KOTA BEKASI – Proyek strategis nasional Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi kini memasuki babak baru yang krusial. Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi terus mematangkan berbagai persiapan teknis, mulai dari pembebasan lahan hingga kesiapan armada pengangkut, guna mendukung percepatan proyek yang kini tengah dalam proses lelang di tingkat pemerintah pusat.
Langkah ini diambil sebagai solusi konkret dalam mengatasi permasalahan sampah perkotaan sekaligus mendukung ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan energi terbarukan.
Kapasitas Pengolahan dan Kesiapan Armada
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menegaskan bahwa proyek PSEL ini dirancang untuk menyerap volume sampah dalam jumlah besar. Berdasarkan kesepakatan terbaru, fasilitas ini ditargetkan mampu mengolah ribuan ton sampah setiap harinya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
”Kemarin kita menyepakati 1.400 ton sampah itu bisa kita selesaikan melalui PSEL, dari total produksi sampah harian di Kota Bekasi yang mencapai 1.800 ton,” ujar Tri Adhianto dalam keterangannya, Rabu (24/12/2025).
Untuk mendukung mobilisasi volume sampah tersebut menuju fasilitas PSEL, Pemkot Bekasi memastikan kesiapan armada operasional. Saat ini, armada truk sampah yang dimiliki dinilai sudah cukup memadai secara prinsip, namun penambahan unit tetap direncanakan untuk optimalisasi.
”Secara prinsip siap, semuanya dimiliki oleh Kota Bekasi. Kita mempunyai kekuatan 350 truk, mudah-mudahan update-nya nanti kita tambah 50 truk lagi agar operasional lebih maksimal,” tambah Tri.
Peran Serta Masyarakat Melalui Bank Sampah
Dengan kapasitas PSEL sebesar 1.400 ton, masih terdapat sisa sekitar 400 ton sampah harian yang perlu dikelola. Pemkot Bekasi menerapkan strategi desentralisasi pengelolaan sampah melalui pemberdayaan masyarakat.
Sisa sampah tersebut akan diolah melalui bank sampah di tingkat RW. Langkah ini tidak hanya mengurangi beban tempat pembuangan akhir, tetapi juga menjadi sarana edukasi untuk mengubah pola pikir masyarakat bahwa sampah memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan benar.
Solusi Gunungan Sampah di TPST Bantargebang
Selain menangani sampah harian, kehadiran PSEL Kota Bekasi juga diharapkan mampu menyelesaikan masalah lingkungan menahun, yakni gunungan sampah lama di TPST Bantargebang. Teknologi yang diterapkan pada PSEL memungkinkan pemusnahan sampah lama secara bertahap.
”Tantangan lain adalah gunungan sampah lama. Oleh karena itu, nanti dibutuhkan treatment khusus. Sampah yang lama pun bisa kita lakukan pemusnahan dengan menggunakan alat canggih yang kita miliki nanti,” jelas Tri Adhianto.
Progres Pembebasan Lahan PSEL
Dari sisi infrastruktur fisik, proses penyediaan lahan menjadi prioritas utama. Pemkot Bekasi melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Disperkimtan) tengah merampungkan pembebasan lahan seluas 4,9 hektar yang dialokasikan untuk pembangunan pabrik pengolahan ini.
Kepala Disperkimtan Kota Bekasi, Widayat Subroto Hardi, menyampaikan optimismenya bahwa seluruh proses administrasi dan pembayaran lahan dapat tuntas pada akhir tahun ini.
”Proses pembayaran tidak terlalu lama, seminggu bisa selesai. Di level pembicaraan dengan pemilik lahan sih sudah setuju semua, tapi saat ini masih menunggu proses penilaian dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP),” pungkas Widayat.
Penilaian KJPP sangat penting untuk memastikan harga tanah yang wajar dan transparan, sehingga tidak ada kendala hukum di kemudian hari.
Keberhasilan penyiapan infrastruktur pendukung, mulai dari lahan hingga armada, menjadi penentu kelancaran proyek PSEL Kota Bekasi. Jika terealisasi sesuai target, fasilitas ini akan menjadi tonggak sejarah baru dalam manajemen sampah modern yang ramah lingkungan di Indonesia.
Bagaimana pendapat Anda mengenai solusi sampah menjadi listrik ini? Tuliskan komentar Anda di bawah.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




































