Sejumlah sekolah swasta di Kota Bekasi menghadapi krisis calon peserta didik pada Tahun Ajaran Baru 2025/2026. Kondisi ini menjadi sorotan tajam setelah sebuah SMP Swasta dilaporkan hanya menerima 3 murid baru.
Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kota Bekasi juga mengonfirmasi telah menerima lebih dari 10 aduan serupa, di mana beberapa sekolah hanya mendapatkan siswa di bawah 10 orang.
Menanggapi fenomena ini, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, memberikan pesan tegas kepada para pengelola pendidikan swasta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Wali Kota Bekasi: Pasar Tersedia, Kualitas Jadi Penentu
Tri Adhianto menegaskan bahwa peluang pasar untuk sekolah swasta di Kota Bekasi sebetulnya sangat besar.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan, jumlah lulusan SD tahun ini mencapai 36.327 siswa, sementara daya tampung SMP Negeri hanya mampu menyerap 20.583 siswa.
“Jadi saya kira sebetulnya ruangnya (untuk swasta) masih sangat banyak. Ada selisih lebih dari 15.000 siswa yang membutuhkan bangku sekolah,” jelas Tri Adhianto kepada rakyatbekasi.com pada Senin (21/07/2025).
Menurutnya, Pemkot Bekasi sengaja membatasi rombongan belajar (rombel) di sekolah negeri menjadi 44 siswa per kelas untuk mendorong peran serta sektor swasta.
Namun, ia menekankan bahwa ketersediaan pasar tidak menjamin sekolah swasta akan dipilih jika tidak diimbangi dengan kualitas.
“Harapannya adalah bagaimana pihak sekolah swasta juga dapat meningkatkan diri, terkait dengan mutu pendidikan dan pelayanannya. Karena bagaimanapun juga, tentu ada pilihan-pilihan yang diberikan oleh warga masyarakat untuk memilih sekolah,” ujarnya.
Bukan Sekadar Bangku, Tapi Pembangunan Karakter
Lebih lanjut, Tri Adhianto mengingatkan bahwa mutu pendidikan tidak hanya diukur dari aspek akademis. Pembangunan karakter, sikap, dan mental siswa menjadi tugas utama yang harus diemban setiap lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta.
“Tugas sekolah harus membangun karakter, membangun jiwa, dan membangun sikap. Sehingga harapannya adalah bagaimana mereka bisa menerima dan memilah informasi yang baik untuk masa depan anak-anak kita,” imbuhnya.
Kadisdik: Konsekuensi Logis dari Persaingan
Sikap tegas juga disampaikan oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Alexander Zulkarnain. Menurutnya, minimnya pendaftar di beberapa sekolah swasta adalah konsekuensi logis dari persaingan yang sehat di dunia pendidikan.
“Memang harus ada keunggulan yang ditawarkan. Kalau tidak, ya tidak akan dilirik oleh masyarakat,” tutur Alexander kepada rakyatbekasi.com saat ditemui di Plaza Pemkot Bekasi usai apel .
“Apalagi yang sekadar menyelenggarakan pendidikan tanpa memerhatikan kualitas. Sekolah swasta harus terus meningkatkan mutunya agar minat orang tua wali murid menjadi tinggi.”
Fenomena ini menjadi cerminan bahwa orang tua murid kini semakin selektif dan memprioritaskan kualitas pendidikan di atas pertimbangan lainnya saat memilih sekolah untuk anak-anak mereka.
Kondisi ini menjadi pengingat bagi para pengelola pendidikan swasta untuk terus berinovasi, sekaligus menjadi acuan bagi orang tua untuk lebih selektif dalam memilih lembaga pendidikan terbaik bagi putra-putrinya.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








































