BEKASI — Raungan suara sirene memecah keheningan pagi di halaman Madrasah Aliyah (MA) Nurul Huda, Desa Cijengkol, Kecamatan Setu. Namun, kepanikan yang biasanya menyertai suara tersebut tidak terlihat. Yang tampak justru antusiasme dan disiplin tinggi dari ratusan siswa yang tengah mengikuti sebuah pembelajaran vital: simulasi mitigasi kebakaran.
Pada momen tersebut, area madrasah bertransformasi menjadi laboratorium keselamatan nyata. Bekerja sama dengan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bogor, pihak sekolah menginisiasi program ini sebagai langkah preventif untuk melindungi seluruh warga sekolah dari ancaman si jago merah.
Pentingnya Edukasi Mitigasi Bencana di Sekolah
Kegiatan ini dirancang secara sistematis untuk menanamkan budaya Safety Awareness (kesadaran keselamatan). Mengingat risiko kebakaran bisa terjadi kapan saja—baik akibat korsleting listrik maupun kelalaian manusia—bekal pengetahuan teknis menjadi hal yang mutlak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Madrasah MA Nurul Huda, Sopyan Hadi, menegaskan bahwa institusi pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk menjamin keselamatan warganya. Menurutnya, kesiapsiagaan tidak boleh menunggu hingga bencana benar-benar terjadi.
“Melalui simulasi ini, kami ingin menanamkan kesadaran bahwa keselamatan adalah bagian integral dari pembelajaran. Peserta didik perlu dibekali keterampilan dasar agar mampu bersikap tenang, tidak panik, dan mengambil keputusan tepat ketika menghadapi situasi darurat,” ujar Sopyan Hadi di sela-sela kegiatan.
Sopyan menambahkan, kolaborasi dengan Damkar Kabupaten Bogor merupakan langkah strategis. Hal ini memastikan materi yang diterima siswa, mulai dari teori segitiga api hingga teknik pemadaman, disampaikan langsung oleh para ahli yang kompeten di bidangnya.
Praktik Langsung: Penggunaan APAR dan Teknik Evakuasi
Sesi pelatihan tidak hanya berhenti pada teori. Para instruktur dari Damkar memberikan demonstrasi teknis yang komprehensif. Materi mencakup pengenalan jenis-jenis api, langkah pencegahan dini, hingga praktik langsung di lapangan.
Penguasaan Alat Pemadam
Dalam sesi praktik, peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan diajarkan dua metode pemadaman:
- Metode Tradisional: Menggunakan karung goni basah untuk memutus suplai oksigen pada api kecil.
- Metode Modern: Cara menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dengan teknik PASS (Pull, Aim, Squeeze, Sweep).
Di tengah kobaran api buatan yang disiapkan di lapangan terbuka, tampak antusiasme para siswa yang bergantian mencoba memadamkan api. Di bawah pendampingan ketat petugas Damkar, mereka belajar menaklukkan rasa takut.
Salah satu peserta didik, Adinda Davitasari, mengungkapkan kesan mendalamnya. Ia mengakui bahwa pengalaman ini mengubah persepsinya tentang bahaya kebakaran.
“Awalnya saya merasa takut melihat api yang membesar, tapi setelah dijelaskan tekniknya dan dicontohkan oleh petugas, saya jadi paham apa yang harus dilakukan. Kegiatan ini sangat bermanfaat dan membuat mental kami lebih siap,” ungkap Adinda.
Membangun Generasi Tangguh Bencana
Adinda juga menilai bahwa simulasi langsung memberikan pengalaman belajar (experiential learning) yang jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar membaca teori. Hal ini membantu siswa memahami jalur evakuasi dan cara menyelamatkan diri sendiri serta orang lain tanpa memperburuk keadaan.
Melalui program simulasi mitigasi kebakaran ini, MA Nurul Huda membuktikan komitmennya dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman dan siaga. Slogan “Menyiapkan Diri Sebelum Api Datang” kini bukan sekadar kata-kata mutiara, melainkan telah menjadi ikhtiar nyata.
Dengan bekal pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan yang tepat, diharapkan seluruh warga madrasah mampu meminimalisir risiko dan kerugian jika sewaktu-waktu kondisi darurat terjadi.
Ingin mendapatkan informasi terbaru seputar kegiatan pendidikan dan layanan publik di Bekasi? Terus pantau RakyatBekasi.com untuk berita terpercaya dan aktual.
Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




































