BEKASI – Tahun 2025 akan dikenang sebagai tahun yang penuh turbulensi bagi Bekasi. Sepanjang 12 bulan terakhir, RakyatBekasi.com mencatat berbagai peristiwa yang menguji ketangguhan masyarakat dan integritas pemerintah daerah, baik di Kota maupun Kabupaten Bekasi.
Mulai dari perjuangan melawan bencana hidrometeorologi di awal tahun, dinamika pembangunan, hingga ledakan kasus hukum yang menyeret petinggi daerah, berikut adalah rangkuman perjalanan Bekasi dalam Kaleidoskop 2025.
Januari – Februari: Awal Tahun yang Basah dan Ujian Infrastruktur
Tahun 2025 dibuka dengan curah hujan tinggi yang kembali merendam sejumlah titik vital.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
- Januari: Fokus editorial tertuju pada banjir kiriman yang melumpuhkan akses di beberapa kecamatan di Kabupaten Bekasi, seperti Cabangbungin dan Muaragembong. Penanganan tanggul jebol menjadi sorotan utama, di mana respons pemerintah daerah dinilai lambat oleh sejumlah elemen masyarakat.
- Februari: Pasca-banjir, isu beralih ke “Jalan Seribu Lubang”. Kerusakan infrastruktur jalan arteri Kalimalang dan Cikarang-Cibarusah memicu protes warga. Di Kota Bekasi, Wali Kota Bekasi merespons dengan membentuk satgas percepatan perbaikan jalan (Unit Reaksi Cepat) yang cukup efektif meredam keluhan publik.
Maret – Juni: Sorotan Layanan Publik dan Pendidikan
Memasuki kuartal kedua, dinamika bergeser ke sektor pelayanan dasar.
- Maret – April: Isu penumpukan sampah di TPA Burangkeng kembali mencuat. RakyatBekasi.com secara intensif memberitakan keluhan warga sekitar terkait bau menyengat dan antrean truk sampah yang mengular, mendesak perluasan lahan yang tak kunjung terealisasi.
- Mei – Juni: Musim Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2025 diwarnai polemik klasik zonasi. Temuan Ombudsman terkait dugaan maladministrasi di beberapa sekolah unggulan di Kota dan Kabupaten Bekasi menjadi headline yang memicu evaluasi Dinas Pendidikan setempat.
Juli – September: Geliat Politik dan Prestasi Semu
Pertengahan tahun diwarnai dengan pencitraan politik dan klaim keberhasilan pembangunan.
- Juli: Pemerintah Kabupaten Bekasi sempat menerima penghargaan tata kelola keuangan, sebuah ironi jika melihat peristiwa yang terjadi di akhir tahun. Pemberitaan saat itu fokus pada serapan anggaran yang diklaim membaik.
- Agustus – September: Kemarau panjang memicu krisis air bersih di wilayah utara Bekasi. Distribusi air bersih menjadi isu sentral, di mana RakyatBekasi.com menyoroti ketimpangan akses air bersih antara kawasan industri dan permukiman warga.
Oktober – Desember: Prahara di Ujung Tahun
Kuartal terakhir 2025 menjadi momen paling kelam dalam sejarah pemerintahan daerah Bekasi tahun ini. Isu yang semula “samar-samar” akhirnya meledak menjadi skandal nasional.
- Oktober: Rumor mengenai penyelidikan komisi antirasuah mulai berhembus kencang di lingkungan Pemkab Bekasi. Beberapa pejabat dinas teknis terpantau bolak-balik diperiksa aparat penegak hukum, meski saat itu statusnya masih sebagai saksi.
- November: Ketegangan meningkat seiring dengan mutasi jabatan mendadak yang dilakukan oleh Bupati Bekasi. Langkah ini dikritik oleh DPRD dan pengamat kebijakan publik sebagai upaya “cuci gudang” sebelum badai datang.
Klimaks Desember: OTT KPK Guncang Kabupaten Bekasi
Puncak dari segala dinamika tahun 2025 terjadi di bulan Desember. Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi berita paling menyita perhatian publik.
Dalam operasi senyap tersebut, KPK tidak hanya mengamankan Bupati Bekasi, tetapi juga turut menangkap ayah kandung sang Bupati, yang diduga kuat berperan sebagai “aktor intelektual” atau pengendali di balik layar kebijakan strategis daerah.
“Penangkapan ini mengonfirmasi dugaan praktik dinasti politik yang koruptif, di mana pengambilan keputusan publik diintervensi oleh kepentingan keluarga,” tulis tajuk rencana RakyatBekasi.com pasca-penangkapan tersebut.
Kasus ini diduga berkaitan dengan jual beli jabatan serta perizinan proyek strategis daerah. Peristiwa ini menutup tahun 2025 dengan catatan hitam bagi integritas birokrasi di Bumi Swatantra Wibawa Mukti, sekaligus menjadi peringatan keras bagi para pemangku kebijakan di tahun mendatang.
Refleksi Akhir Tahun
Tahun 2025 mengajarkan kita bahwa pembangunan fisik semata tidak ada artinya tanpa fondasi integritas yang kokoh. Dari banjir air di awal tahun hingga “banjir air mata” birokrasi di akhir tahun, Bekasi membutuhkan pembenahan total.
RakyatBekasi.com akan terus hadir mengawal transisi ini, menyajikan fakta, dan menjadi kontrol sosial yang kritis menyongsong tahun 2026.
Bagaimana pendapat Anda tentang kinerja pemerintah daerah sepanjang tahun 2025 ini? Suarakan aspirasi Anda di kolom komentar!
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







































