KOTA BEKASI – Di tengah dinamisnya ritme kehidupan kota metropolitan, denting gamelan dan hentakan kaki para penari muda membawa nuansa magis Pulau Dewata ke Kota Bekasi.
Penampilan memukau Tari Jauk Keras dan Tari Penyambutan Cilinaya yang dibawakan dengan penuh penghayatan menjadi sorotan utama dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-7 Pesemetonan Krama Tabanan (PERMATA).
Acara yang digelar di Wantilan Pura Agung Tirta Bhuana, Minggu (14/12/2025), menjadi bukti nyata bahwa jarak geografis tidak menyurutkan semangat generasi muda Hindu di perantauan untuk melestarikan seni budaya Bali.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penampilan Memukau Teruna-Teruni di Perantauan
Gita, Prabha, dan rekan-rekan sejawatnya tampil sebagai bintang panggung. Mereka merupakan teruna-teruni (pemuda-pemudi) PERMATA yang sukses menghipnotis ratusan pasang mata yang hadir.
Gerakan dinamis Tari Jauk Keras yang menggambarkan karakter raksasa yang tegas, berpadu kontras namun harmonis dengan keanggunan Tari Cilinaya.
Suasana semakin hidup dengan iringan gamelan dari seniman tabuh Sekeha Gong Cibegede, sebuah kolaborasi seniman dari Ciangsana, Bekasi, dan Pondok Gede. Harmoni ini seolah memindahkan atmosfer sakral dan meriah dari Tabanan langsung ke jantung Kota Bekasi.
”Kami belajar tari Bali sejak kecil. Meski tinggal di Bekasi, orang tua kami tidak ingin kami lupa dengan akar budaya,” ungkap Gita dengan antusias usai turun panggung.
Ketua PERMATA, Gede Merta Nadi, tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya. Menurutnya, regenerasi adalah kunci kelestarian budaya.
”Melalui mereka, kita melihat masa depan budaya Bali yang tetap hidup di perantauan. PERMATA berkomitmen menjadi wadah bagi generasi muda untuk terus belajar dan mengembangkan seni budaya Bali,” tegas Gede Merta Nadi.
Simakrama Tokoh Bali: Dari Budaya hingga Infrastruktur
Acara ini tidak sekadar pentas seni, melainkan ajang simakrama (silaturahmi) akbar. Ketua Panitia, Henny Herawati, melaporkan bahwa lebih dari 300 orang memadati lokasi acara. Hadirin terdiri dari keluarga besar PERMATA se-Jabodetabek dan berbagai tokoh penting.
Turut hadir sesepuh PERMATA sekaligus Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Bekasi, I Gusti Made Rudhita. Tokoh-tokoh senior lainnya seperti Made Sujana, Ibu Pendhit, Nengah Suamba, Made Soewecha, Ibu Ketut Suryata, dan Putu Hadiatmika juga tampak hadir, mengenang awal mula pembentukan organisasi ini sebagai benteng identitas budaya bagi anak cucu.
Solidaritas komunitas Bali di Jabodetabek terlihat dari kehadiran perwakilan paguyuban lain, seperti:
- Paguyuban Karangasem (PAKAR)
- Pesemetonan Buleleng (POLENG)
- Pesemeton Jembrana (PRANA)
- Sekar Bang (Bangli)
Kelancaran acara juga didukung penuh oleh Pecalang Jaga Bhuana dan Pengurus Banjar Suka Duka Hindu Dharma (SDHD) Bekasi.
Isu Strategis: Menatap Masa Depan Bali dari Bekasi
Salah satu momen penting dalam acara ini adalah sambutan dari I Gede Darmayusa. Selain menjabat sebagai Ketua SDHD Banjar Bekasi dan Ketua POLENG, beliau juga dikenal sebagai Direktur PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Dalam sambutannya, Darmayusa mengajak diaspora Bali untuk menyumbangkan pemikiran strategis bagi pembangunan daerah asal. Ia menyoroti isu krusial seperti pengelolaan sampah dan kemacetan yang kian nyata di Bali.
”Tahun 2025, dengan sekitar 25 juta pengguna jasa Bandara Ngurah Rai, kemacetannya sudah seperti itu. Bayangkan tahun 2030, menurut target adalah 32 juta penumpang. Dapat dibayangkan seperti apa macetnya,” papar Darmayusa memberikan pandangan visioner.
Ia menyatakan optimisme bahwa operasional kereta api di Bali akan segera terwujud dalam waktu dekat sebagai solusi transportasi massal.
Selain itu, ia menekankan perlunya dukungan kolektif untuk pembangunan infrastruktur vital seperti jalan tol dan rencana bandara baru di Bali Utara demi pemerataan ekonomi.
Tradisi Spiritual dan Kuliner Nusantara
Sebelum kemeriahan pentas seni dan diskusi, acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ida Pedanda Gde Sebali Waisnawa Mahardika dan Ida Pandita Istri Puspasari dari Griya Sebali Keniten, Jatiwarna, Kota Bekasi. Hal ini menegaskan bahwa nilai spiritual tetap menjadi landasan utama setiap kegiatan komunitas.
Perayaan HUT ke-7 PERMATA ditutup dengan ramah tamah yang hangat. Para perantau dimanjakan dengan hidangan khas Bali dan jajanan tradisional yang mengobati kerinduan akan kampung halaman di Tabanan.
(Dewa/Redaksi)
Ingin mengetahui lebih banyak tentang kegiatan budaya dan komunitas di Bekasi? Ikuti terus update berita terbaru kami.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.












































