Bakar Uang Rakyat Rp3,6 Juta per Episode: Podcast Sepi Peminat, Minim Manfaat

- Jurnalis

Kamis, 20 November 2025 - 07:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bekasi – Menjelang penutupan tahun anggaran 2025, transparansi penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bekasi kembali memantik diskusi hangat di tengah masyarakat. Fokus publik kini tertuju pada Sekretariat DPRD Kota Bekasi terkait alokasi dana jumbo untuk belanja jasa publikasi.

​Tercatat, anggaran sebesar Rp540 juta digelontorkan untuk program talkshow atau dialog interaktif. Program ini dirancang sebagai wadah bagi anggota dewan untuk menyampaikan gagasan dan kinerja Alat Kelengkapan Dewan (AKD).

Namun, realisasi di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan besar antara biaya yang dikeluarkan dengan efektivitas jangkauan audiens.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Realitas Program Podcast DPRD: Biaya Tinggi, Atensi Rendah

​Program yang dikemas dalam format podcast berdurasi 60 menit ini menelan biaya produksi sekitar Rp3.600.000 per episode. Secara konsep, tujuannya sangat positif, yakni sebagai sarana sosialisasi politik dan kinerja wakil rakyat kepada konstituennya.

​Akan tetapi, berdasarkan penelusuran redaksi pada Kamis (20/11/2025), performa digital dari konten-konten tersebut sangat memprihatinkan. Alih-alih menjadi viral atau setidaknya menjangkau ribuan warga Bekasi, jumlah penonton (views) di kanal YouTube terkait terbilang sangat minim.

​Analisis Data Penonton Program ‘Telusur’

​Fakta di lapangan menunjukkan angka statistik yang mengkhawatirkan, terutama mengingat konten-konten ini telah diunggah sejak tiga bulan lalu. Berikut adalah rincian data yang berhasil dihimpun:

  1. Topik Digitalisasi Pajak: Podcast bertajuk “Dorong Digitalisasi Pajak & SIM RS, Ketua DPRD Kota Bekasi: Anggaran Rakyat Harus Kembali ke Rakyat” hanya mencatatkan 179 kali penayangan.
  2. Topik RPJMD: Tayangan berjudul “RPJMD, Faisal S.E: Transformasi Digital Pajak, Kunci Optimalisasi Pendapatan Daerah!” hanya dilihat sebanyak 108 kali.
  3. Topik Bapemperda: Podcast “Bapemperda Buka-bukaan, Dariyanto: 11 Raperda, tiga Siap Jalan” mencatat angka terendah dengan hanya 81 penayangan.
  4. Topik Komisi I: Diskusi “Komisi I DPRD Soroti Program 100juta/RW, Fendaby: Rawan Celah Hukum Bila Tidak Ada Aturan Rigid” baru dilihat 102 kali.

​Pertanyaan Besar Soal Efisiensi Anggaran

​Rendahnya angka engagement ini memicu pertanyaan mendasar mengenai efisiensi penggunaan uang rakyat. Dengan biaya Rp3,6 juta per tayangan, jika sebuah video hanya ditonton 80 orang, maka biaya per penonton (cost per view) menjadi sangat mahal dan tidak efisien secara hitungan ekonomi media.

“Apakah wajar anggaran publik digunakan untuk konten yang tidak sampai ke publik? Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa program sosialisasi ini hanya sekadar formalitas administratif untuk menyerap anggaran tanpa memikirkan dampak riilnya,” ujar Ketua Komisariat GmnI Universitas BSI Dian Arba.

“Dengan engagement yang sangat rendah sama sekali, jika boleh saya sebut: Podcast ini Sepi Peminat, Minim Manfaat Bakar Uang Rakyat,” tuturnya seraya mencibir.

Situasi ini terasa semakin ironis mengingat Pemerintah Kota Bekasi saat ini sedang melakukan efisiensi ketat menyusul adanya pemotongan dana transfer daerah beberapa waktu lalu. Pemborosan di satu sektor akan sangat melukai rasa keadilan masyarakat.

