Poin Utama:
- Lokasi Proyek: Jalan Nonon Sonthanie, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, memanfaatkan lahan milik Perum Jasa Tirta (PJT).
- Kendala Anggaran: Keterbatasan APBD Kota Bekasi memaksa Pemkot Bekasi mengajukan proposal bantuan dana ke Kementerian PU dan Kementerian Perhubungan.
- Target Waktu: Pembangunan jalan akses penghubung (pendekat) ditargetkan mulai berjalan pada tahun 2027.
- Pemicu Utama: Antisipasi kemacetan total akibat proyek Double-Double Track (DDT) PT KAI yang akan menutup seluruh perlintasan sebidang.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi membidik kucuran dana dari Pemerintah Pusat untuk membiayai proyek pembangunan Underpass di Jalan Nonon Sonthanie, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur.
Langkah strategis ini diambil lantaran keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bekasi dalam menanggulangi dampak perluasan jalur Double-Double Track (DDT) PT KAI.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi, Idi Sutanto, menargetkan kelanjutan proyek pembenahan akses jalan pendekat ini dapat terealisasi pada tahun depan.
Mengapa Pemkot Bekasi meminta bantuan dana pusat untuk Underpass Jalan Nonon Sonthanie?
Pemkot Bekasi mengajukan permohonan anggaran ke Pemerintah Pusat karena keterbatasan dana daerah (APBD) untuk membiayai proyek infrastruktur skala besar secara mandiri.
Langkah tolakan anggaran ini dinilai krusial agar penataan transportasi akibat proyek strategis nasional tidak membebani kas daerah.
”Untuk usulan Underpass-nya itu kita coba usulin ke Kementerian Perhubungan ataupun Kementerian PU secara anggaran. Karena, kita di Kota sendiri keterbatasan anggaran dan harus cari opsional lain secara pendanaan lainnya,” kata Idi Sutanto kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Sabtu (30/05/2026).
Apa dampak proyek Double-Double Track PT KAI di Bekasi Timur?
Kehadiran jalur Double-Double Track (DDT) oleh PT KAI diprediksi akan melumpuhkan mobilitas kendaraan bermotor jika perlintasan sebidang ditutup total tanpa jalur alternatif.
Peningkatan intensitas perjalanan kereta api membuat pembuatan underpass atau flyover menjadi harga mati bagi kelancaran lalu lintas lokal.
Idi menjelaskan bahwa tantangan kemacetan akibat DDT ini sudah diprediksi oleh Pemerintah Daerah sejak tiga hingga empat tahun terakhir.
Kondisi ini kian mendesak untuk diselesaikan, berkaca pada insiden kecelakaan fatal perkeretaapian yang sempat terjadi di wilayah Bekasi Timur pada akhir April lalu.
Bagaimana tahapan pembangunan Underpass Jalan Nonon Sonthanie saat ini?
DBMSDA Kota Bekasi saat ini tengah memprioritaskan pembangunan fisik badan jalan sebagai tahap awal sebelum masuk ke konstruksi utama underpass.
Proyek ini akan menggunakan lahan milik Perum Jasa Tirta (PJT) yang secara luasan dinilai sudah mencukupi kebutuhan lapangan.
”Kita tahun depan lanjutin dikit-dikit lah, jalan aksesnya kita benerin dulu. Secara proyeksi, lahan yang dibutuhkan mencukupi. Kita tinggal bikin jalan pendekatnya saja nanti dari arah Utara ke arah Selatan,” sambung Idi.
Selain titik Jalan Nonon Sonthanie, Pemkot Bekasi juga menyiapkan beberapa skema mitigasi kemacetan sejenis, di antaranya:
- Pengoperasian Flyover Bulak Kapal untuk mengurai simpul kepadatan timur.
- Rencana usulan pembangunan Underpass Bulan-bulan di area pusat kota.
- Pembuatan jalur alternatif (frontage road) baru yang dibangun sejajar dengan rel kereta api.
Langkah jemput bola ke kementerian ini diharapkan mampu mempercepat realisasi proyek demi mencegah stagnasi lalu lintas parah di kawasan Bekasi Timur.
Bagaimana pendapat Anda mengenai langkah Pemkot Bekasi yang mengandalkan dana pusat ini? Tulis komentar Anda di bawah dan bagikan artikel ini ke media sosial Anda!
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.






