Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengumumkan rencana peluncuran program strategis pengolahan sampah menjadi energi, atau yang lebih dikenal sebagai Waste to Energy (WTE), pada Oktober 2025.
Proyek ini dirancang sebagai solusi komprehensif untuk mengatasi masalah sampah perkotaan sekaligus mendukung transisi energi bersih di Indonesia.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan sebuah langkah kolaboratif berskala nasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Proyek ini akan melibatkan sinergi antara pemerintah daerah, kementerian kunci, BUMN, dan sektor swasta.
”Insya Allah, kami menargetkan untuk meluncurkan program ini pada akhir bulan Oktober,” ujar Rosan Roeslani dalam konferensi pers di gedung Wisma Danantara, Jakarta, pada hari Selasa (30/09/2025).
Skema Kolaborasi dan Transparansi Proyek
Rosan menjelaskan bahwa keberhasilan proyek WTE ini sangat bergantung pada kerja sama yang solid dari berbagai pihak.
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) akan berperan dalam koordinasi dengan pemerintah daerah, sementara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan memastikan seluruh proses sejalan dengan standar lingkungan yang berlaku.
”PLN juga menjadi mitra kunci sebagai offtaker (pembeli) energi listrik yang dihasilkan. Kami juga membuka pintu seluas-luasnya bagi perusahaan swasta yang ingin terlibat,” tambahnya.
Untuk menjamin akuntabilitas, Rosan menegaskan bahwa seluruh proses pengadaan dan pemilihan mitra akan dilakukan secara transparan melalui mekanisme tender yang terbuka untuk umum.
Tahap Awal dan Lokasi Prioritas
Proyek ambisius ini direncanakan akan mencakup total 33 kota di seluruh Indonesia. Namun, untuk tahap awal, implementasi akan difokuskan di tujuh daerah dengan volume sampah yang signifikan dan kesiapan infrastruktur yang memadai.
Tujuh Daerah Percontohan
Berikut adalah daftar kota yang menjadi prioritas pada fase pertama:
- DKI Jakarta
- Bandung
- Semarang
- Yogyakarta
- Denpasar (Bali)
- Bekasi
- Tangerang
”Fokus utama kami pada tahap awal adalah Jakarta. Di Jakarta sendiri, kami merencanakan akan ada 4 hingga 5 lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) untuk menangani volume sampah ibu kota yang masif,” ucap Rosan.
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan
Proyek WTE ini tidak hanya menawarkan solusi pengelolaan sampah, tetapi juga memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan bagi pemerintah daerah dan masyarakat.
Salah satu terobosan utamanya adalah penghapusan tipping fee, yaitu biaya yang sebelumnya harus dibayarkan oleh pemda kepada pihak pengelola sampah.
Dengan skema baru ini, beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dapat dialihkan untuk kebutuhan pembangunan lainnya.
Skema Tarif Listrik dan Output Energi
BPI Danantara telah menetapkan skema tarif yang kompetitif untuk listrik yang dihasilkan dari fasilitas WTE.
”Kami menetapkan tarif flat sebesar US$ 20 sen per kWh,” jelas Rosan.
Tarif tersebut berlaku untuk setiap fasilitas yang mampu mengolah 1.000 ton sampah per hari. Kapasitas pengolahan sebesar ini diperkirakan dapat menghasilkan energi listrik lebih dari 15 Megawatt (MW).
Jumlah energi tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik sekitar 20.000 rumah tangga, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menurunkan emisi gas rumah kaca.
Pihak swasta yang berminat untuk berpartisipasi dalam proyek strategis ini diundang untuk memantau pengumuman tender resmi yang akan dirilis melalui situs web BPI Danantara.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


































