Kesabaran ribuan warga Kelurahan Kayuringin Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, yang kerap menjadi korban banjir kiriman, tampaknya telah habis. Melalui Forum Komunikasi Rukun Warga (FKRW), mereka mendesak Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) untuk segera merealisasikan proyek normalisasi Kali Jati yang telah lama dijanjikan.
Proyek yang menjadi harapan 15.000 lebih jiwa dari 10 RW ini dinilai mandek, padahal banjir besar terus berulang, salah satunya pada Maret 2025 lalu. Warga menuntut aksi nyata, bukan sekadar janji yang tak kunjung terealisasi.
Kesabaran Warga Habis Ditelan Banjir Berulang
Ketua FKRW Kayuringin Jaya, Yoyo Sutaryo, mengungkapkan kekecewaan mendalam dari warga yang ia wakili. Menurutnya, pasca banjir besar terakhir, tidak ada tindakan konkret yang diambil oleh pihak berwenang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami mendapatkan kiriman air yang sangat besar (pada Maret 2025). Setelah itu, kami hanya bisa berharap-harap cemas tapi tidak ada tindakan,” ucap Yoyo saat ditemui di lokasi, Rabu (23/7/2025). “Kesengsaraan warga ini menuntut agar banjir bisa segera diminimalisir.”
Ia menceritakan, perjuangan warga sudah berjalan panjang. Audiensi dengan Pemerintah Daerah hingga akhirnya menghasilkan kesepakatan dengan BBWSCC pada tahun 2023 untuk mendanai normalisasi mulai dari Kali Rawatembaga hingga Kali Jati. Namun, hingga kini pekerjaan konstruksi utama belum juga dimulai.
“Ini sudah terlalu lama, kami kebanjiran terus-menerus. Kami meminta Gubernur Jawa Barat bisa meneruskan permasalahan kami ini kepada Kementerian PUPR, supaya pekerjaan konstruksi segera direalisasikan dan tidak ditunda lagi,” keluhnya.
Mandeknya Proyek dan 4 Tuntutan Utama Warga
Perwakilan warga lainnya, Kris dari RW 22, merinci beberapa masalah teknis di lapangan yang memperparah kondisi dan menjadi tuntutan utama mereka. Proyek penyusunan Rencana Aksi Pengadaan Tanah dan Permukiman Kembali (Land Acquisition and Resettlement Action Plan/LARAP) yang dimulai sejak 2022 pun tak kunjung dieksekusi.
Berikut adalah empat tuntutan spesifik dari warga Kayuringin Jaya:
- Segerakan Eksekusi LARAP dan Konstruksi: Warga menuntut agar proses pembebasan lahan segera diselesaikan sebagai syarat utama dimulainya konstruksi fisik normalisasi kali.
- Pengerukan Sedimen dan Pemasangan Turap: Endapan lumpur di Kali Jati sudah sangat tebal dan perlu dikeruk tuntas. Selain itu, pemasangan turap (dinding penahan tanah) baru dilakukan di sisi utara, warga meminta sisi selatan juga segera dipasang.
- Hentikan Limpahan Air dari Wilayah Lain: Warga memprotes sistem pompa di Kalimalang yang justru mengalirkan air dari wilayah lain seperti Galaxy (Pekayon) ke area mereka yang sudah terendam. “Maunya kami, kalau di wilayah Galaxy ketawa, di sini juga ketawa. Jangan sebaliknya, sana ketawa, di sini menangis,” ungkap Kris dengan nada menahan amarah.
- Tertibkan Limbah Industri: Aliran Kali Jati juga terhambat oleh limbah padat dari pabrik-pabrik tahu di sekitar yang diduga membuang ampasnya langsung ke badan sungai.
Surat Tembusan ke Berbagai Pihak
Sebagai bentuk keseriusan, FKRW Kayuringin Jaya telah melayangkan surat permohonan yang berisi keluhan dan tuntutan masyarakat. Surat tersebut ditembuskan kepada Pj. Gubernur Jawa Barat, Wali Kota Bekasi, dan instansi terkait dengan harapan ada intervensi untuk mempercepat realisasi proyek pada tahun 2025 ini.
Warga kini menanti respons konkret dari BBWSCC dan pemerintah, berharap tangisan mereka akibat banjir tidak lagi terdengar di tahun-tahun berikutnya.
Pihak BBWSCC dan instansi pemerintah terkait diharapkan dapat segera memberikan respons dan jadwal pelaksanaan yang jelas atas tuntutan warga. Pengendalian banjir di Kota Bekasi membutuhkan aksi nyata dan kolaborasi yang responsif.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







































