BEKASI – Bank Sampah Induk Patriot (BSIP) Kota Bekasi tengah menggencarkan sosialisasi pembentukan bank sampah di seluruh 56 kelurahan.
Langkah strategis ini dilakukan untuk mendukung keberhasilan program dana hibah Rp100 juta per RW yang digulirkan oleh Pemerintah Kota Bekasi.
Direktur BSIP Kota Bekasi, Mulyanto Diharjo, menyatakan bahwa keberadaan bank sampah di setiap RW menjadi salah satu pilar penting agar dana hibah tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal, terutama untuk program pemberdayaan lingkungan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hingga pekan ketiga September 2025, BSIP telah berhasil menjalankan sosialisasi di 38 kelurahan. Pihaknya optimis target untuk menjangkau seluruh 56 kelurahan di Kota Bekasi dapat rampung pada akhir bulan ini.
“Untuk sosialisasi ke seluruh kelurahan, akhir bulan ini saya kira selesai. Kita sudah menyiapkan tim untuk itu, satu hari bahkan kita bisa sampai 10 titik,” ujar Mulyanto kepada jurnalis rakyatbekasi.com, Minggu (21/09/2025).
Mengubah Pola Pikir, Bukan Sekadar Syarat
Mulyanto menekankan bahwa esensi dari program ini jauh melampaui pemenuhan syarat administratif untuk pencairan dana.
Menurutnya, tujuan utamanya adalah membangun partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah dari sumbernya.
”Bank sampah bukan hanya tentang bagaimana syarat dana hibah RW dan tabungan nasabah. Akan tetapi, ini adalah tentang partisipasi masyarakat dalam pengolahan sampah,” tegasnya.
Tahap awal sosialisasi difokuskan untuk memberikan motivasi dan pemahaman yang benar mengenai bank sampah.
Salah satu misi utamanya adalah meluruskan asumsi negatif yang sering melekat di benak masyarakat.
”Saat ini, kami memprioritaskan sosialisasi di tingkat kelurahan atau kecamatan dengan mengundang para pengurus RW untuk menepis asumsi kotor dan bau yang ada,” sambungnya.
Mekanisme Praktis dan Potensi Hasil
Untuk menghilangkan kekhawatiran tersebut, BSIP menjelaskan bahwa bank sampah modern tidak memerlukan gudang besar yang berpotensi menimbulkan bau.
Kuncinya terletak pada pemilahan sampah anorganik (seperti botol plastik, kertas, dan logam) yang dilakukan langsung dari rumah-rumah warga.
”Sampah yang terkumpul dari rumah warga tersebut juga diangkut setiap hari dari setiap titik, sehingga tidak memerlukan gudang khusus untuk membuat bank sampah,” jelas Mulyanto.
Berdasarkan catatan, saat ini sudah ada lebih dari 400 bank sampah unit yang terbentuk di Kota Bekasi.
Namun, sebagian besar belum beroperasi maksimal karena terkendala fasilitas. Sering kali, sampah sementara dikumpulkan di tanah lapang atau fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum).
Dalam sosialisasi ini, setiap RW didorong untuk segera membentuk struktur kepengurusan dan mendapatkan Surat Keputusan (SK) resmi.
Setelah itu, BSIP akan kembali mendampingi untuk merekrut nasabah dari warga sekitar.
”Paling tidak, per bank sampah unit minimal memiliki 30 KK (Kepala Keluarga) untuk gerakan pertama. Dengan jumlah itu saja, sudah bisa mendapatkan sampah anorganik sekitar 200 sampai 300 kg per bulan,” imbuhnya.
Potensi ekonomi dari sampah terpilah ini diharapkan dapat menjadi pemasukan tambahan bagi kas RW sekaligus mengurangi volume sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.






































