Revitalisasi Sumpah Pemuda 1928 untuk Bela Negara

- Jurnalis

Sabtu, 29 Oktober 2022 - 10:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa merupakan iron stock yang sedang menjalani tempaan untuk menjadi otot pengetahuan yang berkualitas dan bermoral serta mampu memajukan bangsa dan negara.

Pemahaman pengetahuan kebelanegaraan kepada mahasiswa merupakan bagian dari upaya pewarisan nilai patriotisme yang sangat penting sebagai bekal menghadapi kompleksitas masa depan.

Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III bersama Pusdiklat Bela Negara Kemhan RI memberikan Pembekalan dan Implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Bela Negara bagi Mahasiswa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebanyak 46 perguruan tinggi mengikuti kegiatan tersebut secara marathon dan lintas universitas. Berawal di Universitas Bina Sarana Informatika, Universitas Budi Luhur, Universitas Esa Unggul, berakhir dan ditutup di Universitas Gunadharma yang kemudian dirangkaikan dengan upacara peringatan hari Sumpah Pemuda.

Spirit dari kegiatan tersebut adalah memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang pentingnya bela negara dan aspek-aspek lain khususnya terkait mental dan karakter dalam membangun kecintaan kepada NKRI.

Pendidikan bela negara diberikan untuk meningkatkan kualitas dan daya juang sebagai bangsa. Pendidikan bela negara yang diberikan kepada mahasiswa kali ini menjadi golden time di tengah tantangan kebangsaan kita yang penuh dinamika.

Toksik-toksik sosial dan politik yang membelenggu dan membelah bangsa diharapkan mampu diminimalisir. Kita mengharapkan semangat kebangsaan dan kemampuan  untuk berbuat yang terbaik menjadi harapan yang disematkan kepada mahasiswa sebagai generasi yang siap menghadapi dan mengatasi problema kebangsaan kita hari ini dan dimasa depan.

Melalui pendidikan bela negara, kita ingin menghilangkan tujuh ciri manusia Indonesia yang bermuatan negatif, seperti yang pernah diungkapkan oleh Mochtar Lubis, yaitu: (1) hipokrit, (2) enggan bertanggungjawab atas perbuatannya, kelakuannya, dan sebagainya, (3) berjiwa feodal, (4) percaya takhyul, (5) artistik, (6) berwatak lemah, dan (7) ciri lainnya: tidak hemat, lebih suka tidak bekerja keras (kecuali terpaksa), kurang sabar, cepat cemburu dan dengki terhadap orang yang dilihatnya lebih darinya, gampang senang dan bangga pada yang hampa-hampa, manusia-sok, tukang tiru, cenderung bermalas-malasan, cukup logis, masih lemah dalam mengaitkan antara sebab dan akibat, mesra dalam hubungan antar manusia, ikatan kekeluargaan yang mesra, berhati lembut, suka damai, punya rasa humor yang cukup baik, cepat belajar. (Lubis, 2013).

Beberapa dekade kemudian, Imam Ratrioso, mengemukakan delapan profil manusia Indonesia pasca-reformasi, yaitu (1) semakin mementingkan diri sendiri, (2) kemauan belajar yang rendah, (3) semakin agresif, (4) melunturnya kesadaran ke-Indonesia-an, (5) nafsu materialisme yang semakin sempurna, (6) kepasrahan yang tetap tinggi, (7) tetap mudah memaafkan, dan (8) tahan menderita. (Ratrioso,2015).

Watak-watak negatif tersebut di atas, tentu tidak menguntungkan dalam pembangunan karakter bangsa dan harus segera dihilangkan dari tata laku warga negara Indonesia.

Kaum muda/mahasiswa adalah kunci keberlangsungan NKRI sehingga harus siap dan mampu mengimplementasikan nilai-nilai bela negara sebagai landasan mental kejuangan menghadapi situasi apapun yang terjadi dimasa depan.

Usia muda  selalu identik dengan idealisme dan perjuangan. Tentang usia muda, kita perlu menyimak apa yang pernah dikatakan oleh proklamator kita Soekarno, ”Kalau pemuda sudah berumur 21-22 tahun sama sekali tidak berjuang, tak bercita-cita, tak bergiat untuk tanah air dan bangsa, pemuda begini baiknya digunduli saja kepalanya”.

Semoga kaum muda kita, benar-benar dapat menjadi pilar negara di masa depan.

Oleh: Kolonel Andi Muh Darlis. [Widyaiswara Madya-Pusdiklat Bela Negara Kemhan RI]


Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

​Awas Meledak! ‘Bom Waktu’ Perlawanan Kaum Muda Terhadap Tirani Oligarki
Kritik Tajam! Geopolitik Prabowo Rentan Disetir Oligarki Ekonomi
​Struktur Korup, Syahrul E Dasopang Kritik Penumpukan Aset Ormas Islam
Umat Islam Dominan tapi Didominasi, Ada Apa dengan Ormas?
Perang Iran Merupakan Katalis Bagi Israel Menuju Pax Judaika dan Dinamikanya bagi Indonesia
Abdul Mu’ti Didesak Lepas Jabatan Sekum Muhammadiyah Sebelum Muktamar Digelar
LBH Fraksi ’98: Filsafat Hukum Pancasila Harus Responsif Era AI!
Mengungkap Fakta Gaji Guru Honorer dan Misteri Transparansi Dana BOS: Keadilan atau Sandera?
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 19:47 WIB

​Awas Meledak! ‘Bom Waktu’ Perlawanan Kaum Muda Terhadap Tirani Oligarki

Senin, 22 Juni 2026 - 21:49 WIB

Kritik Tajam! Geopolitik Prabowo Rentan Disetir Oligarki Ekonomi

Kamis, 18 Juni 2026 - 14:17 WIB

​Struktur Korup, Syahrul E Dasopang Kritik Penumpukan Aset Ormas Islam

Senin, 15 Juni 2026 - 19:59 WIB

Umat Islam Dominan tapi Didominasi, Ada Apa dengan Ormas?

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:49 WIB

Perang Iran Merupakan Katalis Bagi Israel Menuju Pax Judaika dan Dinamikanya bagi Indonesia

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x