Target Investasi Rp14,6 Triliun Meleset, Moratorium Untungkan Pemain Lama?

- Jurnalis

Selasa, 20 Januari 2026 - 10:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Poin Utama:

  • Target vs Realisasi: Target investasi Rp14,6 triliun diprediksi tidak tercapai, dengan proyeksi realisasi hanya berkisar Rp12–14 triliun.
  • Penyebab Utama: Kebijakan moratorium (penghentian sementara) izin minimarket dan menara telekomunikasi menghambat masuknya modal baru.
  • Dampak Ekonomi: Hilangnya potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) baru dan terhambatnya penyerapan tenaga kerja lokal.

​Target investasi Kota Bekasi tahun 2025 sebesar Rp14,6 triliun dipastikan sulit tercapai menyusul kebijakan moratorium perizinan yang diberlakukan pemerintah daerah.

Kebijakan ini dinilai memicu paradoks ekonomi; di satu sisi bertujuan menata kota, namun di sisi lain justru menciptakan iklim kompetisi yang mandek dan menguntungkan pemain lama.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Mengapa Target Investasi Kota Bekasi 2025 Sulit Tercapai?

​Data dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bekasi menunjukkan perlambatan signifikan pada arus modal masuk hingga triwulan ketiga.

Kebijakan moratorium, khususnya pada sektor ritel modern (minimarket) dan menara telekomunikasi, menjadi sumbatan utama bagi investor baru yang hendak menanamkan modalnya di Kota Patriot.

​”Kalau melihat proyeksi saat ini, kemungkinan besar target tidak tercapai penuh,” kata Kepala DPMPTSP Kota Bekasi, Priadi Santoso kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com saat ditemui di kantornya, Senin (19/1/2026).

​Priadi menambahkan bahwa realisasi akhir tahun diproyeksikan hanya akan menyentuh angka Rp12 hingga Rp14 triliun.

Angka ini masih jauh dari target optimistis yang ditetapkan sebelumnya, mengingat keran izin untuk sektor-sektor “gemuk” tersebut masih tertutup rapat oleh Dinas Tata Ruang (Distaru).

​Siapa yang Diuntungkan dari Kebijakan Moratorium?

​Moratorium ini secara tidak langsung menciptakan struktur pasar oligopoli yang menguntungkan pengusaha existing.

Tanpa adanya izin baru, kompetisi usaha menjadi tumpul. Berikut adalah pihak-pihak yang secara faktual diuntungkan dari situasi ini:

  • Jaringan Minimarket Lama: Gerai yang sudah beroperasi menikmati pangsa pasar stabil tanpa ancaman dari kompetitor baru atau ekspansi merek pesaing.
  • Operator Menara Eksisting: Pemilik menara telekomunikasi lama tidak perlu bersaing harga sewa atau meningkatkan efisiensi layanan karena posisi tawar mereka menguat akibat ketiadaan infrastruktur baru.

​Kondisi ini menciptakan situasi “pasar tertutup”. Pelaku usaha baru, termasuk investor kelas menengah yang siap masuk, terpaksa gigit jari karena terhenti di tahap perizinan, sementara pemain lama melenggang tanpa tekanan kompetisi.

​Apa Dampak Moratorium Bagi PAD dan Tenaga Kerja?

​Dampak paling nyata dirasakan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi dan masyarakat pencari kerja. Dari sisi fiskal, Pemkot Bekasi kehilangan potensi perluasan basis pajak, seperti pajak reklame, pajak penerangan jalan, dan retribusi izin mendirikan bangunan baru.

​”Yang tetap menyumbang PAD hanya usaha yang sudah ada. Sementara potensi dari calon investasi baru otomatis hilang,” tegas Priadi.

​Selain itu, sektor ketenagakerjaan mengalami stagnasi. Investasi baru sejatinya adalah motor penggerak ekonomi turunan (multiplier effect) yang mampu menyerap tenaga kerja lokal, mulai dari sektor konstruksi saat pembangunan, hingga staf operasional saat usaha berjalan.

​Tanpa pembukaan gerai atau infrastruktur baru, tidak ada lowongan kerja masif yang tercipta. Hal ini tentu bertolak belakang dengan visi misi Pemkot Bekasi dalam menekan angka pengangguran dan memberdayakan UMKM di sekitar lokasi usaha baru.

​Publik kini menanti evaluasi menyeluruh dari Pemkot Bekasi terkait efektivitas moratorium ini. Apakah kebijakan tersebut murni untuk penataan ruang, atau justru menjadi proteksi terselubung bagi segelintir pengusaha besar? Transparansi peta jalan investasi sangat dibutuhkan agar iklim usaha di Kota Bekasi kembali kompetitif.

Warga Bekasi, bagaimana pendapat Anda mengenai maraknya minimarket vs pembatasan izin ini? Sampaikan aspirasi Anda melalui kolom komentar atau kanal pengaduan resmi Pemkot Bekasi.


Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemkot Bekasi Angkut Paksa Aset Terbengkalai di Lahan Warga Tanpa Izin, Panik Pak?
Fenomena Kesehatan Mental Mengintai Gen Z Bekasi: Antara Tekanan Masa Depan dan Jebakan Diagnosis AI
Harga Sapi Impor Melambung, Pedagang Daging Bekasi Pilih Mogok Tiga Hari
Alamak! Dishub Perpanjang Masa ‘Shut Down’ Layanan Uji KIR Kota Bekasi
Wali Kota Bekasi Larang ASN Nikah Siri dan Selingkuh
Wali Kota Bekasi Dorong Percepatan Pencairan Dana Rp100 Juta per RW Pasca Audit BPK
FOPERA Endus Potensi Kerugian Negara di RSUD CAM Kota Bekasi
Tanggul Citarum Jebol Rendam Ribuan Rumah di Muara Gembong Bekasi

Berita Terkait

Rabu, 21 Januari 2026 - 20:26 WIB

Pemkot Bekasi Angkut Paksa Aset Terbengkalai di Lahan Warga Tanpa Izin, Panik Pak?

Rabu, 21 Januari 2026 - 18:17 WIB

Fenomena Kesehatan Mental Mengintai Gen Z Bekasi: Antara Tekanan Masa Depan dan Jebakan Diagnosis AI

Rabu, 21 Januari 2026 - 17:28 WIB

Harga Sapi Impor Melambung, Pedagang Daging Bekasi Pilih Mogok Tiga Hari

Rabu, 21 Januari 2026 - 14:42 WIB

Alamak! Dishub Perpanjang Masa ‘Shut Down’ Layanan Uji KIR Kota Bekasi

Rabu, 21 Januari 2026 - 13:58 WIB

Wali Kota Bekasi Larang ASN Nikah Siri dan Selingkuh

Berita Terbaru

Tangkapan layar Surat Edaran Nomor 800.1.5/219/BKPSDM.PKA tertanggal 19 Januari 2026.

Bekasi

Wali Kota Bekasi Larang ASN Nikah Siri dan Selingkuh

Rabu, 21 Jan 2026 - 13:58 WIB

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca