Poin Utama:
- Target Wilayah: Program mencakup 1.020 RW di seluruh Kota Bekasi sebagai syarat dana hibah.
- Status Operasional: Dari 1.015 titik yang terbentuk, baru 602 unit yang aktif menimbang, sementara ±400 unit masih pasif.
- Nilai Ekonomi: Perputaran uang dari sampah naik dari Rp1,5 Miliar (2024) menjadi Rp2,2 Miliar (2025).
- Volume Sampah: Rata-rata pengelolaan meningkat drastis dari 65 ton menjadi 130 ton per bulan.
KOTA BEKASI – Bank Sampah Induk Patriot (BSIP) Kota Bekasi mencatat ratusan unit bank sampah di tingkat Rukun Warga (RW) belum beroperasi optimal pada awal tahun 2026.
Padahal, pembentukan dan keaktifan unit pengelolaan limbah ini merupakan salah satu syarat implementasi Program Rp 100 Juta per RW yang digulirkan Pemkot Bekasi untuk penataan lingkungan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berapa Banyak Bank Sampah yang Aktif di Kota Bekasi?
Berdasarkan data terbaru BSIP, meskipun jumlah titik bank sampah yang terbentuk telah mencapai 1.015 unit yang tersebar di 1.020 RW, tingkat partisipasi aktif masih menjadi tantangan.
”Namun, kurang lebih masih ada 400-an sekian bank sampah yang belum aktif di awal tahun 2026 ini,” kata Direktur Bank Sampah Induk Patriot (BSIP), Mulyanto Diharjo kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com di Kota Bekasi, Senin (12/01/2026).
Mulyanto menjelaskan, saat ini baru tercatat sekitar 602 bank sampah yang rutin melakukan penimbangan. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya yang hanya mencapai 443 unit, namun masih menyisakan pekerjaan rumah besar bagi pengurus lingkungan setempat untuk memandirikan pengelolaan sampahnya.
Bagaimana Peningkatan Volume dan Nilai Ekonomi Sampah?
Meski ratusan unit belum aktif, volume sampah yang terkelola di Kota Bekasi menunjukkan tren positif yang signifikan pasca program penataan lingkungan RW berjalan.
Kenaikan volume dan nilai ekonomi tercatat sebagai berikut:
- Volume Bulanan: Naik dari rata-rata 65 ton/bulan menjadi 130 ton/bulan.
- Omzet Bulanan: Nilai ekonomis meningkat dari Rp120 juta menjadi hampir Rp300 juta per bulan.
- Total Tahunan (2025): Pengurangan sampah mencapai lebih dari 1.000 ton (900 ton anorganik, 200 ton organik) dengan nilai ekonomi menembus Rp2,2 Miliar.
Angka ini melonjak dibandingkan tahun 2024, di mana total pengurangan sampah berada di bawah 800 ton dengan nilai ekonomi sekitar Rp1,55 Miliar.
Apa Langkah Pemkot Bekasi Mengatasi Bank Sampah yang Pasif?
Mulyanto menegaskan bahwa pihaknya akan terus menggencarkan sosialisasi dan pendampingan ke wilayah-wilayah yang bank sampahnya masih “mati suri”. Dalam satu bulan terakhir, upaya ini mulai membuahkan hasil dengan bertambahnya 40 unit bank sampah yang mulai aktif menimbang.
Ia menekankan bahwa dana Program Rp 100 Juta per RW seharusnya menjadi stimulus yang cukup bagi pengurus RW untuk memfasilitasi operasional bank sampah secara mandiri.
”Karena RW-nya sudah mendapat dana Rp100 juta untuk program penataan lingkungan tadi, sehingga mereka juga memiliki budget untuk memfasilitasi diri,” pungkasnya.
Dengan potensi ekonomi mencapai miliaran rupiah, optimalisasi bank sampah di tingkat RW tidak hanya membantu mengurangi beban TPA Sumur Batu, tetapi juga memberikan insentif finansial bagi warga.
Warga Kota Bekasi, mari aktifkan bank sampah di lingkungan Anda! Laporkan kendala pengelolaan sampah di wilayah Anda melalui layanan pengaduan Pemkot Bekasi.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















