BEKASI – Buntut dari kasus keracunan massal yang menimpa 12 siswa, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyalurkan Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk SDN Kota Baru 3 kini ditutup sementara.
Keputusan tegas ini diambil oleh Badan Gizi Nasional (BGN) setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi merilis hasil laboratorium yang membuktikan adanya bakteri E. coli dan Salmonella pada sampel makanan.
Penutupan operasional ini dilakukan untuk memberi waktu kepada pihak SPPG melakukan evaluasi total dan perbaikan mendasar pada Standar Operasional Prosedur (SOP) mereka, demi menjamin keamanan pangan bagi para siswa di kemudian hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sanksi Tegas Pasca Temuan Bakteri Berbahaya
Kepala Dinkes Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti Anggraeni, mengonfirmasi bahwa izin operasional SPPG yang bertanggung jawab atas distribusi di sekolah tersebut telah dibekukan untuk sementara waktu.
”Untuk SPPG selaku penyalur MBG di SDN Kota Baru 3, izin operasionalnya ditutup dulu. Mereka diminta untuk melakukan proses evaluasi menyeluruh,” tegas Satia kepada wartawan, Selasa (07/10/2025).
Langkah ini diambil agar penyedia layanan dapat fokus memperbaiki seluruh alur kerja, mulai dari pemilihan bahan baku hingga metode penyajian makanan, agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
Investigasi Dinkes Ungkap Dugaan Penyebab Kontaminasi
Lebih lanjut, Dinkes Kota Bekasi membeberkan beberapa temuan krusial dari investigasi mereka yang diduga kuat menjadi penyebab utama kontaminasi bakteri pada makanan siswa.
Jeda Waktu 5 Jam Antara Memasak dan Distribusi
Salah satu sorotan utama adalah rentang waktu yang terlalu lama antara proses pengolahan dan distribusi. Diketahui, makanan diolah oleh pihak SPPG sekitar pukul 05.00 WIB pagi.
”Namun, proses pendistribusian makanan baru dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB,” ungkap Satia. Jeda waktu selama lima jam ini memberikan celah yang sangat besar bagi bakteri untuk berkembang biak secara eksponensial, terutama jika makanan tidak disimpan pada suhu yang tepat.
Kualitas Buah yang Diduga Tidak Segar
Selain jeda waktu, kualitas bahan baku juga menjadi perhatian. Satia menyebutkan bahwa kontaminasi bakteri E. coli yang tinggi, khususnya pada buah, bisa menjadi indikasi bahan yang digunakan kurang segar.
”Bisa juga kalau kita lihat, karena yang banyak mengandung bakteri E. coli selain macaroni cheese adalah buahnya. Bisa jadi bakteri E. coli tumbuh karena buahnya mungkin tidak terlalu segar saat diolah,” jelasnya.
Mengingat Kembali Temuan Laboratorium
Sebelumnya, hasil uji Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Bekasi telah mengidentifikasi tiga jenis bakteri pada sampel MBG dari SDN Kota Baru 3, yaitu Escherichia coli (E-coli), Bacillus cereus, dan Salmonella.
Bakteri-bakteri berbahaya tersebut ditemukan pada berbagai jenis makanan yang disajikan, termasuk olahan daging, buah, dan macaroni cheese, yang menyebabkan 12 siswa mengalami gejala keracunan dan 6 di antaranya harus dirawat intensif di rumah sakit.
Pemerintah Kota Bekasi dan BGN kini akan terus mengawasi proses perbaikan yang dilakukan oleh SPPG untuk memastikan program Makanan Bergizi Gratis dapat kembali berjalan dengan standar keamanan pangan yang tertinggi.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




































