BEKASI – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Bekasi menyoroti pentingnya pendidikan politik sejak dini sebagai fondasi untuk merawat demokrasi pasca-Pemilu dan Pilkada 2024.
Dalam kunjungannya ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Bekasi, Bawaslu mendukung penuh implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang dinilai efektif untuk menangkal intoleransi dan politisasi agama di kalangan pemilih pemula.
Kegiatan sosialisasi pendidikan pemilih yang digagas oleh KPU Kota Bekasi ini menjadi momentum strategis untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi Z.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Acara ini dihadiri oleh puluhan siswa yang antusias mendengarkan paparan mengenai pentingnya menjaga kerukunan dalam perbedaan pilihan politik.
Sinergi Kurikulum Cinta dan Pengawasan Pemilu
Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kota Bekasi, Jhonny Sitorus, menyatakan bahwa pendekatan KBC sangat relevan dengan visi Bawaslu dalam menciptakan pemilu yang bersih dan bermartabat di masa depan.
Menurutnya, kurikulum ini dapat menjadi benteng pertahanan bagi siswa dari narasi-narasi yang memecah belah.
”KBC di lingkungan madrasah ini selaras dengan upaya kerja kami dalam mendeteksi dan mencegah potensi pelanggaran pemilu masa depan, seperti politisasi agama, penyebaran hoaks, dan intoleransi,” ujar Jhonny kepada jurnalis rakyatbekasi.com, Kamis (09/10/2025).
Ia menambahkan, pembekalan nilai-nilai universal sejak di bangku sekolah akan membentuk karakter generasi muda yang kritis namun tetap menjunjung tinggi persatuan.
Menanamkan Empat Pilar Cinta
Jhonny menjelaskan lebih lanjut bahwa KBC di MAN 1 Kota Bekasi berfokus pada empat pilar utama yang fundamental dalam membangun karakter siswa:
- Cinta kepada Tuhan: Memperkuat spiritualitas sebagai landasan moral.
- Cinta kepada Sesama Manusia: Mendorong empati, toleransi, dan menghargai perbedaan.
- Cinta kepada Lingkungan: Menumbuhkan kesadaran untuk menjaga alam sekitar.
- Cinta Tanah Air: Memupuk semangat nasionalisme dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.
”Penerapan kurikulum cinta ini akan mampu menanamkan nilai-nilai luhur kepada siswa-siswi sejak usia dini, membentuk mereka menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga matang secara emosional dan sosial,” tegasnya.
Peran Aktif Gen Z dalam Merawat Demokrasi
Pasca-gelaran Pemilu dan Pilkada Serentak 2024, Bawaslu berharap para siswa, khususnya pemilih pemula, dapat mengambil peran aktif dalam mengawal jalannya pemerintahan.
Salah satu caranya adalah dengan berani menyuarakan aspirasi secara konstruktif.
”Menyampaikan pendapat dijamin oleh UUD 1945. Kami mendorong adik-adik siswa untuk turut merawat demokrasi dengan menyampaikan aspirasi melalui kanal yang tepat, seperti kepada Pemerintah dan DPRD Kota Bekasi, sepanjang dilakukan secara damai dan tidak anarkis,” papar Jhonny.
Kolaborasi Lintas Lembaga untuk Pendidikan Politik
Inisiatif ini bukan hanya menjadi tanggung jawab Bawaslu. Kegiatan sosialisasi di MAN 1 Kota Bekasi merupakan program perdana yang digagas oleh KPU Kota Bekasi untuk menyasar kelompok usia Gen-Z. Ke depannya, KPU berencana memperluas jangkauan program serupa ke berbagai jenjang pendidikan.
”Rencananya, KPU Kota Bekasi akan melakukan kegiatan serupa di sejumlah sekolah SMA, SMK, dan bahkan kalangan kampus,” ungkap salah satu perwakilan KPU yang hadir.
Bawaslu berkomitmen untuk terus mendukung program edukasi semacam ini. “Kami akan terus bersinergi dengan madrasah, sekolah, dan KPU untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis dalam keberagaman. Dari ruang-ruang kelas inilah kita berharap lahir generasi Z yang lebih toleran, inklusif, dan penuh kasih sayang,” pungkas Jhonny.
Bagaimana menurut Anda peran sekolah dalam menangkal politisasi agama? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar!
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








































