Poin Utama:
- Hujan deras intensitas tinggi memicu longsor di tebing pembatas Komplek Pinewood, RW 18, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih.
- DBMSDA Kota Bekasi menetapkan kawasan selatan, meliputi Rawalumbu, Pondokmelati, dan Jatiasih, sebagai zona rawan longsor.
- Perbedaan kontur tanah yang ekstrem antara area perkampungan dan perumahan menjadi faktor pemicu utama pergeseran tanah.
- Tim Unit Reaksi Cepat (URC), UPTD, dan alat berat disiagakan penuh oleh Pemkot Bekasi untuk penanganan darurat.
Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi resmi membunyikan alarm kewaspadaan terkait ancaman tanah longsor yang mengintai sejumlah wilayah di selatan Bekasi.
Tingginya curah hujan yang mengguyur Kota Bekasi belakangan ini telah memicu pergeseran tanah yang serius.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal ini terbukti dari insiden ambrolnya tebing penahan tanah di Komplek Pinewood, RW 18, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih pada Rabu (15/04/2026) lalu.
Menghadapi cuaca ekstrem ini, Pemkot Bekasi kini menyiagakan pasukan darurat guna merespons cepat potensi bencana susulan.
Mengapa Wilayah Selatan Kota Bekasi Rawan Terjadi Tanah Longsor?
Kawasan selatan Kota Bekasi memiliki topografi yang berisiko tinggi karena perbedaan kontur tanah yang tajam antara perumahan dan perkampungan warga.
Kondisi tanah yang curam ini kerap kali tidak mampu menahan tekanan air yang besar, sehingga membuat tebing-tebing pembatas rentan tergerus saat curah hujan melonjak drastis.
Insiden ambrolnya tebing sepanjang 5 hingga 10 meter di Kelurahan Jatisari menjadi bukti nyata rapuhnya kontur tanah di wilayah tersebut.
”Lantaran beberapa wilayah tersebut memiliki perbedaan kontur tanah antara perkampungan dan perumahan, biasanya memang rawan. Sedangkan mengenai daerah utara aman, dikarenakan tanahnya tinggi,” kata Kepala DBMSDA Kota Bekasi Idi Sutanto kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com melalui keterangannya, Kamis (16/04/2026).
Daerah Mana Saja di Kota Bekasi yang Paling Rentan Longsor?
Berdasarkan pemetaan visual dan struktural yang dilakukan oleh DBMSDA, zona merah kerawanan pergeseran tanah terpusat di area selatan Kota Bekasi.
Masyarakat yang bermukim di daerah bertebing atau perbatasan perumahan dan perkampungan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama pada tiga titik krusial berikut:
- Kecamatan Jatiasih
- Kecamatan Rawalumbu
- Kecamatan Pondokmelati
”Karena beda tingginya drastis, begitu hujannya deras menjadi sangat rawan longsor. Wilayah selatan ini perlu kita antisipasi ekstra karena banyak perbedaan elevasi antara kampung dan perumahan,” kata Idi.
Bagaimana Langkah Antisipasi Pemkot Bekasi Menghadapi Ancaman Longsor?
Sebagai bentuk antisipasi, Pemkot Bekasi melalui DBMSDA mengklaim telah menyiapkan skema mitigasi bencana yang komprehensif.
Infrastruktur penanganan bencana, mulai dari penyiagaan armada alat berat hingga penerjunan Tim URC dan UPTD, telah disiapkan untuk melakukan pembenahan konstruksi yang rusak akibat tergerus air hujan.
”Begitu ada keluhan atau potensi longsor, langsung kita tangani untuk pencegahan biar tidak meluas. Apabila ada potensi longsor, kita tangani duluan secara darurat,” pungkasnya.
Bencana alam memang sulit diprediksi, namun mitigasi serta kepedulian lingkungan adalah kunci utama untuk meminimalisir kerugian materi maupun menghindari timbulnya korban jiwa.
Warga Kota Bekasi diharapkan segera melapor kepada pihak berwenang di kelurahan atau kecamatan setempat apabila menemukan retakan tanah atau pergeseran struktur bangunan di sekitar tempat tinggal.
Tetap update informasi terkini seputar kebijakan Pemkot Bekasi, dinamika politik, dan layanan publik lainnya hanya di RakyatBekasi.Com – Beyond Your Local News. Jangan lupa bagikan artikel ini untuk menyebarkan kewaspadaan, dan tinggalkan opini Anda di kolom komentar!
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















