- Ketua Komisi II DPRD Kota Bekasi mendesak penundaan perhelatan Pesona Nusantara Bekasi Keren (PNBK) 2026.
- Acara hiburan inisiasi Pemkot Bekasi tersebut dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 30 Agustus 2026.
- Kritik dilayangkan karena agenda pesta dinilai nir-empati di tengah rentetan bencana alam yang melanda NTT, Kalimantan, dan Sumatera.
- Format penggalangan dana di dalam acara dinilai tidak bisa melegitimasi kemeriahan perayaan saat bangsa sedang berduka.
Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi menggelar perayaan Pesona Nusantara Bekasi Keren (PNBK) 2026 pada Minggu (30/08/2026) mendatang, memantik kritik tajam dari kalangan legislatif.
Ketua Komisi II DPRD Kota Bekasi, Latu Har Hary, mendesak agar Pemkot Bekasi mengevaluasi ulang hingga menunda kegiatan hiburan tersebut lantaran dinilai mencederai rasa empati di tengah rentetan bencana yang sedang melanda berbagai wilayah di Indonesia.
Evaluasi Pemkot Bekasi Terhadap Pelaksanaan Pesona Nusantara Bekasi Keren 2026
“Bangsa kita sedang berduka. Ada saudara-saudara kita yang menghadapi bencana. Ada gempa di NTT, kebakaran hutan di Kalimantan, dan luka di bumi Sumatra yang belum sepenuhnya pulih. Lantas, apakah Kota Bekasi akan berpesta pora? Di mana empati kita?” kata Latu Har Hary kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com melalui keterangannya, Jumat (28/08/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengapa DPRD Kota Bekasi Menolak Perayaan PNBK Saat Ini?
Penolakan ini didasari oleh krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di tingkat nasional. Politisi PKS tersebut menegaskan bahwa kritik yang ia lontarkan bukanlah bentuk penolakan terhadap pelestarian kebudayaan atau penyediaan ruang hiburan bagi masyarakat. Pemerintah daerah diwajibkan memiliki sensitivitas kemanusiaan yang tinggi terhadap situasi sosial.
“Tidak ada salahnya kalau acara ini ditunda atau diundur. Hiburan dan perayaan bisa kita lakukan kapan saja. Tetapi rasa kemanusiaan dan solidaritas terhadap saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah harus menjadi prioritas,” katanya.
Apa Dampak Empati Daerah Terhadap Bencana Nasional?
Kepedulian sebuah daerah membuktikan bahwa kemajuan kota tidak hanya diukur dari seberapa meriah sebuah acara seremonial, melainkan dari tingkat solidaritas antar manusianya.
Sikap menunda perayaan dinilai sebagai langkah nyata masyarakat Kota Patriot dalam menjaga perasaan korban bencana.
“Bekasi adalah bagian dari Indonesia. Kita tidak hidup sendiri. Ketika saudara kita di daerah lain sedang kehilangan, sedang berjuang menghadapi bencana, setidaknya kita menunjukkan empati. Jangan sampai di satu sisi ada saudara kita yang sedang menangis, sementara di sisi lain kita justru merayakan pesta dengan kemeriahan,” tegasnya.
Apakah Penggalangan Dana Bisa Menjadi Pembenaran Acara Pesta?
Meskipun Pemkot Bekasi merancang acara tersebut dengan sisipan agenda penggalangan dana kemanusiaan, hal tersebut tidak lantas melegitimasi sebuah perayaan di tengah situasi duka.
Latu mendesak Wali Kota Bekasi beserta jajarannya agar momentum perayaan PNBK 2026 ditunda, dengan memprioritaskan moralitas di atas teknis pelaksanaan.
“Kalau memang secara teknis dan administratif memungkinkan, saya kira menunda bukan sebuah masalah. Justru itu bisa menjadi pesan moral bahwa Bekasi punya kepedulian terhadap Indonesia. Kita boleh keren, kita boleh maju, tetapi jangan kehilangan empati,” pungkas Latu.
Kebijakan strategis dari jajaran eksekutif Pemkot Bekasi kini sangat dinantikan oleh publik terkait kepastian status pelaksanaan PNBK 2026 pada akhir pekan ini.
Dapatkan informasi terbaru dan terdalam seputar kebijakan pemerintahan dan legislatif di Kota Bekasi. Segera ikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi [di sini] agar selalu update, serta bagikan artikel ini jika bermanfaat bagi lingkungan Anda!
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















