Masa Remaja: Periode Pencarian Jati Diri yang Tak Selalu Mudah
Masa remaja merupakan salah satu fase paling kompleks dalam perjalanan kehidupan manusia. Di usia ini, berbagai pertanyaan eksistensial mulai muncul: Siapa saya? Apa yang ingin saya capai? Mengapa saya berbeda dari orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak datang dengan jawaban instan, dan perjalanan menemukannya bisa menjadi membingungkan jika dijalani tanpa pendampingan.
Di tengah dinamika perkembangan teknologi dan tekanan hidup, banyak remaja kini menavigasi masa krusial ini tanpa bimbingan emosional yang memadai dari keluarga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan karena orang tua abai, melainkan karena realitas kehidupan modern yang serba cepat kerap menyita waktu dan energi.
Orang tua bekerja dari pagi hingga malam, pulang dalam keadaan lelah, dan interaksi berkualitas dalam keluarga pun semakin langka.
Rumah: Bukan Sekadar Tempat Tinggal, Tapi Tempat Bertanya dan Diterima
Secara ideal, rumah seharusnya menjadi ruang aman bagi remaja — tempat mereka bisa bertanya, bercerita, merasa diterima, dan mendapat arahan.
Namun pada kenyataannya, banyak rumah berubah menjadi tempat sunyi, meski dipenuhi anggota keluarga.
Komunikasi yang terbangun bersifat formalitas, perhatian tersita oleh layar gawai, dan koneksi emosional menjadi renggang.
Dalam kondisi seperti ini, remaja cenderung mencari validasi dan arahan dari luar: media sosial, teman sebaya, atau figur publik di dunia maya.
Sayangnya, tidak semua sumber tersebut menawarkan pengaruh yang positif. Mereka rentan terpapar informasi yang tidak tepat, tekanan sosial, hingga konten yang dapat menyesatkan arah hidup mereka.
Minimnya Kehadiran Emosional Dapat Menimbulkan Dampak Serius
Ketiadaan kehadiran emosional dari orang tua dapat menyebabkan remaja merasa kesepian, kehilangan arah, atau bahkan meragukan keberhargaan diri mereka.
Mereka mungkin terlihat kuat secara fisik, tetapi di dalamnya bertanya-tanya: “Apakah ada yang benar-benar peduli padaku?”
Dampaknya bisa bervariasi, mulai dari penurunan kepercayaan diri, terlibat dalam pergaulan negatif, hingga mengambil keputusan besar tanpa pertimbangan matang.
Mereka berjuang menemukan jati diri, tetapi sering kali berisiko tersesat di tengah jalan.
Solusi: Membangun Hubungan yang Berkualitas Tanpa Harus Sempurna
Di tengah padatnya aktivitas, orang tua masih bisa membangun kedekatan dengan anak tanpa harus meluangkan waktu berjam-jam. Hubungan yang sehat terbangun bukan dari kuantitas, melainkan dari kualitas interaksi.
Cukup dengan pertanyaan ringan seperti “Gimana harimu?” yang disampaikan dengan perhatian penuh, atau duduk bersama tanpa gadget sambil berbagi cerita.
Remaja tak butuh orang tua yang sempurna—mereka hanya butuh orang tua yang hadir, yang mendengarkan, dan yang terbuka untuk belajar bersama mereka.
“Kehadiran emosional bukan tentang seberapa sering kita ada di rumah, tapi seberapa sering kita benar-benar hadir dalam hidup anak,” tulis psikolog keluarga dalam jurnal Parenting Today.
Keluarga Tetap Jadi Kompas Saat Remaja Menentukan Arah
Remaja memang harus belajar mandiri dan menghadapi tantangan hidup. Namun, kehadiran keluarga—terutama secara emosional—tetap menjadi penunjuk jalan utama.
Di masa-masa rawan saat mereka mencari jati diri, dukungan keluarga memberi rasa aman dan tempat untuk kembali.
Keluarga bukan harus selalu hadir secara fisik, tapi konsistensi dalam memberi kasih sayang, perhatian, dan pengertianlah yang menjadikan rumah sebagai tempat pulang yang sesungguhnya.
Karena sekuat-kuatnya remaja hari ini, mereka tetap membutuhkan rumah — tempat di mana mereka merasa cukup, diterima, dan dicintai apa adanya.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
Penulis : Resta Zafriya Kartika [Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Akuntansi S1]
Editor : Bung Ewox







































