Poin Utama:
- Pemkot Bekasi tengah menyiapkan lahan 5 hektare di Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang untuk fasilitas Pirolisis.
- Teknologi Pirolisis ditargetkan mampu mengolah 1.500 ton sampah lama menjadi bahan bakar minyak (BBM) atau oli.
- Groundbreaking proyek percontohan nasional ini dijadwalkan pada 8 Juli 2026 oleh Presiden Prabowo Subianto.
- Kombinasi Pirolisis dan PSEL diproyeksikan menuntaskan total 1.800 ton produksi sampah harian warga Bekasi.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi tengah mematangkan persiapan lahan seluas lima hektare di Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang, untuk proyek percontohan teknologi Pirolisis.
Proyek Strategis Nasional (PSN) arahan langsung Presiden Prabowo Subianto ini ditargetkan mampu menyulap gunungan sampah lama menjadi energi alternatif berupa Bahan Bakar Minyak (BBM). Langkah strategis ini akan melengkapi proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang lebih dulu berjalan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Apa Tujuan Proyek Pirolisis di Bantargebang Bekasi?
Proyek Pirolisis bertujuan untuk menghabiskan tumpukan sampah lama di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu dengan mengubahnya menjadi bahan bakar bernilai guna tinggi melalui proses pemanasan suhu tinggi minim oksigen.
Penerapan teknologi pengolahan yang menghasilkan bahan bakar cair (bio-oil), gas sintetis, dan residu padat ini merupakan instruksi langsung dari Pemerintah Pusat guna mengatasi krisis lahan pembuangan.
”Jadi sampah yang lama mau dihabisin juga yang gunungan, mau dijadikan oli. Nah, kewajiban daerah sama, menyediakan lahan seluas lima hektar lokasinya juga ada di Sumur Batu, Bantargebang,” kata Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi, Idi Sutanto kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Kamis (11/06/2026).
Bagaimana Pemkot Bekasi Penuhi Kebutuhan 5 Hektare Lahan?
Untuk memenuhi target lima hektare lahan sarana Pirolisis, Pemkot Bekasi mengambil langkah taktis dengan mengalihfungsikan tata ruang lahan yang mulanya diperuntukkan bagi Tempat Pemakaman Umum (TPU) menjadi TPA.
Strategi ini diambil untuk mempercepat ketersediaan lahan fisik tanpa harus memulai proses pembebasan lahan dari nol.
Saat ini, pemerintah daerah telah mengamankan mayoritas luasan lahan yang diinstruksikan.
“Kurang lebih lahannya itu kita punya 4 hektar, berarti kan tinggal 1 hektar lagi sisanya yang menjadi PR, yang sedang kita pikirkan untuk mencari kebutuhan lahan di sisanya,” jelas Idi.
Kapan Groundbreaking Proyek Pirolisis Bantargebang Digelar?
Groundbreaking atau peletakan batu pertama proyek Pirolisis di Kota Bekasi dijadwalkan akan berlangsung pada awal Juli 2026 secara serentak bersama sejumlah daerah percontohan lainnya di Indonesia.
Kementerian Koordinator Bidang Pangan mencatat terdapat tujuh daerah yang berpotensi menjadi pilot project, di mana Kota Bekasi diakui sebagai salah satu yang paling siap secara infrastruktur dan birokrasi.
”Kita termasuk 4 dari lokasi yang siap. Kemungkinan nanti tanggal 8 Juli mau dilakukan Ground Breaking secara bersamaan oleh Pak Presiden Prabowo Subianto. Jadi, kita punya dua metode pengolahan sampah. Satu PSEL, satu lagi yang pirolisis,” tegasnya.
Berapa Ton Sampah yang Mampu Diolah di Bantargebang Setiap Hari?
Kombinasi metode Pirolisis dan PSEL diproyeksikan mampu menyapu bersih permasalahan produksi sampah harian warga Kota Bekasi, sekaligus mengikis habis tumpukan sampah lama yang menggunung di kawasan Bantargebang. Kolaborasi dua teknologi ini akan membagi beban pengolahan secara proporsional.
Berikut adalah rincian kapasitas pengolahan sampah di Kota Bekasi:
- Produksi Harian: Warga Kota Bekasi menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah per hari.
- Kapasitas PSEL: Mengonsumsi 1.200 ton sampah baru setiap hari untuk dikonversi menjadi energi listrik.
- Kapasitas Pirolisis: Menargetkan pengolahan 1.500 ton sampah lama per hari untuk diekstrak menjadi oli atau bahan bakar cair.
“Jadi kalau itu dua-duanya jadi dan sudah selesai. Maka, permasalahan sampah di Kota Bekasi terselesaikan. Makanya Kota Bekasi salah satu yang diapresiasi Nasional, karena respon cepat kita untuk koordinasi, menyiapkan lahan, koordinasi akses dan segala macam,” pungkas Idi.
Kehadiran dua teknologi pengolahan canggih ini diharapkan tidak hanya mengakhiri bom waktu krisis lahan pembuangan di Bantargebang, tetapi juga mendorong kemandirian energi dan sirkular ekonomi di Kota Bekasi.
Bagaimana tanggapan Anda terkait proyek ambisius penanganan sampah dari Pemkot Bekasi ini? Jangan lupa bagikan pendapat Anda di kolom komentar di bawah dan bagikan artikel ini.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







