BEKASI – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kota Bekasi menyoroti lonjakan harga komoditas pangan yang terjadi di sejumlah pasar tradisional jelang akhir tahun 2025. Salah satu sorotan utama tertuju pada kenaikan harga cabai yang dinilai cukup signifikan.
Berdasarkan pantauan lapangan, harga cabai, khususnya jenis Cabai Rawit Merah, di wilayah Kota Bekasi diprakirakan telah menyentuh kisaran Rp 70.000 hingga tembus angka fantastis Rp 120.000 per kilogram.
Disdagperin menilai, selain faktor cuaca, tingginya permintaan untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut menjadi faktor pendorong kenaikan harga tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Program MBG Dongkrak Permintaan Bumbu Dapur
Analis Perdagangan pada Disdagperin Kota Bekasi, Eko Wijatmiko, menjelaskan bahwa hukum pasar supply and demand sedang terjadi saat ini.
Permintaan bahan pokok, terutama bumbu dapur seperti cabai rawit merah, mengalami lonjakan drastis di tengah masyarakat seiring berjalannya program pemerintah tersebut.
“Adanya kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG) saat ini secara otomatis menambah volume permintaan pasar. Untuk kebutuhan tambahan bumbu dapur dalam skala besar, pasti penggunaan cabai sangat dibutuhkan,” ungkap Eko kepada Jurnalis rakyatbekasi.com, Minggu (14/12/2025).
Eko menambahkan, dalam skala makro, kebutuhan pasokan bumbu dapur untuk dapur-dapur umum penyedia MBG sangat dimungkinkan memicu kenaikan harga bahan pokok di pasaran.
”Lantaran permintaan tinggi, baik pembelian di pasar tradisional yang ada di Kota Bekasi maupun langsung ke Pasar Induk, hal ini pastikan berpengaruh signifikan terhadap ketersediaan atau supply bahan pokok bagi konsumen rumah tangga biasa,” imbuhnya.
Cuaca Ekstrem dan Perubahan Pola Tanam Petani
Selain faktor permintaan yang tinggi dari program MBG, Eko juga menegaskan bahwa kendala cuaca ekstrem masih menjadi momok utama dalam rantai distribusi pangan. Faktor ini menjadi alasan kuat mengapa harga cabai rawit merah di Kota Bekasi sulit turun.
Kombinasi antara tingginya permintaan dan biaya ongkos kirim (distribusi) dari wilayah pemasok yang membengkak, turut memperparah situasi. Kelangkaan pasokan dari daerah penghasil membuat harga melambung di tingkat pedagang eceran.
”Kenaikan ini juga dipicu oleh kelangkaan dari wilayah pemasok. Kondisi cuaca yang tidak menentu membuat banyak petani beralih menanam komoditas yang lebih tahan banting dan tidak mudah busuk, seperti Cabai Rawit Hijau, daripada memaksakan menanam Rawit Merah yang riskan gagal panen,” jelas Eko.
Fluktuasi Harga di Berbagai Pasar
Disdagperin mencatat bahwa fluktuasi kenaikan harga cabai rawit merah dan cabai merah keriting berbeda-beda di setiap pasar di Kota Bekasi. Hal ini disebabkan oleh rantai distribusi yang panjang.
”Biasanya para pedagang pasar membeli bahan secara eceran atau sudah melalui tangan kedua dan ketiga (agen), bukan langsung dari tengkulak besar, sehingga harganya sudah tinggi saat sampai ke konsumen,” ujarnya.
Eko juga menyoroti perilaku konsumen di Kota Bekasi yang masih sangat bergantung pada cabai segar dan belum terbiasa beralih ke alternatif lain.
”Masyarakat kita, khususnya di Bekasi, masih sulit beralih dari cabai segar ke cabai kering atau bubuk. Ini agak riskan, apalagi momentum akhir tahun biasanya permintaan makin tinggi. Jika dibarengi kelangkaan bahan, harga pokok pasti menjadi mahal,” pungkasnya.
Data Harga Pangan Nasional
Sementara itu, merujuk pada laporan Harga Pangan Nasional melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), tren kenaikan harga memang terlihat nyata.
Per tanggal Minggu (14/12/2025), kisaran harga cabai rawit merah di pasar-pasar utama Kota Bekasi, seperti Pasar Kranji dan Pasar Pondok Gede, telah menembus angka Rp 90.000 per kilogram. Angka ini naik dibandingkan data per (04/12/2025) lalu, di mana harga masih berada di kisaran Rp 85.000 per kilogram.
Masyarakat diimbau untuk bijak dalam berbelanja dan mulai mempertimbangkan alternatif olahan cabai guna menyiasati lonjakan harga yang diprediksi masih akan berfluktuasi hingga pergantian tahun.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







































