KOTA BEKASI – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), fluktuasi harga kebutuhan pokok mulai dirasakan masyarakat. Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kota Bekasi melaporkan adanya lonjakan harga pada komoditas cabai, khususnya cabai rawit merah.
Meski demikian, pemerintah kota memastikan bahwa ketersediaan stok pangan di wilayahnya tetap terjamin aman hingga pergantian tahun menuju 2026.
Lonjakan Harga Cabai Rawit Merah di Pasar Tradisional
Berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Kementerian Perdagangan, harga cabai rawit merah di sejumlah pasar tradisional Kota Bekasi mengalami kenaikan signifikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Per Kamis (11/12/2025), harga cabai rawit merah di Pasar Kranji dan Pasar Pondok Gede telah menembus angka Rp 90.000 per kilogram. Angka ini melonjak dibandingkan pantauan pada pekan sebelumnya, (03/12), yang masih berada di kisaran Rp 80.000 per kilogram.
Kepala DKPPP Kota Bekasi, Karto, membenarkan adanya kenaikan harga tersebut. Menurutnya, fenomena ini tidak terlepas dari hukum pasar di mana permintaan masyarakat meningkat tajam menjelang momen hari besar keagamaan dan libur akhir tahun.
”Memang ada kenaikan harga menyoal cabai rawit merah di Kota Bekasi. Kenaikan harga ini turut dipicu oleh permintaan masyarakat yang cukup tinggi menjelang Nataru,” ujar Karto dalam keterangannya, Kamis sore.
Pasokan Lancar, Kenaikan Murni Karena Permintaan
Meskipun harga merangkak naik, Karto menegaskan bahwa kondisi ini bukan disebabkan oleh kelangkaan barang atau gangguan distribusi. Ia memastikan rantai pasok dari daerah sentra produksi menuju Kota Bekasi berjalan lancar tanpa kendala berarti.
”Kalau sementara ketersediaan turunan cabai di Kota Bekasi aman, supply-nya lancar. Kenaikan harga murni karena permintaannya ada peningkatan, dan setiap daerah kondisinya bisa berbeda,” jelasnya.
DKPPP terus melakukan koordinasi intensif dengan para penyuplai untuk memantau kondisi di lapangan, memastikan tidak ada hambatan distribusi yang bisa memperburuk harga.
Langkah Antisipasi dan Koordinasi dengan Bulog
Sebagai langkah mitigasi menghadapi fluktuasi harga komoditas pangan menjelang Nataru, DKPPP Kota Bekasi tidak bekerja sendirian. Pihaknya secara aktif berkoordinasi dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).
Langkah ini diambil untuk memastikan stabilitas stok, terutama untuk bahan pokok yang rentan mengalami kekosongan seperti cabai, bawang, dan beras.
”Sembari pemantauan di setiap pasar, terus kami upayakan dan petugas aktif melakukan laporan secara berkala. Jika terjadi kekosongan atau lonjakan tak terkendali, kami siap berkoordinasi dengan Bulog untuk intervensi pasar,” tutur Karto.
Proyeksi Ketersediaan Pangan Hingga 2026
Sebelumnya, pada Jumat (07/11/2025), DKPPP Kota Bekasi telah melakukan penyisiran stok kebutuhan bahan pokok jauh hari sebelum momentum Nataru tiba. Karto menyatakan optimisme pemerintah bahwa cadangan pangan untuk sembilan bahan pokok (sembako) relatif aman.
”Adapun ketersediaan stok pangan dipastikan dapat memenuhi kebutuhan sampai akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026,” tegasnya.
Pemerintah Kota Bekasi mengimbau masyarakat untuk tidak panik (panic buying) dalam berbelanja kebutuhan pokok, karena stok dipastikan mencukupi meski terjadi dinamika harga pada komoditas tertentu.
Ingin mendapatkan update terbaru mengenai harga pangan di Kota Bekasi? Pantau terus perkembangan berita lokal dan informasi pasar hanya di portal berita kami.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







































