BEKASI — Menghadapi volume sampah yang mencapai 1.800 ton per hari dan kian menggunungnya sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Komisi II DPRD Kota Bekasi mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) untuk mempercepat realisasi proyek strategis Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
Proyek PSEL Kota Bekasi dipandang sebagai solusi utama jangka panjang untuk mengatasi krisis sampah yang kian mendesak. Sembari menunggu proyek tersebut, DPRD juga merekomendasikan serangkaian strategi jangka pendek dan menengah, dengan edukasi pemilahan sampah di tingkat rumah tangga sebagai kuncinya.
PSEL Jadi Solusi Utama Atasi Tumpukan Sampah
Sekretaris Komisi II DPRD Kota Bekasi, Evi Mafriningsianti, menyatakan bahwa pihaknya secara aktif mendorong Pemkot Bekasi, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH), untuk segera menuntaskan seluruh persyaratan administrasi yang dibutuhkan agar pembangunan PSEL dapat dimulai sesuai target pada akhir tahun 2025.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
”Kami merasa bahwa ini (PSEL) adalah solusi untuk mengatasi persoalan sampah. Kesiapannya saat ini sudah on the way,” ujar Evi dalam keterangannya yang dikutip pada Selasa (21/10/2025).
Kehadiran PSEL di Kota Bekasi diproyeksikan memiliki kapasitas pengolahan sampah hingga 1.200 ton per hari. Angka ini diharapkan dapat mengurangi secara drastis beban TPA Sumur Batu yang kondisinya sudah sangat kritis.
Tantangan Pengelolaan Sisa Sampah
Meskipun PSEL menjadi harapan besar, Komisi II menyoroti bahwa fasilitas tersebut belum bisa mengelola seluruh produksi sampah harian. Berdasarkan rapat koordinasi dengan DLH pekan lalu, masih ada selisih sampah yang signifikan.
- Total Sampah Harian: 1.800 ton
- Kapasitas PSEL: 1.200 ton
- Sisa Sampah Belum Terkelola: 600 ton
”Masih ada 600 ton yang belum terkelola, ditambah dengan tumpukan sampah (eksisting) yang sudah ada di Bantargebang,” tutur Evi, menjelaskan skala tantangan yang masih harus dihadapi.
Strategi Multi-Jangka untuk Urai Masalah
Untuk mengatasi sisa sampah tersebut, DPRD merekomendasikan pendekatan multi-strategi yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat dan pihak lain.
Jangka Pendek: Edukasi dan Pemilahan Sampah
Langkah paling mendesak adalah menggalakkan program pemilahan sampah dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Program ini ditargetkan dapat mengurangi volume sampah yang diangkut ke TPA hingga 200 ton per hari.
”Dengan pemilahan, kita targetkan bisa mengurangi 200 ton. Dengan begitu, tersisa 400 ton yang masih harus dikelola,” jelas Evi.
Jangka Menengah dan Panjang: Optimalisasi dan Kerjasama
Untuk sisa 400 ton tersebut dan pengelolaan sampah secara berkelanjutan, beberapa opsi diusulkan:
- Optimalisasi TPS 3R: Mengaktifkan dan memaksimalkan fungsi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle.
- Kerjasama Swasta: Membuka peluang kerjasama dengan pihak swasta dalam teknologi pengolahan sampah.
- Pembentukan BUMD: Mengkaji kemungkinan pendirian Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang fokus pada pengelolaan sampah.
Dorong Kolaborasi untuk Edukasi Massif
Menyadari pentingnya peran serta masyarakat, Komisi II secara khusus mendorong DLH untuk berkolaborasi dengan Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfostandi) Kota Bekasi.
”Edukasi mengenai cara pemilahan sampah hingga jenis sampah yang bisa diolah harus dilakukan secara terus-menerus dan masif kepada masyarakat,” imbuh Evi.
Apakah Anda sudah memilah sampah di rumah? Bagikan pendapat Anda tentang solusi pengelolaan sampah di Kota Bekasi pada kolom komentar.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




















