Poin Utama:
- Durasi Izin: Pemkot Bekasi menjamin perizinan UMKM lengkap dapat terbit dalam hitungan jam, bukan hari.
- Fokus Ekspor: Pendampingan dialihkan pada perbaikan kualitas kemasan (packaging) agar layak masuk pasar global.
- Strategi Wisata: Mengembangkan konsep Sport City dan wisata kuliner sebagai pengganti minimnya wisata alam.
- Kolaborasi: Melibatkan dana CSR perusahaan sebagai jaring pengaman bagi UMKM terdampak bencana.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi menjanjikan reformasi total layanan birokrasi bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan target penerbitan izin usaha rampung dalam hitungan jam.
Langkah strategis ini diambil Wakil Wali Kota Bekasi, Harris Bobihoe, untuk memastikan produk lokal tidak hanya jago kandang, tetapi mampu menembus pasar ekspor.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagaimana Komitmen Pemkot Bekasi Mempermudah Izin Usaha?
Pemkot Bekasi kini menerapkan kebijakan “karpet merah” bagi pelaku usaha mikro. Birokrasi yang sebelumnya memakan waktu berhari-hari kini dipangkas drastis demi memacu perputaran ekonomi daerah, mengingat UMKM merupakan tulang punggung Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terbukti tangguh.
”Kalau dokumennya lengkap, perizinan bisa selesai satu hari, bahkan hitungan jam. Kami tidak ingin mempersulit atau menghambat orang berusaha, karena itu justru akan berdampak pada pendapatan masyarakat dan daerah,” tegas Harris Bobihoe kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com saat meninjau operasional kembali Rumah Makan Sambel Hejo Sambel Dadak (SHSD) pasca-kebakaran, Sabtu (17/01/2026).
Peninjauan di lokasi kuliner tersebut menjadi simbol pentingnya kehadiran pemerintah dalam memfasilitasi kebangkitan pelaku usaha yang sempat terpuruk akibat musibah, baik melalui regulasi maupun akses permodalan.
Apa Strategi Agar Produk UMKM Bekasi Tembus Ekspor?
Selain kecepatan perizinan, Harris menyoroti kelemahan mendasar produk lokal Bekasi yang seringkali bukan terletak pada rasa, melainkan visual. Pemkot Bekasi kini menggeser fokus pembinaan pada kualitas akhir produk, khususnya pengemasan (packaging).
Menurut Harris, tampilan visual yang kurang menjual sering menjadi penghambat produk lokal bersaing di etalase global.
Oleh karena itu, pendampingan teknis akan diintensifkan pada aspek estetika dan standarisasi kemasan.
”Kita bantu bagaimana mereka mengolah, lalu mengemas produknya dengan baik. Kalau sudah rapi dan layak, peluang untuk berkembang sampai ekspor itu terbuka,” ujar Harris.
Bagaimana Konsep Sport City Menggantikan Wisata Alam?
Menyadari keterbatasan bentang alam Kota Bekasi yang tidak memiliki pegunungan atau laut, Pemkot Bekasi mematangkan strategi alternatif.
Konsep Sport City dan wisata kuliner didorong menjadi magnet ekonomi baru untuk menarik pendatang.
Untuk merealisasikan hal ini, kolaborasi lintas sektor digalang secara masif. Dinas Koperasi dan UMKM digandeng untuk bekerja sama dengan sektor swasta melalui dana Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR).
Skema ini juga disiapkan sebagai jaring pengaman (safety net) dan kredit lunak bagi UMKM yang terdampak bencana agar segera bangkit. Pemkot Bekasi menyadari bahwa penggerak ekonomi kota tidak bisa hanya bertumpu pada industri manufaktur besar, tetapi juga pada ketahanan ribuan pelaku UMKM.
Komitmen Harris Bobihoe ini diharapkan menjadi angin segar bagi ribuan pelaku usaha di Kota Bekasi untuk segera melegalkan usahanya. Kemudahan perizinan adalah kunci awal kesejahteraan masyarakat.
Punya usaha tapi belum memiliki izin? Segera urus Nomor Induk Berusaha (NIB) Anda sekarang juga melalui layanan terpadu Pemkot Bekasi.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








































