- Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi masih kekurangan lahan 1,1 hektare untuk megaproyek Pirolisis di Sumur Batu, Bantargebang.
- Pembebasan sisa lahan belum masuk anggaran tahun ini dan diproyeksikan baru terealisasi pada APBD Perubahan 2027.
- Proyek arahan Presiden Prabowo ini ditargetkan menyulap 1.500 ton gunungan sampah lama menjadi bahan bakar (oli).
- Kombinasi teknologi Pirolisis dan PSEL digadang-gadang akan menjadi solusi final krisis sampah di Kota Bekasi.
Ambisi Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi untuk merealisasikan proyek pengolahan sampah menjadi energi (Pirolisis) di Sumur Batu, Bantargebang, masih terganjal kesiapan lahan.
Hingga pertengahan 2026, Pemkot Bekasi masih kekurangan area seluas 1,1 hektare dari total 5 hektare yang disyaratkan oleh Pemerintah Pusat.
Ironisnya, pembebasan lahan krusial ini diprediksi baru bisa terakomodasi ketersediaan dananya pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan Tahun 2027 mendatang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kenapa Proyek Pirolisis di Kota Bekasi Membutuhkan Tambahan Lahan?
Kebutuhan tambahan lahan seluas 1,1 hektare ini terjadi karena Pemkot Bekasi baru bisa menyediakan lahan seluas 4 hektare.
Lahan existing tersebut merupakan hasil alih fungsi tata ruang dari Tempat Pemakaman Umum (TPU) menjadi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berlokasi di kawasan Sumur Batu, Bantargebang.
”Tetapi memang belum bisa teranggarkan di kita. Baru masuk dalam tahap perencanaan dulu,” kata Kepala Disperkimtan Kota Bekasi Widayat Subroto Hardi kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Kamis (09/07/2026).
Lebih lanjut, Subroto menjelaskan bahwa kesiapan anggaran untuk proses pembebasan sisa lahan tersebut kemungkinan tidak bisa dieksekusi pada tahun ini, melainkan harus menunggu APBD tahun depan.
”Lantaran kemungkinan besar bagi kesiapan keuangannya itu di wujudkan pada APBD Perubahan 2027 kemungkinan. Atau secara keuangan di kuartal 3 atau 4 lah di 2027,” ujarnya.
Apa Itu Teknologi Pirolisis dan Bagaimana Instruksi Presiden Prabowo?
Pirolisis merupakan metode pemanasan material sampah, seperti plastik atau biomassa, pada suhu tinggi dengan kondisi minim atau tanpa oksigen.
Proses mutakhir ini mampu mengubah limbah menjadi tiga produk bernilai guna tinggi: bahan bakar cair (BBM/oli), gas sintetis (syngas), dan residu padat (arang/biochar).
Penerapan teknologi ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan penyusutan tumpukan sampah lama di berbagai daerah.
”Jadi sampah yang lama mau dihabisin juga yang gunungan, mau dijadikan oli. Nah, kewajiban daerah sama, menyediakan lahan seluas lima hektar lokasi nya juga ada di Sumur Batu, Bantargebang,” kata Kepala DBMSDA Kota Bekasi Idi Sutanto kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com melalui keterangannya, Kamis (11/06/2026).
Menyambung soal status lahan, Idi mengonfirmasi bahwa saat ini Dinasnya sedang mematangkan strategi untuk mencari sisa lahan yang dibutuhkan agar proyek strategis nasional ini bisa berjalan optimal.
”Kurang lebih lahannya itu kita punya 4 hektar, berarti kan tinggal 1 hektar lagi sisanya yang menjadi PR, yang sedang kita pikirkan untuk mencari kebutuhan lahan di sisanya,” jelasnya.
Kota Bekasi sendiri dinilai beruntung karena terpilih menjadi satu dari tujuh daerah yang masuk dalam radar Kementerian Koordinator Bidang Pangan sebagai lokasi Pilot Project percontohan.
”Kita termasuk 4 dari lokasi yang siap. Kemungkinan nanti tanggal 8 Juli mau dilakukan Ground Breaking secara bersamaan oleh Pak Presiden Prabowo Subianto. Jadi, kita punya dua metode pengolahan sampah. Satu PSEL, Satu lagi yang pirolisis,” sambungnya.
Mampukah PSEL dan Pirolisis Menyelesaikan Krisis Sampah di Bekasi?
Kolaborasi dua teknologi mutakhir ini diproyeksikan mampu mengatasi beban produksi harian sekaligus mereduksi tumpukan sampah lama di Kota Bekasi secara berkesinambungan.
Berikut adalah kalkulasi daya tampung dari kedua proyek tersebut:
- Kapasitas Metode Pirolisis: Membutuhkan suplai sekitar 1.500 ton sampah lama per hari untuk dihilangkan dan diubah menjadi sumber kebutuhan BBM/oli.
- Kapasitas Metode PSEL: Membutuhkan suplai sekitar 1.200 ton sampah harian baru untuk dikonversi menjadi energi listrik.
- Total Produksi Sampah Harian: Saat ini, volume produksi sampah harian di Kota Bekasi berada di kisaran 1.800 ton.
Jika kedua fasilitas ini beroperasi maksimal, kapasitas pengolahan yang mencapai 2.700 ton per hari dipastikan lebih besar dari produksi sampah harian Kota Bekasi.
”Jadi kalau itu dua-duanya jadi dan sudah selesai. Maka, permasalahan sampah di Kota Bekasi terselesaikan. Makanya Kota Bekasi salah satu yang diapresiasi Nasional, karena respon cepat kita untuk koordinasi, menyiapkan lahan, koordinasi akses dan segala macam,” pungkasnya.
Langkah sigap Pemkot Bekasi dalam menyambut proyek pusat memang patut diacungi jempol. Namun, akankah ketiadaan anggaran pembebasan lahan 1,1 hektare di tahun ini menghambat kelancaran operasionalnya ke depan?
Bagikan pendapat Anda di kolom komentar dan jangan lupa bagikan artikel ini. Simak terus update berita terkini seputar kebijakan Pemkot Bekasi dan layanan publik hanya di RakyatBekasi.Com.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







