: Kamis (09/07/2026) malam, pada agenda Reses II Tahun Anggaran 2026.
- Fokus Agenda: Evaluasi dan dorongan pendampingan tata kelola manajemen bagi pelaku UMKM.
- Target Output: Mewujudkan kawasan RW 33 Teluk Pucung sebagai kawasan percontohan ekosistem bisnis UMKM yang tangguh.
Ketua DPRD Kota Bekasi, Sardi Efendi, langsung turun gunung meninjau aktivitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Pusat Kuliner RW 33, Kelurahan Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara.
Kunjungan pada Kamis (09/07/2026) malam ini merupakan bagian dari agenda Reses II Tahun Anggaran 2026.
Langkah strategis ini diambil guna memastikan denyut ekonomi kerakyatan di tingkat lingkungan tetap hidup dan mendapat perhatian serius dari pihak legislatif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Apa potensi UMKM di RW 33 Teluk Pucung Bekasi Utara?
Kawasan RW 33 Teluk Pucung memiliki potensi besar untuk menjadi area percontohan pengembangan UMKM unggulan di wilayah Kecamatan Bekasi Utara.
Keberadaan pusat kuliner yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat dinilai menjadi modal fundamental dalam membangun ekosistem usaha yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Sebelum berdialog intensif dengan warga, Sardi secara khusus berkeliling menyambangi sejumlah stan UMKM.
Ia tidak hanya menyerap aspirasi riil dari para pedagang, tetapi juga memborong berbagai produk kuliner yang dijajakan sebagai wujud dukungan langsung terhadap perputaran ekonomi warga setempat.
Para pelaku UMKM pun mengapresiasi kehadiran wakil rakyat tersebut dengan menyerahkan produk makanan olahan lokal sebagai simbol kedekatan.
”Kalau masyarakatnya kompak dan semangat berusaha terus dijaga, saya yakin RW 33 bisa menjadi pelopor pengembangan UMKM di Bekasi Utara. Ini harus terus kita dorong agar semakin berkembang,” kata Sardi Efendi kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com di Pusat Kuliner RW 33 Teluk Pucung, Kamis (09/07/2026).
Mengapa pendampingan manajemen UMKM jauh lebih penting daripada sekadar modal?
Banyak usaha kecil yang terpaksa gulung tikar bukan akibat krisis modal, melainkan karena tata kelola manajemen bisnis yang lemah.
Politisi PKS ini menegaskan bahwa suntikan dana bantuan hanya akan menguap jika para pelaku usaha tidak mendapatkan pendampingan teknis yang komprehensif.
Pelaku UMKM menuntut pembekalan kompetensi holistik, mulai dari kedisiplinan mengelola arus kas, penguasaan strategi pemasaran digital, hingga pembentukan pola pikir (mindset) kewirausahaan.
Jika fondasi dasar ini terbangun kuat, maka skala usaha dipastikan mampu bertahan dari turbulensi ekonomi lokal dan berpeluang besar untuk naik kelas.
”Modal memang penting, tetapi yang tidak kalah penting adalah pendampingan. Pelaku UMKM harus dibekali kemampuan mengelola usaha, memasarkan produk, hingga memiliki pola pikir wirausaha agar usahanya bisa bertahan dan naik kelas,” tuturnya merinci strategi pembinaan.
Sardi memastikan pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya bertumpu pada investasi raksasa, tetapi wajib ditopang oleh kemandirian usaha kecil yang mampu menyerap tenaga kerja mandiri.
”Kalau manajemennya baik, pencatatan keuangan tertib, dan pemasarannya berkembang, peluang usaha untuk bertahan akan jauh lebih besar. Itu yang terus kita dorong melalui pembinaan,” tandasnya.
Kehadiran serta atensi langsung dari Ketua DPRD Kota Bekasi ini diharapkan memicu kolaborasi nyata antara warga, aparatur kelurahan, dan pemangku kebijakan terkait.
Terus ikuti update berita seputar kebijakan ekonomi dan program Pemkot Bekasi lainnya di kanal kami. Bagikan artikel ini agar dukungan terhadap UMKM lokal kita semakin meluas, dan jangan ragu untuk menyuarakan pendapat Anda di kolom komentar!
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







