Poin Utama:
- Tokoh adat Papua, Yasinta Moiwend alias Mama Sinta (62), resmi melaporkan pembuat film dokumenter Pesta Babi ke Polda Metro Jaya pada Jumat (29/5/2026).
- Pelaporan didasari atas pencatutan wajah tanpa izin dan dugaan eksploitasi personalitas oleh sutradara pembuat film.
- Mama Sinta merasa dijebak oleh oknum Lembaga Bantuan Hukum (LBH) untuk propaganda politik menolak Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua.
- Kuasa hukum menuntut pemutaran film segera dihentikan dan meminta kepolisian memproses hukum seluruh pihak yang terlibat.
Tokoh adat perempuan Suku Marind-Anim asal Merauke, Yasinta Moiwend alias Mama Sinta (62), resmi mendatangi Markas Polda Metro Jaya, Jakarta, pada Jumat (29/05/2026).
Kedatangannya bertujuan untuk melaporkan pembuat film dokumenter berjudul Pesta Babi atas dugaan eksploitasi dan pencatutan wajah tanpa izin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah hukum ini diambil dengan tegas setelah ia merasa ditipu dan dijadikan alat propaganda politik oleh oknum lembaga bantuan hukum tertentu.
Mengapa Mama Sinta Melaporkan Film Pesta Babi ke Polda Metro Jaya?
Mama Sinta melaporkan film tersebut karena merasa wajah dan identitasnya dieksploitasi secara sepihak untuk kepentingan komersial dan politik tanpa perizinan yang sah.
Didampingi kuasa hukumnya, TS Hamonangan Daulay, ia menegaskan bahwa proyek dokumenter karya antropolog Cypri Paju Dale dan jurnalis investigasi Dandhy Laksono itu telah sangat merugikannya.
“Seorang anak bangsa, berusia 62 tahun, dieksploitasi tanpa perizinan yang sah dan pengakuan yang sah dari Mama Sinta,” tegas TS Hamonangan Daulay kepada awak media di Markas Polda Metro Jaya, Jumat (29/05/2026).
Saat ini, tim kuasa hukum tengah fokus merampungkan Laporan Polisi (LP) terkait eksploitasi personalitas.
Hamonangan menambahkan bahwa detail lengkap laporan akan dibuka secara gamblang kepada publik setelah Surat Tanda Penerimaan Laporan (STTPL) resmi diterbitkan oleh pihak kepolisian.
Bagaimana Kronologi Tokoh Adat Papua Ini Merasa Dijebak?
Dugaan penipuan ini bermula pada 8 April 2026 ketika Mama Sinta diajak oleh seorang pria bernama Tigor ke Susteran Maranatha-Waena, Jayapura.
Dengan kepolosannya sebagai masyarakat adat, ia mengira undangan tersebut adalah untuk menghadiri acara tradisi potong babi sungguhan.
”Yang ajak saya ke Jayapura untuk kegiatan itu Bang Tigor. Saat itu saya tahunya mau potong babi betulan, ternyata saat kita naik ke Susteran Maranatha yang diputar film Pesta Babi,” beber Mama Sinta.
Ia mengaku syok berat bagai disambar petir saat melihat wajahnya sendiri terpampang di layar lebar tanpa pernah ada konfirmasi sebelumnya.
Merasa sakit hati dan kecewa, ia mendesak aparat penegak hukum untuk segera menghentikan pemutaran dokumenter tersebut dan memproses siapa pun yang nekat memutarnya.
Benarkah Ada Unsur Propaganda Tolak PSN Papua di Balik Film Ini?
Selain masalah pencatutan wajah, Mama Sinta turut membongkar siasat oknum Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Pusaka yang menyeretnya ke dalam pusaran politik praktis.
Ia mengaku sengaja dimanfaatkan untuk menyuarakan narasi negatif dan penolakan terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) lumbung pangan di Papua.
”Akhirnya saya sudah terlanjur viral di mana-mana sampai mereka buat film Pesta Babi tanpa izin. Itu yang saya kecewa sekali sekarang dengan mereka LBH,” aku Mama Sinta.
Berikut adalah sejumlah fakta dugaan eksploitasi yang dialami Mama Sinta selama didampingi oknum LBH tersebut:
- Diombang-ambingkan selama enam bulan dari Papua, Makassar, hingga Jakarta.
- Hanya diberikan honor atau ‘uang duduk’ sebesar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta.
- Kondisi ekonomi aslinya di kampung halaman sangat memprihatinkan, terbukti dari kondisi dapurnya yang rusak hingga harus memasak memakai kayu bakar.
Sadar telah menjadi korban akal-akalan demi konten propaganda, Mama Sinta kini menyatakan keluar dari lingkaran oknum LBH tersebut dan meminta maaf kepada pemerintah.
Ia kini memilih mendukung penuh program pembangunan yang digagas Presiden Prabowo Subianto demi kesejahteraan masyarakat dan keluarganya secara nyata.
Kasus eksploitasi yang menimpa masyarakat adat ini menjadi peringatan keras bagi para pembuat konten dokumenter agar lebih mematuhi etika jurnalistik dan izin produksi.
Terus pantau perkembangan kasus pelaporan film Pesta Babi ini hanya di RakyatBekasi.Com. Jangan lupa bagikan artikel ini ke kerabat Anda dan berikan tanggapan kritis di kolom komentar!
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







