BEKASI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi secara resmi mengonfirmasi temuan tiga jenis bakteri berbahaya dalam sampel Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menjadi penyebab keracunan massal belasan siswa di SDN Kota Baru 3, Bekasi Barat.
Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya kontaminasi bakteri yang signifikan pada makanan yang dibagikan.
Insiden ini menambah daftar panjang kekhawatiran terkait keamanan pangan dalam program makan gratis di sekolah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pihak berwenang kini tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) penyediaan makanan untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Kronologi dan Dampak Keracunan
Peristiwa keracunan ini pertama kali dilaporkan setelah sejumlah siswa mengeluhkan gejala mual, pusing, dan muntah usai menyantap hidangan dari program MBG. Total, sebanyak 12 siswa dilaporkan mengalami gejala keracunan.
Situasi menjadi lebih serius ketika enam dari dua belas siswa tersebut harus segera dilarikan ke RS Ananda Bekasi untuk mendapatkan perawatan medis intensif.
Sementara itu, enam siswa lainnya dilaporkan mengalami gejala yang lebih ringan dan tidak memerlukan rawat inap.
Hasil Uji Laboratorium Dinkes Kota Bekasi
Untuk memastikan penyebab pasti dari insiden ini, Dinkes Kota Bekasi segera mengambil sampel makanan yang dikonsumsi para siswa untuk diuji di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).
Tiga Bakteri Berbahaya Teridentifikasi
Kepala Dinkes Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti Anggraeni, memaparkan hasil temuan yang mengkhawatirkan. Tiga bakteri berbahaya berhasil diidentifikasi dari sampel yang diperiksa.
“Hasil uji sampel MBG menunjukkan adanya bakteri Escherichia coli (E-coli), Bacillus Cereus, dan Salmonella pada beberapa komponen makanan,” jelas Satia saat dikonfirmasi oleh jurnalis rakyatbekasi.com, Senin (06/10/2025).
Bakteri-bakteri tersebut ditemukan pada makanan olahan daging, buah, serta hidangan macaroni cheese yang disajikan kepada para siswa.
Ketiga bakteri ini dikenal sebagai penyebab umum infeksi saluran pencernaan dengan gejala yang bervariasi dari ringan hingga berat.
Dugaan Penyebab Kontaminasi
Menurut analisis awal Dinkes, salah satu faktor utama yang diduga menjadi pemicu kontaminasi bakteri adalah jeda waktu yang terlalu lama antara proses memasak dan waktu konsumsi oleh para siswa.
”Kami sudah melakukan analisa. Memang, durasi antara waktu makanan selesai dimasak dengan waktu dikonsumsi itu agak panjang, sehingga memberikan peluang bagi kuman untuk berkembang biak di situ,” tambah Satia.
Tindak Lanjut dan Langkah Mitigasi
Menyikapi temuan serius ini, beberapa langkah tegas dan cepat langsung diambil oleh pihak-pihak terkait untuk memastikan keamanan para siswa.
Penghentian Sementara Distribusi MBG
Badan Gizi Nasional (BGN) selaku penanggung jawab program telah mengeluarkan instruksi untuk menghentikan sementara distribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) ke SDN Kota Baru 3. Kebijakan ini akan terus berlaku hingga ada jaminan perbaikan kualitas dan keamanan dari penyedia.
Perbaikan Standar Operasional Prosedur (SOP)
Saat ini, fokus utama adalah evaluasi dan perbaikan SOP oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai pelaksana di lapangan.
Perbaikan ini mencakup seluruh rantai proses, mulai dari pemilihan bahan hingga penyajian.
”Tujuannya supaya SPPG bisa memperbaiki SOP, meningkatkan kualitas bahan pangan yang digunakan, serta mengatur strategi penyajian makanan sehingga durasinya tidak terlalu lama dari memasak hingga disajikan untuk anak-anak,” tutup Satia.
Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak yang terlibat dalam program penyediaan makanan sekolah untuk selalu memprioritaskan aspek kebersihan dan keamanan pangan.
Publik kini menantikan hasil evaluasi dan perbaikan SOP agar program yang bertujuan baik ini dapat berjalan dengan aman dan efektif.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