​Urgensi Evaluasi Menyeluruh dan Transparansi

​Temuan ini harus menjadi “alarm peringatan” bagi Sekretariat DPRD Kota Bekasi. Evaluasi tidak boleh hanya sekadar wacana, melainkan harus menyentuh akar permasalahan dalam pengelolaan kemitraan media.

​Ada tiga poin krusial yang harus segera dibenahi oleh pemangku kebijakan:

​1. Seleksi Media Partner yang Ketat

​Bagaimana kriteria pemilihan pihak ketiga atau media yang memproduksi konten ini? Apakah mereka memiliki basis massa yang jelas? Pemilihan mitra harus didasarkan pada data jangkauan audiens (demografi dan jumlah pengikut), bukan sekadar kedekatan personal.

​2. Penetapan KPI yang Jelas

​Setiap rupiah dari APBD harus memiliki indikator keberhasilan (Key Performance Indicator/KPI). Untuk belanja publikasi, KPI seharusnya mencakup target views, share, dan interaksi. Tanpa target, anggaran ini menjadi “cek kosong” tanpa pertanggungjawaban hasil.

​3. Akuntabilitas Anggaran

​Jika program terbukti tidak efektif menjangkau masyarakat, harus ada mekanisme pertanggungjawaban. Publik berhak tahu kemana arah uang pajak mereka mengalir dan apa manfaat yang mereka dapatkan.

​Kesimpulan

​Publikasi kinerja dewan adalah hal penting dalam demokrasi, namun metodenya harus cerdas dan tepat sasaran. Di era digital, konten mahal dengan penonton sedikit adalah indikator kegagalan strategi komunikasi. Masyarakat menanti langkah konkret DPRD Kota Bekasi untuk memperbaiki tata kelola anggaran publikasi ini agar lebih berdaya guna.

Ingin terus mendapatkan update terkini mengenai transparansi anggaran di Kota Bekasi? Ikuti terus berita terbaru kami dan bagikan artikel ini agar lebih banyak masyarakat yang peduli pada pengawasan uang rakyat.


Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sok Jago Bekingi Distributor Obat Keras Tipe G di Jatisampurna, Oknum Wartawan Dilibas!
400 Bank Sampah Bekasi Mati Suri, Dana Rp 100 Juta per RW Sia-Sia?
Rp 100 Juta Kurang? Pemkot Bekasi Kaji Kenaikan Dana Hibah per RW Jadi Rp 150 Juta
Wali Kota Bekasi Jamin Dana Hibah Rp100 Juta per RW Tetap Cair Meski Audit BPK Belum Rampung
Layanan Jemput Bola 24 Jam! Gebrakan Pelayanan Publik Prima Camat Mustikajaya
Gali Potensi PAD, Bapenda Kota Bekasi Bidik Pajak Hiburan Arena Olahraga
Trauma Tragedi Cimuning: Warga Desak Wali Kota Bekasi Audit SPBE Mustikasari yang Diduga Tanpa SLF
Amankan 371 Ha Aset TKD, Pemkot Bekasi Tunggu Tanda Tangan KDM

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 14:55 WIB

Sok Jago Bekingi Distributor Obat Keras Tipe G di Jatisampurna, Oknum Wartawan Dilibas!

Jumat, 24 April 2026 - 13:04 WIB

400 Bank Sampah Bekasi Mati Suri, Dana Rp 100 Juta per RW Sia-Sia?

Jumat, 24 April 2026 - 11:32 WIB

Rp 100 Juta Kurang? Pemkot Bekasi Kaji Kenaikan Dana Hibah per RW Jadi Rp 150 Juta

Jumat, 24 April 2026 - 11:04 WIB

Wali Kota Bekasi Jamin Dana Hibah Rp100 Juta per RW Tetap Cair Meski Audit BPK Belum Rampung

Kamis, 23 April 2026 - 23:54 WIB

Layanan Jemput Bola 24 Jam! Gebrakan Pelayanan Publik Prima Camat Mustikajaya

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca