Poin Utama:
- Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi tengah menyisir Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang rusak parah.
- Prioritas utama peremajaan JPO adalah menjamin keselamatan dan kenyamanan pejalan kaki.
- Infrastruktur JPO akan diintegrasikan dengan kawasan Transit-Oriented Development (TOD).
- JPO yang direvitalisasi ditargetkan berfungsi sebagai akses pengumpan (feeder) menuju stasiun dan halte transportasi massal.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) tengah mengebut penyisiran Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang mengalami kerusakan fisik di berbagai wilayah.
Langkah taktis ini bertujuan untuk segera melakukan peremajaan demi menjamin keselamatan warga pejalan kaki.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain perbaikan struktural, revitalisasi ini dirancang untuk mengintegrasikan fasilitas penyeberangan dengan kawasan Transit-Oriented Development (TOD) guna mengoptimalkan mobilitas transportasi publik.
Mengapa Pemkot Bekasi Kebut Revitalisasi JPO Rusak?
Pemkot Bekasi memprioritaskan revitalisasi ini lantaran banyaknya infrastruktur penyeberangan yang termakan usia dan berpotensi mengancam keselamatan warga.
Saat ini, tim monitoring khusus dari DBMSDA diterjunkan untuk memetakan titik-titik JPO yang membutuhkan penanganan darurat.
”Kita masih sisir untuk seluruh JPO yang kondisinya rusak parah. Agar ke depannya masyarakat bisa menikmati fasilitas JPO yang layak dan tidak membahayakan ketika melintas di lokasi,” kata Kepala DBMSDA Kota Bekasi Idi Sutanto kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Senin (18/05/2026).
Bagaimana Konsep Integrasi JPO dengan Kawasan TOD di Bekasi?
Ke depannya, seluruh JPO yang direvitalisasi tidak hanya sekadar menjadi jembatan lintas jalan, melainkan terhubung langsung sebagai simpul penting kawasan Transit-Oriented Development (TOD).
Konsep ini merupakan solusi modern untuk menata ruang kota berbasis transportasi massal yang ramah pejalan kaki.
Fasilitas penyeberangan tersebut diproyeksikan beroperasi sebagai akses pengumpan (feeder). Pejalan kaki akan diarahkan untuk menggunakan JPO yang memiliki koneksi langsung menuju stasiun kereta maupun halte bus terdekat.
”Kita sebenarnya arahkan kepada JPO yang bisa terkoneksi ke stasiun ataupun halte lainnya. Kita butuhnya koneksi-koneksi seperti itu. Ini juga yang kita harapkan bisa jadi feeder, biar masyarakat tidak banyak lalu-lalang menyeberang ke jalan raya. Nanti semua akses bawah kita tutup biar masyarakat koneksinya enak dan aman secara mobilitas,” pungkas Idi Sutanto.
Revitalisasi sistematis ini menjadi bukti komitmen Pemkot Bekasi dalam menyediakan fasilitas publik yang aman, modern, dan saling terintegrasi. Penataan wajah kota ini diharapkan mampu menekan angka kecelakaan lalu lintas sekaligus mendorong warga beralih ke transportasi umum.
Bagaimana kondisi JPO di sekitar tempat tinggal Anda? Sampaikan aspirasi Anda di kolom komentar dan baca terus pembaruan tata ruang dan kebijakan publik Pemkot Bekasi secara tajam serta akurat hanya di RakyatBekasi.Com.







